Oleh: Heru Prasetia
PEREMPUAN tua itu belum bangun ketika burung bulbul yang bertengger di atap rumahnya tiba-tiba berteriak gelisah. Seorang laki-laki paruh baya, berambut mulai putih, berjanggut agak lebat, mememasuki halaman rumah. Matahari belum tampak, hanya sinarnya yang sudah membuat putih langit sebelah timur. Laki-laki itu berhenti agak lama di halaman. Menoleh kanan dan kiri, sebelum tampak seperti menguatkan tekad untuk mendekat ke pintu dan mengetuknya.
“Permisi,” ucapnya pelan seperti tidak terlalu yakin. Ia kembali menoleh ke kanan dan ke kiri.
Sebelum ia mengetuk pintu untuk kelima kalinya. Pintu sudah dibuka. Seorang perempuan membuka pintu. Wajahnya masih menyimpan rasa kantuk karena kurang tidur akibat semalam ia harus membereskan buku-buku yang berserakan di ruang kerja suaminya. Meskipun sedang hamil tua, dia masih melakukan pekerjaan rutinnya sebagai istri yang harus membereskan rumah setiap hari.
Anak laki-lakinya masih tertidur di kamarnya yang kemudian terlonjak kaget mendengar dirinya menjerit di ruang tamu.
“Bersabarlah,” ucap laki-laki itu dengan tidak teralu meyakinkan. Dia sendiri tampak gundah. Menyampaikan berita kematian tidak pernah mudah bagi siapapun. Terutama buat dirinya. Seorang pejabat yang umumnya bicara basa-basi formal sehingga membatasi kemampuannya untuk menunjukkan simpati.
Pejabat Malik Alkas atau Tuan Alkas, begitu ia kerap disapa. Seorang pejabat tinggi di istana raja yang punya reputasi besar sebagai ahli strategi dan tata kelola kerajaan. “Dia pergi selama-lamanya demi cintanya pada ilmu,” Alkas mencoba menghibur keluarga itu. Keluarga yang diajaknya bicara itu adalah keluarga Bakti Jamal. Seorang cendekiawan yang mengetahui ilmu-ilmu rahasia kehidupan.
“Pejalanannya ke negeri timur untuk mencari cara membaca dan memahami kitab rahasia telah membawanya pada keabadian,” Alkas kembali mencoba mengisi keheningan.
Semua orang di rumah itu tahu selama ini Jamal selalu berupaya keras untuk bisa membuka peti berisi kitab rahasia yang diwariskan ayahnya. Buku itu tidak bisa didekati, setiap kali dia ingin membaca seekor ular siluman berwarna hitam mencegahnya. Sekali waktu hanya dengan mencoba membuka peti itu saja ular siluman itu mendadak menyerangnya. Pernah suatu kali, setelah upaya puasa dan semedi, ia berhasil membuka peti dan bahkan membacanya sampai halaman empat belas sebelum ular itu kembali muncul dan mengagalkan upayanya.
Kegigihannya dalam mempelajari berbagai ilmu telah masyhur di mana-mana. Di rumah ini banyak berkumpul anak- anak muda yang belajar membaca buku-buku kuno berisi himpunan pengetahuan. Bakti Jamal mengajari mereka cara membaca dan mencerna pengetahuan yang ada di dalamnya. Mulai dari ilmu mengolah elemen-elemen alam, membaca tanda-tanda cuaca, pergerakan benda-benda langit, hingga ilmu nujum mengenai nasib orang per orang. Kemampuannya untuk meramalkan nasib orang itulah yang membuat banyak orang ingin berguru atau sekadar ingin mendengar perkataannya.
Malik Alkas termasuk di antara muridnya yang banyak itu. Alkas adalah orang pembelajar yang sangat cerdas. Kendati sudah menjadi pejabat dia tidak merasa malu untuk berguru. Kemampuannya membaca buku kuno dan penalarannya yang mumpuni membuatnya dengan cepat mencapai sejumlah tingkat keilmuan nujum yang mendekati gurunya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi murid terkasihnya karena kecerdasan dan kesetiaannya.
Mereka berdua kemudian bersahabat. Hubungannya tidak lagi semata guru dan murid, namun sudah menjadi kawan akrab yang saling membantu. Dalam beberapa kesempatan bahkan Jamal mempercayakan pada Alkas untuk membaca tanda-tanda langit untuk menentukan masa tanam dan jenis tanaman yang punya potensi besar untuk mencapai panen maksimal.
Tidak sedikit pula tamu pejabat tinggi,pejabat tidak terlalu tinggi, pedagang kaya, pedagang tidak kaya, istri pedagang kaya,istri pedagang tidak kaya,istri pejabat tinggi, istri pejabat tidak terlalu tinggi, dan sebagainya yang ramalan masa depannya diserahkan kepadanya. Hampir semua nujumnya menjumpai kenyataan. Jamal tentu saja bangga pada muridnya itu, sekaligus bangga pada dirinya yang berhasil membangkitkan sesuatu yang tersembunyi di diri Jamal.
Di sebuah malam yang larut, Alkas tiba-tiba mendekati Jamal yang baru saja menutup bukunya. Alkas memberanikan diri berkata, “Tuan Jamal, ada yang harus aku katakan.” Jamal mendongakkan kepalanya, menatap Alkas dengan wajah penuh tanya karena seperti ada hal penting yang hendak dikatakan muridnya itu.
“Sudah tiga malam ini aku menyimpan ini. Tapi ini harus aku katakan. Menurut apa yang aku baca dari formasi bintang saat kau dilahirkan dan apa yang terjadi di langit saat ini, sesuatu yang buruk akan terjadi padamu jika kamu bertemu orang dalam 40 hari ini. Karena itu, pergilah ke sebuah tempat, tinggallah di sana, dan jangan pernah keluar untuk bertemu siapapun. Biar aku jaga perpustakaan dan rumah ini.”
Jamal menatap tajam wajah murid sekaligus sahabatnya itu. Ia sendiri juga sudah meneliti apa yang dikatakan muridnya itu. Tapi tentu saja ilmu nujum tak pernah bisa digunakan untuk diri sendiri karena segala emosi diri akan menjadi kabut dalam pembacaaan dan penalaraan. Karena tahu kemampuan yang dimiliki Alkas, dan berbekal keyakinan pada ilmu nujum yand diajarkannya, ia menuruti sarannya. Berbekal sejumlah makanan, buku, dan pakaian, malam itu juga dia berangkat.
Jamal kemudian tinggal di sebuah rumah kosong di pinggir kota. Di sana ia menghabiskan hari dengan membaca dan meditasi. Selama berhari-hari ia menutup diri tidak bertemu siapapun. Meskipun dia adalah seorang ilmuwan yang selalu membaca buku, namun berhari-hari tanpa bertemu orang tetap membuatnya bosan. Pada hari ke-35 ia sudah merasa tidak nyaman. Buku-buku yang ia bawa sudah habis ia baca bahkan sudah selesai membuat catatan-catatan pingggir yang jika digabung sudah bisa menjadi buku tersendiri. Di hari ke-39 Jamal sudah tidak kuat lagi.
Paginya, berarti persis hari ke-40, ia nekat keluar rumah. Dia memutuskan untuk menjumpai Alkas. Tinggal satu hari dan hanya untuk bertemu Alkas, tidak akan terjadi apa-apa, pikirnya. Dia berjalan menuju kota tidak melalui jalan umum tapi melipir melalui jalan setapak di pinggir sungai yang sudah hampir tak pernah dilewati orang supaya tidak bertemu siapapun sebagaimana yang pesan nujum dari Alkas itu.
Di sebuah tikungan di melihat sebuah bangunan tua yang reot dan tampak tak berpenghuni. Karena panas menyengat, Jamal masuk ke rumah itu untuk berteduh sebentar. Dia membuka pintu rumah itu begitu saja. Melihat ke sekeliling bangunan, melihat sejumlah lukisan yang sudah sangat usang, perabotan yang rusak, dan tiba-tiba matanya bertemu sebuah pintu besar yang tampak megah. Ada dorongan entah dari mana yang membuatnya bergetar untuk membuka pintu itu. Perasaaan itu terasa ganjil. Seperti menyergap begitu saja. Nafasnya mendadak tersengal, jantungnya berdegup tidak wajar, dan tangannya sedikit gemetar.
Dengan hati-hati, ia membuka pintu itu. Jamal terhenyak. “Masya Allah,” serunya.
Di depan matanya terhampar harta benda yang sangat banyak tiada terperi. Barang-barang kuno yang terbuat dari emas dan berlian, peti berisi koin emas dan perak, lemari-lemari besar yang terbuka karena tidak mampu memuat berbagai benda berharga. Ini adalah harta karun legendaris yang dicari banyak orang selama puluhan atau bahkan ratusan tahun. Dengan hati masih berkecamuk, Jamal menutup pintu ruangan dan segera bergegas keluar. Ia berlari begitu saja dan hanya Alkas yang ada di pikirannya.
Wajahnya masih memerah ketika ia sampai di depan pintu rumah Alkas yang menyambutnya dengan kaget.
“Ini baru hari ke-40!Kau bisa terkena malapetaka!”
“Tidak, tidak. Kamu pasti salah baca. Hari ini adalah hari kemujuranku.”
Jamal menceritakan dengan rinci apa yang baru saja ia alami. Terdorong dengan cerita itu, Alkas segera mengeluarkan dua kudanya kemudian mereka melaju ke tempat tadi tanpa berpikir panjang.
Sampai di rumah kuno, Alkas terhenyak. Ternyata benar. Harta karun banyak sekali ada di depan matanya. Ia kaget sekali dengan dua hal, bahwa ia salah baca ramalan dan bahwa ada begitu banyak harta di depan matanya. Harta ini lebih daripada harta seluruh kota digabung jadi satu yang bisa membuatnya lebih berkuasa dan berpengaruh di istana. Keinginan untuk berkuasa dan bergelimang harta adalah yang selama ini ia benar-benar impikan. Segala sesuatu tentang ilmu dan ramalan selalu ia niatkan untuk menggapai hal itu, termasuk ketika ia pertamakali menemui Bakti Jamal dan mencoba belajar darinya.
Tiba-tiba berkelebat sebuah perasaan dan pikiran yang bercampur jadi satu. Kalau saja hanya dia yang tahu rahasia harta ini tentu segalanya akan lebih baik. Tak ada orang yang akan lebih berpengaruh dan tak ada yang akan mendapatkan kekayaan dan kekuasaan seperti dia. Terbersit pikiran di kepalanya untuk mealkukan sesuatu.
Sejurus kemudian dia sudah memegang belati tepat di belakang Jamal. Alkas menusuk leher Jamal dengan belatinya. Jamal tentu saja menjerit kaget.
“A..apa yang kau lakukan Alkas?”
Alkas tidak peduli. Sudah tidak ada lagi persahabatan dan rasa hormat. Pikiran dan hatinya sudah diselimuti bayangan tentang kebesaran dan kenyamanan hidup. Menyadari tidak ada yang bisa dia lakukan,
Jamal kemudian berkata lirih, “Aku akan mati di tanganmu. Entah apa yang ada di pikiranmu, tapi tolong sampaikan ini pada istriku.”
Wasiat itu sesungguhnya sudah ia perhitungkan dengan teliti selama 39 hari dalam persembuunyian. Keyakinannya sangat tebal bahwa wasiat itulah yang akan menjadi kunci untuk membuka kitab rahasia yang dilindungi ular siluman itu. Tepat di hari ke-40 persembunyiannya, Bakti Jamal, ilmuwan kondang yang menguasai segalam macam ilmu kebijaksanaan itu, tewas.
Setelah mengubur mayat guru dan sahabatnya itu, Alkas turun ke sungai dan mencuci belatinya yang berlumuran darah. Tak ada secuil sesal di hatinya. Di pikirannya kini hanya ada satu hal, bagaimana dia akan menyimpan rahasia harta karun itu.
“Dia ingin kau menamai anak yang kau kandung itu Betal Jemur,” ujar Alkas dengan dingin pada perempuan itu sambil menyerahkan sebungkus koin emas. Perempuan itu diam saja seperti tidak peduli. Pikirannya kosong.
Sebelum tangis keluarga itu benar-benar berhenti, ia pamit. Malik Alkas meninggalkan rumah itu dengan langkah yang lebih tenang, sambil menyimpan kenyataan getir yang disembunyikannya.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.