YOGYAKARTA – Jalan sunyi perjuangan kemanusiaan dan konsistensi pembelaan terhadap kaum lemah menjadi refleksi utama dalam Malam Tadarus Budaya Haul KH M Imam Aziz. Acara yang digelar di Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (19/7/2026) malam tersebut, tidak sekadar menjadi ritual tahunan mengenang wafatnya Sang Kiai. Lebih dari itu, momentum bertajuk “Sunyi, Menggerakkan” ini bertransformasi menjadi ruang dialektika nilai sekaligus penegasan ulang atas komitmen keberpihakan sosial bagi generasi muda Nahdlatul Ulama.
Di hadapan para santri yang memadati area pesantren sejak pukul 19.30 WIB, Alissa Wahid hadir mengurai esensi keteladanan almarhum. Alissa mengajak generasi muda untuk mendekonstruksi makna keberhasilan hidup yang di era kiwari kerap terdistorsi oleh ukuran-ukuran materialistik yang semu. Menurut dia, laku hidup Kiai Imam Aziz adalah representasi nyata dari kerja kemanusiaan yang substansial, jauh dari pemburuan popularitas ataupun akumulasi kapital.
“Menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain itulah definisi sukses bukan harta bukan jabatan bukan mobil rumah dan lain-lain tetapi menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain,” ujar Alissa di hadapan ratusan santri yang menyimak dengan takzim.
Alissa menguraikan bahwa rekam jejak perjuangan KH. M. Imam Aziz merupakan manifestasi nyata dari tema “Sunyi, Menggerakkan“. Almarhum dikenal luas sebagai pembela kaum lemah (mustadh’afin) yang mengalami ketidakadilan struktural. Perjuangan Kiai Imam tidak terbatas pada sekat geografis, melainkan menjangkau berbagai kelompok masyarakat yang membutuhkan pembelaan hukum, sosial, dan ekonomi.
“Kiai Imam Aziz itu membela petani-petani yang terus mengalami tantangan-tantangannya, membela orang-orang yang tinggalnya di jalanan, membela orang-orang di Papua, semua dilakukan oleh Kiai Imam. Karena itulah beliau dihormati, beliau dihargai,” tutur Alissa menegaskan keteguhan sosial almarhum semasa hidupnya.
Lebih lanjut, Alissa mengingatkan para santri bahwa kemudahan fasilitas dan jejaring yang dinikmati oleh Pondok Pesantren Bumi Cendekia saat ini merupakan buah dari reputasi luhur dan investasi sosial yang ditanam almarhum. Ia meminta para pengasuh dan santri aktif mendokumentasikan serta mempelajari rekam jejak tersebut agar nilai-nilai perjuangannya tetap lestari dan diestafetkan oleh generasi muda.
Di penghujung penyampaiannya, Alissa menyampaikan refleksi personal yang mendalam. Ia berharap dedikasi sosial Kiai Imam Aziz dapat bertransformasi menjadi inspirasi yang terus hidup dan menggerakkan perubahan positif melalui tangan-tangan generasi penerus.
“Saya ingin menjadi manusia yang seperti Kiai Imam Aziz walaupun sudah meninggal dunia tapi keteladanannya amal jariyahnya masih terus bergerak,” ungkap Alissa. (SDH)