Sastra

Tidak Harus Sempurna

Oleh: Dini Rusmiati

DI dunia yang sering memoles kebenaran agar terlihat nyaman, kejujuran menjadi sesuatu yang mahal, bahkan sangat berisiko. Namun, bagi presiden ke-4 Indonesia, jujur bukan pilihan yang dinegosiasikan. Ia adalah sikap hidup. Sebuah keberanian untuk tetap berkata benar, bahkan ketika dunia tidak siap mendengarnya.

“Hai, bro apa kabar?”

“Baik, bro.”

“Ke mana saja, sudah lama tidak masuk kuliah?”

“Biasalah ada urusan lain yang lebih penting.”

Percakapan di antara dua pemuda yang sedang berjalan menuju gedung fakultas berwarna ungu itu lewat begitu saja di telingaku. Keduanya saling merangkul dan berjalan, sesekali terlihat tertawa kecil menanggapi hal-hal random yang mereka bahas.

Aku berjalan menuju gedung fakultas bersebelahan yang belum selengkap gedung sebelah yang elit. Langkah kakiku menaiki tangga satu persatu hingga sampai di lantai empat tanpa lift ataupun eskalator. Kadang aku masih terengah-engah menata napas, namun lelah itu perlahan luruh saat pemandangan menakjubkan diam-diam mencuri perhatian. Gunung-gunung menjulang seolah sengaja dihadirkan agar kita tak lupa bahwa ada begitu banyak nikmat Tuhan yang kerap terlewatkan. Langit biru membentang luas, kicau burung terdengar merdu, dan udara segar memenuhi paru-paru. Hati ini pun bertanya pelan: Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

“Meda, kamu baru sampai juga?” tanya Alya yang baru muncul dari arah tangga.

“Iya, Al…. Aku baru sampai,” jawabku lalu tersenyum.

“Tampaknya, kelas masi sepi, ya.” Matanya menelisik ke dalam kelas.

Ucapannya betul, di dalam kelas baru ada empat mahasiswa dengan aktivitasnya masing-masing. Seseorang di pojok menikmati musik melalui earphone bluetooth-nya, dua perempuan asyik mengobrol membahas crush-nya, dan satu orang lagi sibuk menghayati karakter-karakter ajaib di dalam buku novelnya.

Mahasiswa yang sudah berada di kelas 30 menit sebelum dosennya datang dapat dikatakan si penjaga waktu dalam sunyi. Ia datang ketika kursi-kursi masih lengang, saat papan tulis belum menyimpan jejak pikiran siapa pun. Bukan karena ingin dipuji, tetapi mereka menghargai waktu seperti menghargai diri sendiri. Mereka paham, bahwa kesiapan bukan sesuatu yang mendadak, melainkan dibangun dari kebiasaan-kebiasaan yang diam-diam konsisten. Ketika yang lain masih menunda atau tergesa, mereka sudah memilih hadir dan siap. Dari kursi yang mereka tempati lebih awal itu, lahir satu hal sederhana yang sering dilupakan. Disiplin yang tidak berisik, tetapi mengakar sangat kuat.

“Meda, duduk samping aku, ya!” pinta Alya.

A ku menganggukan kepala, mempersilakannya. Toh, bangku di perkuliahan tidak disatukan seperti di sekolahan. Mereka bebas menduduki bangku yang diinginkannya.

Aku menyimpan tasku di bangku paling depan, bangku yang sering disalahpahami dan diberi label ‘terlalu cepat dan terlalu mudah’ untuk anak-anak ambisius yang haus nilai dan ingin terlihat paling serius. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit yang memilih bangku paling depan itu karena matanya yang silinder dan rabun jauh. Di bangku itu, ada mereka yang ingin benar-benar mendengar, bukan sekadar hadir. Ada yang memilih dekat bukan untuk memikat, tetapi agar tidak kehilangan satu pun makna. Di bangku inilah, jarak dengan distraksi terasa lebih jauh, dan jarak dengan pemahaman terasa lebih dekat.

Alya mengikutiku menyimpan tas di paling depan, namun mengurungkan niatnya dan memindahkannya satu bangku ke belakang.

“Kenapa tidak jadi?” tanyaku.

Alya mengedikkan bahunya, “terlalu horor,” jawabnya.

Ia menganggap bangku depan horor karena takut ditanya.

Duduk di sana seperti memasuki wilayah rawan, di mana mata dosen mudah menangkap dan pertanyaan datang tanpa aba- aba, membuat detak jantung lebih cepat. “Makanya dianggap horor. Kok mau duduk di sana,” katanya.

“Ada-ada saja kamu, Al. Menurutku kamu bukan takut dekat dosen, tapi takut dipaksa lebih dekat dengan diri sendiri.”

“Dahlah, yang penting aku dekat dengan kamu. Nanti kalau kurang paham, aku bertanya padamu.”

Sekarang giliranku mengedikkan bahu, bukan karena tidak peduli, melainkan karena ragu pada kemampuan diri sendiri.

Lima menit sebelum kuliah dimulai, mahasiswa lain memenuhi bangku, siap mendengarkan dosen tentang Patologi Sosial, mata kuliah krusial penganalisis akar masalah sosial.

***

2 SKS terlewati. Kali ini tidak ada presentasi kelompok,

perdebatan, atau adu argumen. Cukup diskusi singkat mengenai pencegahan tindakan kriminal di lingkungan mahasiswa yang sedang asyik mengeksplor diri dan mudah bergaul.

“Alhamdulillah…. akhirnya, kelar juga hari ini,” ucap Alya dengan ekspresi senang.

“Alhamdulillah…. tidak ada tugas kelompok, jadi aku bisa beristirahat di perpustakaan,” ucapku sambil melangkah keluar.

“Meda! Kamu mendengar aku, nggak?” suara Alya terdengar lebih jelas. Sebelum aku masuk perpustakaan lantai dasar, tangannya mencegahku.

“Antar aku ke gedung sebelah, ya, please!” ia memohon.

Aku tidak bisa menolaknya. Sulit bagiku untuk mengatakan ‘tidak’ kepada orang yang membutuhkan bantuan, meski hati kecil terkadang menolak.

“Mau ngambil flashdisk yang dipinjam Aldi kemarin,” katanya.

Kami menuju gedung Fakultas Ilmu Komunikasi yang megah dan berkelas, sering disebut gedung ungu. Di dalamnya, fasilitas lengkap dan perpustakaannya tampak elegan dengan deretan jilid skripsi berwarna ungu.

Alya mengajakku ke lantai tiga menemui temannya. Aku berdiri beberapa senti darinya, membiarkannya mengambil flashdisk sambil menikmati pemandangan gedung fakultasku. Di Gazebo depan, beberapa mahasiswa UKM Seni Tari sedang latihan. Gerakan luwes mereka berpadu musik tradisional begitu memukau.

“Betah banget di sini, ya?” tanya Alya yang sudah di sampingku.

Aku bergegas menuju tujuan awalku. Perpustakaan, tempat penuh gagasan agar cahaya tetap terang dalam kehidupan. Ternyata Alya masih mengikutiku dengan senyum kikuk. “Kamu ikut Event Panggung Kreasi, ya?”

Kaget itu datang seperti kilat, cepat, terang, membuat sejenak kehilangan arah. Aku hanya bisa diam, membiarkan mata berbicara sebelum kata-kata menemukan jalan pulang.

“Kamu tidak perlu khawatir, ini bukan soal tampil di depan. Kamu cukup menuliskan puisi bebas, kirim ke aku. Biarkan aku memamerkan karyamu sebagai perwakilan UKM Literasi. Kali ini, aku tidak ingin kamu menolaknya.”

Aku perlahan mengembuskan napas, mencerna ucapan enteng dari bibir mungilnya.

“Aku mengajakmu ke gedung ungu agar mereka melihat langsung penulis puisi-puisi anonim yang sering mereka baca di media. Event ini diadakan Ruang Kampus untuk mewadahi kreativitas seni mahasiswa. Flashdisk ini akan digunakan untuk mengumpulkan setiap karya mereka, termasuk musik pendukung seni tari.”

Panjang lebar Alya menjelaskan. Tubuhku membeku—antara percaya atau tidak, tak tahu harus mulai dari mana.

“Oh, ya…. kamu tidak hanya menulis puisi, bahkan bisa membacakan puisimu diiringi musik oleh Aldi dan teman- temannya. Kalau kamu kolaborasi sama mereka, akan tercipta musikalisasi puisi yang merdu.”

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku ingin berkata sesuatu, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan.

“Gimana? Ideku sangat bagus ‘kan?”

Aku menghela napas, lalu berkata, “Cukup, Alya!”

Waktu seoalah berhenti sesaat. Alya terpaku melihatku menelungkupkan wajah di balik buku. Ada jeda singkat sebelum pikiranku perlahan mengejar kenyataan yang datang tiba-tiba.

“Jangan bilang, kamu mau menolak?”

Alya tahu jika aku bukan tipikal orang yang mencari sorotan, lebih nyaman berada di sudut tenang di antara halaman-halaman kosong yang perhalan diisi dengan pikiranku sendiri.

“Ayolah, Andromeda! Ini saatnya kamu untuk tampil dan percaya dengan kemampuanmu sendiri.”

“Tiba-tiba aku tidak tahu harus menorehkan apa ke dalam secarik kertas itu? Andai saja diperbolehkan… Aku ingin meminjam 9 nilai Gus Dur untuk menjalani hidup yang lebih jujur. Tidak harus sempurna ‘kan?”

Alya mengangguk dengan sorot mata kagum. “Meda! Bilang sama aku jika sekarang kamu sedang membaca puisi.. setiap ucapan yang keluar dari mulutmu selalu ada hal-hal bermakna dengan nada indah yang tidak kamu sadari.”

Aku ingin menjadi manusia yang tidak curang meski diawasi, Aku ingin menjadi manusia yang peka dan peduli,
Berani mengatakan kepada diri sendiri, kamu berhak
mendapatkan kesempatan ini,

Menghargai permintaan orang lain, meski berbeda dari keinginanmu sendiri,

Membuka ruang untuk diri sendiri tanpa menghakimi, Mendukung keyakinan hati untuk berkembang dengan caranya sendiri,

Fokus kepada makna, bukan tampilan semata,

Mau mendengar, bukan sekadar didengar,

Tidak diam hanya karena merasa takut tidak disukai, Seharusnya aku bisa menghargai diri sendiri dengan kemampua yang dimiliki,

Tuhan, jadikanlah aku manusia yang berani dan jujur terhadap diri sendiri,

Tidak harus sempurna ‘kan?

Ajari aku untuk menyelami 9 Nilai Gus Dur untuk hidup yang lebih jujur.

Aku sedang tidak berpuisi, tetapi aku sedang jujur kepada diri sendiri. Namun, Alya menatapku dengan binar mata yang tampak takjub.

“KEREN!” satu kata yang keluar dari mulutnya.

***

Aku menatap pantulan diriku di cermin, mematut diri mengenakan jilbab segi empat hitam yang simpel namun tetap rapi. Kupasang obi belt agar dress hitamku terlihat lebih elegant. Aku tersenyum dengan perasaan tenang dan pikiran lebih ringan.

Aku ingat betapa dulu sering merasa ragu dan kurang. Namun kali ini, ada kehangatan menyelinap ke hati karena akhirnya aku meyakinkan diri mengikuti Event Panggung Kreasi. “Ternyata, aku bisa sejauh ini.”

Andromeda! Ayok, kamu udah siap, belum? Aku nunggu di depan rumah!” pesan Alya melalui WhatsApp.

Iya, aku sudah siap. Aku segera ke sana!

Senyuman di antara kami menularkan kebahagiaan. “Akhirnya… hari ini kamu sangat cantik, Meda,” puji Alya membuatku tersipu.

“Kamu juga, sangat cantik!” balasku.

Kecantikan bukan soal rupa, tetapi cara ia membawa dirinya. Sederhana namun berwibawa, lembut tapi tidak lemah. Cantik itu tumbuh dari hal-hal yang sama sekali tidak terlihat. Tulusnya, sabarnya, dan caranya bertahan utuh meskipun pernah luruh.

“So, kamu akan ikut hadir saja atau memberanikan diri membacakan puisinya?” tanya Alya.

“Aku….” ucapanku menggantung.

“Aku percaya sama kamu, Meda!” ujar Alya penuh keyakinan.

***

Sebuah ruang tidak hanya menampung karya, namun juga napas penciptanya. Di sini draf dinding bukan pembatas, melainkan saksi dari warna, garis, dan imajinasi bebas ide para pencipta. Karya seni terpajang rapi membawa sejarah dan kisah berbeda kepada penikmatnya. Lukisan klasik berbisik melalui warnanya, instalasi berdiri dengan makna tidak sederhana, dan setiap sudut terasa lebih hidup oleh gagasan yang saling bersahutan.

“Keren sekali, mereka bisa merubah gedung ini menjadi ruang pamer yang memiliki jiwa yang saling menyapa dalam cara yang paling jujur.” Aku kagum. Dari luar gedung tampak elit dengan warna ungunya yang khas, namun di dalam berubah menjadi ruang seni memukau yang dirasakan dan diresapi maknanya.

“Terima kasih sudah datang,” ucap seseorang. A ku menoleh, berdiri pemuda yang sempat kulihat di depan gedung fakultasku.

“Puisinya sangat bagus,” pujinya.

“Betul, setiap tulisan dan karya di sini sangat indah dan bermakna,” balasku tersenyum, menatap puisi Chairil Anwar di dinding.

“Boleh, saya membacakan karyanya?”

“Tentu,” jawabku enteng. Mana mungkin aku tidak mengizinkannya membacakan puisi sang penyair terkemuka negeri ini yang penuh semangat.

“Puisinya akan lebih indah jika sang penciptanya langsung yang membacakannya, saya akan mengiringnya dengan aransemen khusus.”

Mataku membesar tak percaya. Bibirku terbuka, tapi tak ada satu pun kata terucap.

“Tidak harus sempurna, kan? Seni tidak lahir dari keharusan untuk sempurna, tapi dari keberanian untuk mengekspresikan.”

“Sial. Alya ke mana saja? Kenapa tiba-tiba di hadapanku bukan dia? Kenapa harus laki-laki bernama Aldi yang memintaku langsung membacakan sebuah puisi itu,” batinku tak bisa diam.

Perasaan takut salah dan keraguan muncul di depan orang yang belum kukenal. Hingga akhirnya, aku menyadari apa yang ingin kita sampaikan bukanlah kesempurnaan melainkan keaslian.

“Kamu adalah penulis anonim itu, kan?” Kepalaku mengangguk ragu.

Haruskah identitasku terbongkar saat ini juga?

“Jadi, tidak harus sempurna, cukup hadir, cukup jujur, dan cukup berani untuk menjadi diri sendiri.”

Sesekali alunan musik mengisi ruang dan langkah penari berbicara melalui gerakan lembut penuh emosi.

“Meda! Kamu ke sini juga?” teriakan Ratna memecahkan keheningan di antara aku dan Aldi. Teman prodi berbeda itu baru turun dari panggung dengan wajah memancarkan kepuasan alami.

“Hai, Ratna! Kamu menari dengan sangat indah,” ucapku kagum.

“Terima kasih, Andromeda. Kamu ke sini sama Alya?”

“Iya, aku bersamanya tadi. Aku sedang mencarinya, kamu melihatnya?” Aku bertanya balik kepadanya. Dalam hati, aku berharap kehadiran Ratna dapat mengalihkan obrolanku dengan Aldi.

“Aku sempat melihatnya di ruang operator, coba saja kamu ke sana!”

Ratna sangat membantuku. Aku gunakan itu sebagai alasan menghindari permintaan Aldi.

“Kalau begitu, aku ke sana dulu, ya!”

Tanpa ragu, aku langsung menuju ruang operator. Aku melihat Alya sedang sibuk dengan laptop di depannya. Inginku menghampiri, tapi dalam hati ada ketakukan akan mengganggunya.

Aku merasakan hening di tengah keramaian. Rasanya sungguh aneh, merasakan diri ini tidak punya tempat untuk bersuara.

“Huft…. Keraguan dalam diri ini berhasil menahanku dalam situasi sekarang,” batinku.

“Bergeraklah meskipun masih ragu. Mulai dari hal kecil, bukan yang sempurna!” Aldi lagi, sudah berada di sampingku.

“Kenapa tiba-tiba ada kamu?” aku menghela napas.

“Alya bilang kamu kebingungan, saya langsung ke sini untuk membantu kamu keluar dari labirin kebingunganmu.”

“Ok, kalian ingin aku tampil di depan sana dan membacakan sebuah puisi, kan?” ucapku lantang yang diangguki Aldi.

Aku berjalan ke arah panggung di antara langkah yang ingin maju dan ragu yang menahan. Sorot lampu terasa lebih terang, keramaian mendadak terdengar jauh, menyisakan diri sendiri dengan segala pikirannya. Namun kali ini aku tidak lari. Aku memilih diam sejenak untuk maju perlahan tapi pasti.

“Tidak haru langsung sempurna. Justru yang paling Gus Dur banget itu, pelan, konsisten, dan tetap manusiawi.”

Ucapan Aldi terdengar lirih, berusaha meyakinkanku. Rasa takut tidak berhak menghentikanku untuk terus berkarya.

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian