Setiap kali mengakhiri agenda komunitas GUSDURian, ada satu momen yang hampir tidak pernah absen dokumentasi foto bersama sembari menyerukan jargon: “Gus Dur sudah meneladankan, saatnya kita melanjutkan!”
Saking seringnya diucapkan, jargon itu terekam begitu jelas dalam memori saya. Hari Sabtu (23/05/2026), saat kami mengadakan agenda Jalan Tol (Jalan-Jalan Toleransi) di Kotagede, kami kembali memekikkan jargon serupa.
Dalam perjalanan pulang menuju Griya Gusdurian Jogja, sebuah pertanyaan reflektif berputar di kepala saya: apa sebenarnya pesan tersirat dari pekikan tersebut?
Mari kita mulai dengan situasi Indonesia hari ini. Tesis saya sederhana: di tengah riuh rendah dunia hari ini, kita sedang berada di suatu masa di mana kita mengalami krisis sosok pemimpin sejati.
Meminjam gagasan Platon, kita sekarang sedang merindukan pemimpin yang kaloskaghatos (elok dan bijaksana). Pemimpin yang mengedepankan nilai sebagai landasan kebijakan, bukan semata karena sentimen kapitalis dan logika oligarki.
Kita merindukan sosok yang tidak haus jabatan, apalagi sampai mengorbankan konstitusi demi kekuasaan; pemimpin yang tidak sibuk menjegal pemutaran film, melarang peredaran buku, atau melakukan tindakan represi konyol lainnya. Pemimpin yang tidak hanya berjanji atas nama agama, tapi jauh dari nilai keagamaan.
Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer yang kerap kali kita temukan di cover belakang buku Bumi Manusia. “Seorang pemimpin yang terpelajar seharusnya berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan.” Berangkat dari realitas yang kompleks dan dilematis ini, saya kembali bertanya: apa yang harus kita teladani? Dan apa yang mesti kita lanjutkan?
Sambil merenung dan berusaha mencari-cari jawaban, saya berusaha membuka arsip tulisan Gus Dur. Dan saya menemukan jawaban di arsip GusDur.Net tulisan yang pernah dipublikasikan di Harian Kompas (23 Februari 1996) yang berjudul “Tuan Guru Faisal Potret Kepribadian NU”.
Tulisan tersebut mengisahkan dengan menarik bagaimana pandangan Gus Dur tentang Faisal, salah satu pengurus wilayah NU kala itu. Satu kutipan yang menarik bagi saya adalah pernyataan ini: “Persaudaraan adalah salah satu basis penting di mana NU hadir dan berdiri. Atas dasar persaudaraanlah NU memiliki trilogi hubungan: Ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan antar umat Islam), Ukhuwwah Wathaniyah (persaudaraan antar negara dan bangsa), dan Ukhuwwah Basyariyah/Insaniyah (persaudaraan antar umat manusia)”.
Dari sinilah benang merahnya menjadi jelas. Sosok yang patut dijadikan teladan adalah Gus Dur, dan hal yang mesti dilanjutkan adalah nilai, pemikiran, dan keteladanannya.
Mengapa harus meneladani Gus Dur? Jawaban saya sederhana, karena Gus Dur selalu melandasakan setiap keputusan yang dilakukan atas dasar nilai-nilai yang masuk akal jika dilaksanakan. Keteladanannya Gus Dur yang tak haus jabatan dan selalu punya perspektif yang inklusif menjadi referensi pribadi saya untuk terus bersama-sama mendukung warisan pengetahuan dan keteladanannya.
Kami di komunitas GUSDURian Jogja menerjemahkan pesan, nilai, pemikiran dan keteladanan Gus Dur dalam beragam agenda. Salah satu agenda yang biasa dilakukan setiap bulan adalah Jalan-Jalan Toleransi (Jalan Tol).
Jalan Tol menjadi wadah untuk berjejaring dan ruang belajar akan keberagamaan, pendidikan, HAM, dan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai inklusivitas. Menariknya lagi, agenda ini terbuka untuk umum dan gratis, tidak seperti mega proyek pemerintah saat ini.
Edisi kali ini GUSDURian Jogja mengangkat tema “Agama dan Kebudayaan Lokal”, dengan tujuan untuk melihat bagaimana keduanya beririsan yang dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun harmoni sosial.
Pukul 07.00, para peserta berkumpul di Griya Gusdurian sebelum bertolak ke Kotagede. Setibanya di sana, kami langsung menuju kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam. Usai perkenalan singkat, kami menyusuri Sendang Seliran, pemandian suci peninggalan Mataram yang terbagi atas Sendang Kakung (laki-laki) dan Sendang Putri (perempuan). Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Masjid Gedhe Mataram Kotagede.
Masjid yang dibangun pada tahun 1578 dan selesai pada tahun 1587 ini salah satu destinasi kami belajar peleburan agama dan kebudayaan. Konon, masjid ini dibangun pada era Panembahan Senopati (W. 1601 M) dengan banyak melibatkan masyarakat yang pada saat itu masih menganut agama Hindu dan Budha.
Pengurus masjid menjelaskan kepada kami terkait sejarah, filosofi, dan juga detail arsitekturnya. Di masjid itu, ada lima pintu gerbang yang melambangkan salat lima waktu. Lalu ada 17 pohon di area kompleks masjid yang menyimbolkan jumlah rakaat salat dalam sehari. Di setiap sudut masjid pun ada kolam yang konon digunakan untuk bersuci, sebuah simbol pemurnian diri sebelum melangkah masuk ke dalam masjid.
Dari kisah mereka juga disampaikan bahwa Masjid Gedhe Mataram yang berada dalam satu komplek dengan Pesaren Agung (pemakaman besar) Kotagede dan dikelilingi oleh pagar batas setinggi 2,5 meter dalam struktur tata ruang pusat kerajaan Islam di Jawa.
Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Masjid Kotagede menjadi bagian dari konsep catur gatra tunggal yang meliputi empat elemen pembentuk identitas kota, yang terdiri atas keraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai pusat kegiatan sosial budaya, masjid sebagai pusat kegiatan spiritual, dan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi.
Arsitektur bangunan masjid memiliki ciri khas berupa pagar bercorak Hindu yang mengelilingi area masjid. Corak ini adalah wujud akulturasi antara Islam dan Hindu kala itu.

Pengetahuan Tak Mengenal Batas Iman
Setelah 30-an menit berbincang terkait keterhubungan antara Masjid Gedhe Mataram dan kompleks pemakaman, kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kotagede.
Di sinilah letak keindahan kejutan hari itu. Kami disambut oleh pemuda Gereja dan menikmati minuman hangat dan snack. Di sini juga para peserta dijelaskan oleh Pak Anto, seorang dosen arsitektur sekaligus jemaat gereja yang memaparkan konsep dan estetika struktur bangunan Masjid Gedhe Mataram yang baru saja kami kunjungi.
Mendengar seorang akademisi Kristen menjelaskan detail arsitektur masjid dengan penuh rasa hormat adalah sebuah momen magis. Pengetahuan dan rasa kagum memang tidak mengenal batas iman.
Pendeta Aditya Christy, yang ikut berkunjung bersama teman-teman muda GKJ ke Masjid Kotagede, berganti menceritakan tentang gereja mereka. Ia membagikan kisah sejarah pendirian GKJ sejak tahun 1955/1956, termasuk perjuangan jemaat yang pernah mengalami tindakan diskriminatif.
Kami menyempatkan diri untuk room tour di Gereja yang sudah mengalami pemugaran pasca gempa Jogja tahun 2006. Di kompleks gereja ada ruang khusus untuk anak muda dan ruang untuk belajar anak-anak sekolah minggu.
Pak pendeta juga membagi kisah tentang Gereja yang memiliki beberapa anggota paduan suara dari komunitas dan agama lain. Keterlibatan anggota paduan suara dari agama lain ini menjadi momen indah hidup berdampingan secara damai di tengah lingkungan yang mayoritas Islam tersebut.

Meruntuhkan Tembok Kecurigaan
Bagi sebagian peserta, Jalan Tol ini adalah kali pertama mereka menginjakkan kaki di dalam gereja. Ada juga yang baru pertama kali duduk santai di Selasar masjid. Menatap antusiasme 40-an peserta jalan Tol yang hadir, saya akhirnya menemukan jawaban utuh atas pertanyaan di awal tulisan ini.
Meneladani Gus Dur tidak berarti saya harus menjadi tokoh besar seperti beliau. Ini adalah tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman; melangkah mendatangi mereka yang berbeda, lalu duduk bersama untuk mendengarkan, belajar, dan menanggalkan segala bentuk prasangka serta ketakutan.
Pengalaman ini menjadi momen yang sangat perlu dilaksanakan. Secara pribadi saya merenungi, berjumpa dengan ‘yang berbeda’ ternyata tidak menakutkan seperti apa yang sering digambarkan di media sosial. Apabila kunjungan Jalan Tol terus dilaksanakan, saya yakin peristiwa pembubaran ibadah jemaat GMS di Bantul dan beragam persoalan intoleransi tidak akan terjadi lagi.
Ketika ada niat untuk meruntuhkan tembok kecurigaan dan menggantinya dengan jembatan dialog, seperti yang dilakukan di Kotagede ini, saat itulah saya yakin peserta sedang melanjutkan tugas sejarah, belajar pentingnya perspektif inklusif dan memahami bahwa keberagaman adalah keniscayaan.
Pada akhirnya, di atas semua sekat dogma, manusia disatukan oleh tiga pilar persaudaraan: saudara dalam iman, saudara dalam kebangsaan, dan saudara dalam kemanusiaan.
Jadi, kenapa harus Jalan Tol? Karena toleransi tidak bisa hanya dipikirkan secara pasif, ia harus dijalani, dilangkahi, dan ditempuh bersama-sama. Dan dalam kebersamaan itu, keberagaman dihargai, perbedaan dirayakan, dan kebudayaan menjadi aspek penting dalam hidup. Untuk memiliki perspektif demikian, kita harus lebih sering Jalan Tol. (SDH)