Sastra

Ilmu Bayam Pak Kiai

Ternyata setelah diselidiki lewat beberapa kesaksian kawan-kawan serta sahabat dekatnya, memang betul Kang Wid dulunya pernah nyantri di sebuah pesantren kecil bernama “Al-Muhtadun”, di Dukuh Tambak, di pelosok barat Jawa Timur. Dan Kang Wid ini termasuk assabiqunal awwalun alias orang-orang awal yang benar-benar nyantri di situ.

Kenapa kok benar-benar nyantri? Karena budaya nyantri itu identik dengan bermukim atau tinggal di lingkup pesantren. Beraktivitas penuh di situ dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur lagi. Konon kalau tidak begitu namanya bukan nyantri, melainkan ngalong. Datangnya cuma waktu jadwal ngaji kemudian pulang setelah ngaji selesai.

Meskipun mukim dan nderek Pak Kiai, tetapi sebutan santri bagi Kang Wid sedikit kurang afdal saja. Karena ia tidak akan sungguh-sungguh merasakan lara-lapane jadi santri yang harus pisah jauh dengan orang tua dan nangis tujuh hari tujuh malam lantaran merasa tidak betah lalu esok hari memutuskan menyerah dan boyong, harus berbagi makan satu wadah dengan rebutan, mandi harus antri panjang, baju harus rela bergantian sebab semboyannya satu milik semua, harus siap sakit gigi karena sikat giginya gantian, bahkan harus siap menderita penyakit gudik kalau memang kurang beruntung. Dan … tentunya masih banyak lagi kalau semua disebutkan.

Untungnya Kang Wid adalah termasuk santri awal yang bermukim di pesantren itu, jadinya dia bisa lega karena tidak ada senior yang menjadi atasannya. Atasan Kang Wid adalah langsung Pak Kiainya sendiri. Sebuah kemewahan yang hanya bisa didapat segelintir orang yang berniat nyantri. Tapi tidak ada yang tahu apakah Kang Wid menikmati kemewahan itu atau tidak. Sebab tidak jelas raut mukanya untuk dibedakan apakah legowo atau nelongso. Entah di umur berapa Kang Wid mulai nyantri, tapi yang jelas kala itu ia sudah punya kepekaan terhadap lawan jenis yang dianggapnya cantik.

Konon dulunya pesantren tempatnya Kang Wid nyantri itu terkenal dengan nama “Pondok Pring Sewu”. Sebab sebelum berdinding tembok seperti sekarang ini, meski belum sempurna betul, dulunya pesantren itu adalah bangunan yang seluruh wujudnya adalah bambu-bambu yang disusun rapi menjadi sebuah tempat belajar ngaji alias Madin (Madrasah Diniyah). Sayang sekali ketika Kang Wid mulai nyantri, pesantren tersebut sudah berdinding tembok. Ia hanya bisa melihat wujud “Pondok Pring Sewu” melalui foto.

Pesantren itu memang baru mulai merintis jadi tak salah kalau dikatakan masih kecil. Toh, memang tujuan utama Pak Kiai hanya fokus untuk syiar agama di dusunnya saja. Tidak ada keinginan mempromosikan pesantrennya ke luar desa, apalagi kota, agar santrinya bertambah banyak. Tidak ada keinginan itu. Kang Wid pun bukan orang jauh, meski juga bukan orang asli warga dusun situ. Jarak antara tempat tinggal aslinya dengan pesantren tempatnya kini tinggal hanya 18 KM. Menurut keterangan yang didapat, karena putus sekolah SMP dan hanya tinggal bersama kakek, begitu kakeknya meninggal ia akhirnya memutuskan nyantri di situ.

Selama hampir 9 tahun, Kang Wid belajar banyak di pesantren itu. Dari belajar dasar-dasar nahwu, maknani kitab kuning, lalaran, sorogan, baca yasin-tahlil di rumah-rumah warga kampung, hingga belajar mengurus bayam. Benar. Pak Kiai memang hobi tanam-menanam. Salah satunya adalah menanam bayam. Bahkan bayam-bayam itu bisa dikatakan sebagai penghasilan pokok sehari-hari Pak Kiai. Hanya dengan bayam saja bisa cukup untuk menghidupi istri dan anaknya. Padahal luasnya tidak sampai satu hektar. Betul-betul rezeki itu min haitsu la yahtasib ...

Perlu diketahui bahwa Pak Kiai sama sekali bukan termasuk orang penting yang suka sekali berurusan dengan hal-hal kepegawaian. Padahal, beliau terpilih jadi ketua ranting. Tetapi beliau memilih hidup sewajarnya orang desa hidup. Tidak ada yang istimewa. Semua biasa-biasa saja. Tetapi justru itulah yang membuat warga kampung, termasuk Kang Wid, segan, hormat dan nyaman ngaji di situ. Belajar dengan Pak Kiai yang tidak punya kesibukan di luar. Tidak ada kepentingan birokrasi. Tidak menjadi bawahan bupati atau hal apapun saja yang membikin susah berdaulat. Tidak memilih menjadi manusia yang punya peluang untuk ngapusi hatinya rakyat. Khusus bagi Kang Wid, bahkan tidak ada yang mewah dari Pak Kiai, selain hanya bayam beliau yang selalu disiraminya tiap pagi dan sore.

Tak ayal bila Kang Wid ingin sekali mendalami lebih jauh perihal bayam Pak Kiainya itu. Makanya ia semangat sekali ketika diajak ngopeni bayam-bayam tersebut. Besar keinginannya bisa mendapatkan ilmu dari bayam tersebut. Karena memang secara intelegensi otak Kang Wid selalu kesulitan kalau diminta mengikuti kegiatan-kegiatan yang sifatnya keilmuan di pesantrennya. Sebab itulah Kang Wid ingin mendapatkan ilmu bayam Pak Kiai saja.

Tak mengapa bila ia tak pandai-pandai amat dalam hal keilmuan seperti kebanyakan ambisi yang digandrungi para pembelajar umumnya. Jadi pembelajar ambis yang kadangkala begitu sudah pandai dan menguasai banyak ilmu malah jadi orang yang kesibukan utamanya adalah ngomong. Pintar ngomong. Kebanyakan omon-omon. Kadang malah tidak konsisten dengan omongannya sendiri. Bahkan sampai PHP-in jamaah alias rakyat karena saking banyak omongnya. Tugas dan tanggung jawab sosialnya malah raib. 

Itulah mengapa Kang Wid juga ingin jadi orang yang biasa-biasa saja. Memilih untuk menggeluti ihwal bayam secara tuntas. Bagi Kang Wid itu sudah lebih dari cukup: ilmu bayam sebagai bekal untuk masa depan hidupnya. Mungkin bila dikaji dan dihubungkan dengan hal ketawadhu’an, akhlak mulia, kesungguhan, keuletan, kemandirian, kecerdasan dan keberhasilan hidup manusia, kulminasi ilmu bayam Pak Kiai tidak akan kalah perolehan nilainya dengan “multivitamin kesuksesan” yang kerap kali diobral-seminarkan dengan harga yang sudah pasti tak mungkin mampu dipenuhi Kang Wid. Orang desa seperti Kang Wid juga tidak mungkin punya uang dollar.

Cukuplah bagi Kang Wid menjadikan ilmu bayam Pak Kiai metode (tarekat) sebagai bekalnya dalam menempuh kehidupan penuh komitmen dan tanggung jawab. Kabarnya sampai hari ini Kang Wid tetap jadi orang biasa-biasa saja dengan luas kebun bayam 19 hektar. (SDH)

Penulis: Ahmad Miftahudin Thohari (Alumnus Filsafat UIN Surakarta)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian