Peristiwa

Cangkrukan Pemikiran Gus Dur Bahas Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

YOGYAKARTA – Diskusi Cangkrukan Pemikiran Gus Dur kembali digelar di Griya Gusdurian, Kamis (8/5/2026) malam. Mengusung tema besar “Gus Dur dan Pendidikan”, forum itu membahas tulisan Abdurrahman Wahid berjudul “Pembebasan melalui Pendidikan, Punya-kah Keabsahan?” Tulisan tersebut merupakan kata pengantar Gus Dur dalam buku Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan karya Paulo Freire yang diterbitkan Gramedia pada 1984.

Pertemuan yang berlangsung pukul 19.30-21.30 WIB itu menghadirkan Aulia Abdurrahman Soleh dari Sekertarian Nasional (SekNas) Jaringan GUSDURian sebagai pemateri dan dimoderatori Wiji Nurasih dari GUSDURian Yogyakarta. Acara diselenggarakan oleh GUSDURian Jogja dengan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Kristen Duta Wacana, hingga penggerak komunitas dan pegiat pendidikan. Suasana diskusi berlangsung cair dan hidup. Tanya jawab berlangsung saling bersahutan antara peserta dengan pemateri maupun antarpeserta.

Dalam pengantarnya, moderator Wiji Nurasih mengatakan, Cangkrukan Pemikiran Gus Dur dihadirkan sebagai ruang bersama untuk menggali gagasan-gagasan Gus Dur yang tersebar dalam beragam isu sosial, politik, kebudayaan, hingga pendidikan.

“Cangkrukan adalah ruang diskusi menggali gagasan-gagasan Gus Dur yang tersebar dalam berbagai isu,” ujarnya.

Aulia Abdurrahman Soleh, pria yang kerap disapa Leak, kemudian memaparkan bagaimana Gus Dur melihat pendidikan bukan sekadar alat transfer pengetahuan, melainkan jalan pembebasan manusia. Ia menjelaskan, pada masa awal kemerdekaan, guru diposisikan sebagai pengisi kemerdekaan. Namun, situasi pendidikan Indonesia selepas itu berkembang dengan berbagai persoalan mendasar.

Menurut Leak, Gus Dur menyoroti situasi pendidikan pada dekade 1970-an ketika sekolah memang mulai banyak berdiri, tetapi kualitas tenaga pengajar belum sepenuhnya terbentuk. Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan masih mewarisi pola kolonial.

“Zaman kolonial menciptakan kelas krani atau pegawai kolonial,” katanya.

Ia menambahkan, pola serupa masih dapat ditemukan pada masa setelahnya, termasuk ketika pembangunan nasional menjadi dalih utama penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan negara ketimbang membangun kesadaran kritis masyarakat.

Dalam pembacaan terhadap tulisan Gus Dur itu, Leak menyoroti istilah ‘alternatif’ yang digunakan Gus Dur dalam pendekatan pendidikan. Alternatif, menurut Gus Dur, bukan dimaknai sebagai sikap oposisi total terhadap kekuasaan, melainkan sebagai kerja sama kritis yang bertumpu pada pendekatan kultural.

“Pendekatannya kultural, jadi bukan sekadar melawan kekuasaan, tetapi arahnya pada penyadaran masyarakat,” ujar Leak.

Pendekatan tersebut, lanjut dia, berangkat dari keyakinan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan untuk membebaskan dirinya sendiri dari kemiskinan dan ketimpangan melalui modal-modal kultural yang mereka miliki. Pendidikan, dalam kerangka itu, menjadi sarana untuk mengenali diri sendiri sekaligus menentukan jalan pembebasan secara mandiri.

Dalam diskusi juga mengemuka kritik Gus Dur terhadap pendekatan politik yang terlalu menekankan perubahan sistemik dan konfrontasi kekuasaan. Sebaliknya, pendekatan kultural dinilai lebih lentur karena memberi ruang bagi perubahan gradual melalui kesadaran sosial. Pendekatan ini, meski tidak mudah dirumuskan secara teoritis, dipandang mampu membangun kesadaran yang lebih mendalam di tengah masyarakat.

Leak juga menyinggung bagaimana orientasi pendidikan hari ini masih cenderung menempatkan sekolah sebagai penyuplai kebutuhan industri.

“Pemerintah sekarang melihat pendidikan sebagai penyuplai kebutuhan industri. Semerdeka apa pun, goals-nya ke sana,” katanya.

Pernyataan itu memantik respons peserta diskusi. Sejumlah peserta menyoroti situasi guru yang dinilai belum sepenuhnya merdeka dalam menentukan arah pembelajaran. Akibatnya, pendidikan sulit melahirkan murid yang benar-benar merdeka secara berpikir maupun bertindak.

Pada bagian penutup, Leak membacakan salah satu bagian penting dari tulisan Gus Dur mengenai pendekatan kultural. Gus Dur menilai pendekatan kultural merupakan ajakan untuk menghilangkan sekat-sekat horizontal dalam masyarakat dan membangun kesadaran manusia atas dirinya sendiri secara kultural.

“Pendekatan kultural tidak akan kurang-kurang dampaknya pada pencapaian tujuan membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan dan kepapaan, jika ia digunakan secara tepat,” demikian kutipan yang dibacakan dalam forum tersebut.

Moderator Wiji Nurasih kemudian menegaskan, pola pendidikan Indonesia saat ini pada dasarnya masih mewarisi struktur lama sejak era kolonial hingga masa kemerdekaan. Perubahan yang terjadi, menurut dia, belum menyentuh persoalan mendasar tentang kemerdekaan dalam pendidikan.

“Guru dalam kondisi tidak merdeka, jadi tidak dapat memerdekakan muridnya,” ujar Wiji.

Diskusi malam itu berakhir tanpa kesimpulan tunggal. Namun, percakapan yang berlangsung selama dua jam memperlihatkan bahwa gagasan Gus Dur mengenai pendidikan sebagai jalan pembebasan masih menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman. (SDH)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian