GUSDURian Brebes adakan sahur bersama Shinta Nuriyah Wahid pada Sabtu (21/02) di Brebes, bertempat di Pendopo Bupati Brebes, Jawa Tengah. Acara ini terselenggara berkat kerja sama Pemerintah Kabupaten Brebes, komunitas lintas iman, GP Ansor Brebes, dan elemen masyarakat lainnya.
Bertemakan “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, acara ini dihadiri oleh lebih dari 300 orang dari berbagai kalangan mulai kaum dhuafa, anak yatim piatu, pemuka agama dan komunitas lintas iman, tokoh budayawan, bupati dan pejabat daerah hingga masyarakat sekitar.
Acara berlangsung dengan khidmat dan dibuka dengan tari topeng Losari Brebes. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sambutan Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma, tausiyah Ibu Shinta, santap sahur, dan santunan terhadap kelompok dhuafa.
Sahur bersama merupakan agenda rutin yang dilakukan oleh Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Istri mendiang Gus Dur tersebut sudah mengadakan sahur bersama ini selama kurang lebih 26 tahun. Perempuan yang akrab disapa Ibu Sinta ini menuturkan tema sahur kali ini sangat menggambarkan dengan keadaan bangsa saat ini.
“Tema sahur kita adalah ‘Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi’. Itulah yang sedang terjadi. Kita bergulat dengan bisnis, ekonomi, dan keserakahan. Saya mengajak semua elemen untuk menjaga alam dan membaca tanda-tanda kekuasaan Allah SWT,” tuturnya.
“Dalam setiap bencana ada 3 wacana, yakni sebagai ujian, bencana, atau peringatan. Peringatan dari Allah SWT atas apa yang telah dilakukan oleh makhluk-makhluk Allah, makanya kita harus memohon kepada Tuhan atas semuanya agar apa yang kita lakukan diampuni oleh Allah SWT. Apabila ujian, kita bisa menjalani ujian dengan ketabahan,” tambahnya.
Ia menambahkan jabatan yang digunakan untuk kemaslahatan bangsa tentu sangat baik, namun begitu sebaliknya maka akan fatal akibatnya.
“Boleh kita merebutkan kursi dewan kalau digunakan untuk mengurus bangsa bukan untuk merusak bangsa,” tegasnya. Ibu Shinta juga menekankan pentingnya kesatuaan dalam berbangsa dan bernegara.
“Sejatinya kita adalah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa seperti semboyan Bhineka Tunggal Ika,” pungkasnya.
Peserta sahur Khairunisa mengatakan bahwa sahur keliling yang diadakan membuatnya merasa dekat dengan sosok keluarga Gus Dur.
“Saya merasa terharu dengan sosok Bu Shinta yang luar biasa, ia tetap produktif meski sudah pada usia senja dan termasuk kelompok disabilitas. Saya juga merasa dekat dengan Gus Dur dengan keberadaan beliau di sahur ini,” ujarnya.
Koordinator GUSDURian Brebes, Muhammad Hadziq Permadi atau yang biasa disapa Hadziq menyampaikan agenda sahur tahunan ini bersama Bu Sinta Nuriyah Wahid sangat dinanti-nantikan.
“Agenda tahun kemarin sudah buka puasa, namun seringnya sahur bersama Bu Shinta. Kami penggerak dan anggota GUSDURian sangat menantikan sahur bersama beliau kembali. Semoga beliau selalu dilimpahi kesehatan dan umur panjang dalam hidupnya, kami bersyukur dapat terus mengagendakan rutinan acara ini setiap tahun,” harapnya.








