Sosok

Gus Dur dalam Bingkai Ulama Perempuan

Dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #16 bertajuk “Manaqib Ulama Perempuan” yang disiarkan melalui GUSDURianTV dan Zoom Meeting, pembahasan tentang makna ‘ulama perempuan’ kembali diperluas. KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tidak hanya dilihat sebagai kiai dan tokoh politik, tetapi juga dibaca dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait gagasan-gagasan kemanusiaan dan keadilan gender yang ia dorong semasa hidupnya.

Diskusi ini dipandu oleh moderator Nyai Rifqiya Mufidah dan menghadirkan KH. Marzuki Wahid sebagai penutur. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 17 Mei 2026, pukul 19.00 WIB hingga selesai ini disiarkan secara langsung melalui GUSDURianTV dan diikuti sekitar 80 peserta secara daring.

Penutur diskusi, Kyai Marzuki Wahid, menegaskan sejak awal bahwa pembacaan terhadap Gus Dur tidak bisa dipersempit. Ia menyebut Gus Dur sebagai tokoh yang melampaui kategori tunggal.

“Pengetahuan umum yang kita sama-sama tahu, Gus Dur adalah tokoh multidimensi,” ujarnya dalam sesi pemaparan.

Menurutnya, multidimensi itu tampak dari peran Gus Dur sebagai ulama, budayawan, intelektual, sekaligus politisi yang aktif dalam berbagai ruang sosial. Dalam konteks itu, Kyai Marzuki kemudian mengaitkan Gus Dur dengan gagasan ‘ulama perempuan’. Ia menyatakan secara eksplisit bahwa Gus Dur dapat dipahami sebagai bagian dari lanskap tersebut.

“Saya ingin menyebut Gus Dur juga menjadi bagian dari ulama perempuan,” katanya.

Gagasan ini tidak dilepaskan dari rekam jejak pemikiran Gus Dur yang luas. Kyai Marzuki menyebut bahwa Gus Dur adalah intelektual yang bekerja dalam tradisi pesantren, tetapi juga bersentuhan dengan filsafat Barat dan kebudayaan Nusantara.

“Pemikirannya Gusdur adalah gerakan, gerakannya menjadi pemikiran,” ujarnya.

Dalam pemetaan pemikiran Gus Dur, Kyai Marzuki menempatkannya dalam tradisi keulamaan pesantren yang berakar kuat pada jaringan ulama Nusantara. Ia menegaskan bahwa Gus Dur lahir dari dua garis besar keulamaan, ayah dan ibu, yang sama-sama berkontribusi pada pembentukan tradisi intelektual dan moralnya.

Dari jalur ayah, Gus Dur terhubung dengan tradisi pembaruan dan kepemimpinan nasional, sementara dari jalur ibu ia mewarisi tradisi fikih pesantren sekaligus jejaring organisasi perempuan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Dalam kerangka ini, Kyai Marzuki menyoroti pentingnya jalur keulamaan dari pihak ibu dalam membentuk horizon pemikiran Gus Dur yang berkaitan dengan relasi sosial dan keadilan.

Lebih jauh, Kyai Marzuki menunjukkan bahwa struktur keulamaan tersebut tidak berhenti pada genealoginya, tetapi juga berlanjut dalam praksis sosial keluarga Gus Dur. Ia mencatat bahwa anak-anak Gus Dur seluruhnya adalah perempuan dan memiliki keterlibatan aktif dalam isu kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial.

“Seluruh anak-anak Gus Dur itu adalah perempuan dan semuanya aktif di isu kemanusiaan, demokrasi, isu perempuan,” ungkapnya.

Fakta ini diposisikan sebagai kesinambungan etis yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai keulamaan dalam keluarga Gus Dur beririsan dengan kerja-kerja publik yang responsif terhadap isu perempuan. Maka, diskusi ini menggeser cara memahami ‘ulama perempuan’ tidak semata sebagai kategori berbasis identitas biologis, tetapi juga pada spektrum keberpihakan, etika kemanusiaan, dan praksis keadilan yang terus dinegosiasikan dalam ruang sosial yang lebih luas. (SDH)

______

Artikel ini pernah dimuat di kupi.or.id

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian