Sastra

Malam yang Disepakati

Oleh: Muhammad Hikmal Yazid

SETIAP Kamis malam, desa ini seolah sengaja dilarutkan ke dalam asap. Bukan asap dapur yang malas keluar lewat celah genteng, tapi asap keyakinan yang tak pernah tuntas dibahas. Asap itu naik ke udara, lalu turun mengendap ke kepala orang-orang, menjelma menjadi kebiasaan yang tak lagi dipertanyakan. Jika ditanya kapan tradisi ini dimulai, jawabannya selalu sama: ‘dari dulu.’

‘Dari dulu’ adalah kalimat paling nyaman untuk membungkus ketidaktahuan. Malam itu, pintu-pintu rumah tertutup lebih cepat. Tanpa larangan tertulis, tanpa pengumuman di musala, semua orang sepakat untuk mengunci diri. Ada perjanjian tak kasatmata yang lebih kuat dari hukum desa, sebuah larangan untuk menginjak lantai rumah orang lain. Bukan karena lantai itu najis, melainkan karena ada sesuatu yang tidak boleh diganggu. Apa itu? Tak ada yang bisa menjawab tanpa terdengar seperti sedang mengarang bebas.

Jarot menyimpan sisa-sisa rasa ingin tahu yang belum sepenuhnya mati. Bukan karena ia paling berani, tetapi karena ia belum cukup pintar untuk pura-pura tidak peduli. Ia tumbuh dengan cerita-cerita itu, namun selalu merasa ada jurang antara percaya dan menyerah.

Pukul empat dini hari, saat kebanyakan orang masih terjebak di antara mimpi dan realitas, Jarot sudah terjaga. Hidupnya terasa janggal, seperti berjalan di tempat, rajin melangkah namun lupa menentukan arah.

Musala kecil di ujung desa biasanya sepi di jam segitu, kecuali oleh satu-dua orang tua yang merasa perlu lebih sering menyapa Tuhan. Jarot melangkah ke sana dengan perasaan yang belum ia beri nama, perpaduan antara niat, ragu, dan sedikit gengsi. “Sekali-kali jadi orang bener,” gumamnya, mengejek diri sendiri.

Namun, pagi itu tidak berjalan seperti bayangannya. Selepas keluar dari musala dengan kepala yang lebih ringan, matanya menangkap pemandangan janggal di gang depan. Kerumunan kecil berkumpul di depan gubuk tukang kayu. Tempat yang selama ini hanya dikenal sebagai bengkel bagi siapa pun yang membutuhkan bangku, pintu, atau peti mati yang dipesan tanpa tawar-menawar.

Anak-anak desa punya hubungan yang lebih sederhana dengan tempat itu. Mereka datang untuk memesan layang- layang atau sekadar menonton serbuk kayu beterbangan seperti salju versi orang miskin. Gubuk itu tidak pernah dianggap penting. Dan justru karena itu, ia menjadi tempat paling aman untuk tidak diperhatikan.

“Eh, ada apa itu?” suara Jarot tidak keluar dari mulutnya, tapi cukup keras di dalam kepala. Ia berhenti sejenak. Bukan karena takut, tapi karena sedang mempertimbangkan: apakah rasa ingin tahu ini layak ditukar dengan kemungkinan menyesal? Tapi seperti biasa, Jarot kalah oleh dirinya sendiri.

Ia melangkah mendekat. Semakin dekat, suasana semakin terasa aneh. Orang-orang yang berkumpul tidak banyak bicara. Tidak seperti kebiasaan desa yang selalu punya komentar untuk segala hal. Mereka berdiri, melihat, tapi tidak benar- benar ingin terlihat sedang melihat.

Seperti orang yang tahu mereka seharusnya tidak ada di sana. Jarot menyelip di antara mereka, mencoba bersikap biasa saja, meski jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat dari yang ia harapkan. Ia sampai di depan pintu gubuk itu, pintu yang selama ini hanya ia anggap sebagai pintu biasa, tanpa cerita.

Di situlah ia mulai sadar, bahwa mungkin selama ini ia yang terlalu cepat percaya pada hal-hal yang tampak sederhana. Orang-orang di dalam itu, beberapa wajah yang ia kenal, beberapa yang lainnya tidak. Tidak sedang bekerja, tidak sedang berdoa dalam cara yang biasa ia lihat, dan jelas bukan sedang sekadar berkumpul tanpa tujuan.

Kelompok yang dulu pernah ditolak mentah-mentah oleh warga desa itu, yang katanya membawa ajaran menyimpang, yang katanya merusak tatanan, rupanya tidak benar-benar pergi. Mereka hanya bersembunyi dengan cara yang sangat efektif: menjadi biasa. Jarot merasa tenggorokannya kering. “Jadi ini ….” pikirnya, dengan kalimat yang tak selesai.

Dua tahun, kata orang-orang kemudian. Dua tahun mereka ada, bergerak, berkembang, tanpa benar-benar terlihat. Bukan karena mereka sangat hebat, tapi karena tidak ada yang benar-benar mau melihat lebih dekat. Desa itu terlalu sibuk menjaga ketenangan, sampai lupa bahwa ketenangan juga bisa jadi topeng.

Malam Kamis itu, rupanya bukan sekadar malam biasa. Itu adalah puncak. Puncak dari sesuatu yang oleh sebagian orang sebut ilmu, oleh sebagian lain sebut kesesatan, dan oleh kebanyakan orang tidak sebut sama sekali karena tidak ingin terlibat. Ilmu Rogojampi, kata mereka. Ilmu yang katanya bisa membuat orang ‘lebih’, lebih kaya, lebih kuat, lebih apa saja yang selama ini mereka rasa kurang. Sebuah janji yang terdengar terlalu indah untuk tidak dicurigai, tapi juga terlalu menggiurkan untuk diabaikan.

Jarot berdiri di ambang batas: antara tahu atau tidak, percaya atau sangsi. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa hal paling berbahaya bukanlah sesuatu yang tersembunyi, melainkan apa yang sengaja dibiarkan tidak diketahui.

Ia mematung. Tubuhnya dipaksa tenang, sementara matanya berjuang menyesuaikan diri dengan pemandangan di depannya. Bukan karena gelap, tapi karena realitas itu terasa terlalu terang untuk diterima begitu saja.

Orang-orang di dalam gubuk itu tidak tampak seperti pendosa. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerak tergesa, atau upaya bersembunyi. Mereka justru terlihat yakin. Terlalu yakin, sampai-sampai Jarot tiba-tiba merasa bahwa mungkin, selama ini, dialah yang berada di sisi yang salah.

“Mas, minggir sedikit,” bisik seseorang dari belakang. Nada suaranya pelan, tapi tidak meminta izin, lebih seperti perintah halus yang dibungkus sopan santun. Jarot bergeser tanpa sadar.

Ia mulai merasa dirinya bukan lagi pengamat, tapi bagian dari kerumunan yang tidak tahu sedang mengamati apa.

Di dalam, seseorang berdiri lebih menonjol dari yang lain. Tegak, tenang, seperti orang yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan.

“Ini malamnya,” suara itu terdengar tidak keras, tapi cukup untuk membuat semua yang hadir menahan napas sejenak. “Malam di mana batas itu tipis.”

Jarot mengernyit. Di desa ini, diam dianggap kebijaksanaan, padahal lebih sering hanyalah ketakutan yang telah membatu. Ia mencoba mengingat: bukankah orang-orang di dalam gubuk itu dulu adalah mereka yang paling lantang menolak kelompok ini? Mereka yang bersumpah di musala agar ajaran ini tak pernah menyentuh tanah desa?

Jarot menelan ludah. Rupanya, sumpah tidak selalu dibuat untuk ditepati, terkadang hanya untuk didengar.

Ia melirik wajah-wajah di sekelilingnya. Familiar. Bapak- bapak yang biasa mengisi saf depan pengajian, yang suaranya paling keras mendikte benar dan salah, kini berdiri di sana, diam, menyaksikan sesuatu yang dulu mereka tentang dengan penuh murka.

Lucu juga,” pikir Jarot. “Orang bisa berubah atau mungkin hanya berhenti berpura-pura.”

Suasana di gubuk mengental.Bukan seperti ritual khusyuk, tapi lebih seperti konspirasi senyap. Seseorang di dalam mulai berbisik, nadanya merayap, tak sepenuhnya tertangkap telinga namun jelas maknanya. Ini bukan lagi sekadar ritual, ini adalah keyakinan yang telah tumbuh terlalu lama untuk merasa perlu pembenaran.

“Dua tahun ….” bisik seseorang di samping Jarot. “… sudah dua tahun mereka begini.”

Jarot menghitung mundur. Dua tahun lalu ia sibuk dengan dunianya sendiri, buta terhadap apa yang terjadi di luar lingkaran kecil hidupnya. Atau mungkin, ia memang memilih untuk tidak melihat. Ia merasa tidak nyaman. Ternyata terlalu mudah menyalahkan orang lain, sementara dirinya sendiri adalah bagian dari kebiasaan untuk tidak bertanya. Malam ini, kebiasaan itu mulai retak.

“Ilmu ini bukan untuk semua orang,” suara di dalam gubuk kembali terdengar. Kali ini lebih tegas. “Hanya untuk yang berani melangkah lebih jauh.”

Kalimat itu akrab di telinga Jarot, janji tentang menjadi ‘lebih’: lebih baik, lebih tinggi, lebih dekat dengan rahasia yang tak terjangkau orang awam. Selalu ada harga yang disembunyikan di balik janji itu. Jarot sadar, yang ia saksikan bukan sekadar penyimpangan. Ini adalah cermin yang memantulkan rahasia kelam warga desa: hasrat untuk merasa istimewa di tengah kehidupan yang biasa-biasa saja.

Memperkaya diri dalam segala hal,” ia mengingat kalimat yang pernah ia dengar. Dulu ia menganggapnya omong kosong. Sekarang, ia tidak terlalu yakin. Bukan karena ia percaya, tapi karena ia mulai mengerti kenapa orang lain bisa percaya.

Sementara itu, di luar gubuk, langit mulai berubah warna. Subuh hampir benar-benar datang, tapi anehnya suasana justru terasa semakin jauh dari terang. Seperti ada sesuatu yang sengaja menahan cahaya untuk tidak masuk terlalu cepat.

Jarot menarik napas dalam-dalam. Ia sadar, ia bisa saja pergi sekarang. Kembali ke rumah, melanjutkan hidup seperti biasa, dan menganggap apa yang ia lihat sebagai sesuatu yang bukan urusannya. Itu pilihan yang paling mudah. Tapi langkahnya tidak bergerak. Ada sesuatu yang menahannya, keinginan untuk mengerti, meski harus berhadapan dengan hal-hal yang tidak nyaman.

Kalau ini salah,” pikirnya, “kenapa terlihat begitu meyakinkan?” Jika ini benar, ia tidak berani melanjutkan pikirannya.

Seseorang di dalam gubuk menoleh ke arah pintu. Pandangannya bertemu dengan mata Jarot, hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat waktu terasa berhenti. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada juga rasa malu. Hanya pengakuan diam bahwa Jarot sekarang tahu.

Jarot mundur selangkah. Ia berbalik. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Melapor? Pada siapa? Orang- orang yang mungkin juga sudah tahu tapi memilih diam? Atau diam saja seperti orang lain.

Ia tersenyum tipis. Bukan karena lucu, tapi karena mulai sadar bahwa pilihan-pilihan dalam hidup tidak selalu datang dalam bentuk benar dan salah. Kadang hanya ada pilihan antara nyaman dan jujur. Dan keduanya jarang berjalan bersama. Di kejauhan, suara azan mulai terdengar. Pelan, tapi pasti. Memanggil orang-orang untuk kembali pada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka.

Jarot berhenti sejenak. Ia merasa benar-benar bingung, bukan karena tidak tahu apa yang benar, tapi karena tidak tahu apakah ia cukup berani untuk mengikutinya. Pagi mulai terang, suara azan sudah selesai, dan orang-orang perlahan kembali menjadi warga biasa. Seolah apa yang terjadi barusan hanya milik beberapa jam yang tidak diakui oleh siang. Ia tahu satu hal: kalau ia pulang sekarang, semuanya akan kembali seperti semula. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia memilih untuk tidak menjadi bagian dari masalah itu. Dan itu, tiba-tiba, terasa seperti bentuk lain dari kebohongan.

Jarot berbalik. Ia menuju rumah Pak Lurah. Pintu belum sepenuhnya terbuka ketika ia berdiri di depannya.

“Pagi-pagi begini, Rot. Ada apa?” Pak Lurah muncul, masih setengah tertidur. “Ada yang harus Bapak lihat,” katanya.

Pak Lurah mengangguk pelan, lalu mengambil sarung yang tergantung di belakang pintu. Mereka berjalan bersama tanpa banyak bicara. Jalan yang tadi terasa biasa, sekarang seperti memanjang. Sampai di depan gubuk, kerumunan sudah jauh berkurang, tapi pintu masih terbuka. “Kamu yakin?” tanya Pak Lurah pelan. Jarot tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah lebih dulu. Pak Lurah ikut masuk.

Di dalam, suasana berubah, tidak ada bisikan yang menyimpan kesan rahasia. Orang-orang yang tadi terlihat seperti bagian dari sesuatu yang tersembunyi, sekarang berdiri seperti tuan rumah yang tidak merasa bersalah.

Di tengahnya, orang yang tadi berbicara itu menoleh lagi, kali ini ke Pak Lurah. Senyumnya tipis. “Akhirnya datang juga,” katanya.

Pak Lurah tidak langsung bicara. Ia menatap sekeliling. “Ini apa?” akhirnya ia bertanya.

“Bapak lebih pintar dari itu,” jawab orang itu.

“Pertanyaannya bukan ini apa, tapi kenapa sekarang baru dipertanyakan?” Jarot menoleh ke Pak Lurah.

Ia menunggu, mungkin untuk pertama kalinya benar- benar berharap ada seseorang yang mengambil sikap. “Sudah berapa lama?” tanya Pak Lurah, lebih pelan.

“Cukup lama untuk jadi bagian dari desa ini,” jawab orang itu, “dan cukup bermanfaat untuk tidak dibubarkan.”

Jarot menelan ludah. Ia datang dengan bayangan sederhana: benar atau salah. Sekarang, itu terasa seperti pilihan anak kecil.

“Kalau ini dibiarkan,” kata Jarot akhirnya, “desa ini jadi apa?” Orang itu menatapnya lama.

Mengulang pertanyaan Jarot. “Desa ini sudah jadi sesuatu, bahkan sebelum kamu sadar,” lanjutnya.

“Pertanyaannya bukan mau jadi apa, tapi kamu mau ada di bagian yang mana.” Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman.

Jarot merasakan sesuatu yang lebih berat dari takut: tanggung jawab.

Pak Lurah menarik napas panjang, menimbang sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata. Ruangan itu tetap sunyi, tapi bukan sunyi yang kosong, lebih seperti sunyi yang menunggu.

“Apa yang kalian lakukan ini,” akhirnya Pak Lurah membuka suara, “kalian tahu risikonya?”

“Semua yang bernilai selalu punya risiko,” jawabnya tenang. “Yang jadi masalah bukan risikonya, tapi siapa yang berani mengakuinya.”

Jarot merasakan sesuatu bergeser. Percakapan beralih pada negosiasi yang tak berujung. Beberapa orang saling melirik. Jarot mendekati meja, mengamati potongan kain, botol kecil, serpihan kayu yang diukir aneh. Sambil menyusun argumen, Jarot menyentuh benda-benda itu.

“Kalau desa ini benar-benar cukup,” katanya tanpa menoleh, “kenapa banyak dari kalian diam-diam mencari lebih?”

Ia menatap lurus ke arah Jarot. “Atau kamu mau bilang kamu tidak pernah merasa kurang?”

Pertanyaan itu telak. Jarot tidak segera menjawab, bukan karena tidak punya jawaban, melainkan karena ia tengah membendung sesuatu yang selama ini ia kunci rapat: rutinitas yang berjalan di tempat, namun bergerak. Perasaan janggal yang ia rasakan pagi tadi tiba-tiba menemukan bentuknya. Jarot tidak mundur.

“Merasa kurang bukan alasan untuk membenarkan apa saja,” katanya pelan, namun nadanya lebih padat.

Orang itu mengangguk kecil. “Benar. Tapi menolak semua kemungkinan juga bukan tanda kebijaksanaan.” Kalimat itu dilempar ringan, tapi jatuhnya berat.

Pak Lurah menghela napas. Ia tampak semakin tidak nyaman, bukan karena tidak setuju, tapi karena kehilangan posisi untuk menolak tanpa harus membuka terlalu banyak hal.

“Ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya tegas. Namun, ketegasan itu terasa seperti sesuatu yang baru saja dirakit, bukan sesuatu yang sudah lama ia yakini.

Orang-orang di dalam gubuk tak bereaksi berlebihan. Tidak ada kepanikan, pun bantahan keras. Hanya ada perubahan kecil dalam cara mereka berdiri: lebih siap, lebih sadar, seolah sudah lama menunggu momen ini.

“Dibiarkan atau tidak, itu keputusan Bapak,” ujar orang itu tenang.

“Tapi sebelum memutuskan, mungkin Bapak perlu jujur pada desa ini dan pada diri sendiri. Selama dua tahun ini, tidak ada yang benar-benar terganggu. Tidak ada yang hancur. Bahkan, jika Bapak mau jujur, ada hal-hal yang justru membaik.”

Jarot melihat sesuatu di wajah Pak Lurah, bukan sekadar keraguan, tapi ingatan. Hal-hal kecil yang dulu dianggap kebetulan. “Ini bukan soal hasil,” kata Jarot cepat, “ini soal cara.”

“Semua orang peduli pada cara, sampai mereka melihat hasilnya.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Kali ini lebih berat.

Pak Lurah menatap pintu, lalu kembali ke dalam. Wajahnya berubah, bukan jadi lebih tegas, tapi lebih lelah.

“Kita bicarakan ini di balai desa,” katanya pelan, tapi jelas. “Bukan di sini.” Orang itu mengangguk. Tidak menolak, tidak juga terlihat khawatir.

“Baik,” jawabnya singkat.

Jarot merasakan sesuatu yang aneh. Ia datang dengan harapan ada garis tegas. Tapi yang ia dapat justru sesuatu yang lebih rumit. Mereka keluar dari gubuk itu bersama-sama. Cahaya pagi terlalu terang. Beberapa warga yang tadi masih berkeliaran kini berpura-pura sibuk.

Desa itu kembali pada keahliannya: tahu, tapi tidak ingin tahu. Jarot berhenti sejenak di ambang pintu. Ia melangkah keluar. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar, ini bukan lagi tentang apa yang ia lihat. Tapi tentang apa yang akan ia hadapi setelah semua orang lain berhenti melihat.

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian