Semarang – Semangat toleransi dan kepedulian terhadap lingkungan hidup mewarnai kegiatan Kenduren Pesisiran yang digelar di TPQ Al-Firdaus, Tambakrejo, Semarang, Jumat (21/8/2026).
Lebih dari 80 orang menghadiri Kenduren Pesisiran guna memperingati Hari Lahir (Harlah) Gus Dur. Tamu undangan berasal dari masyarakat Tambakrejo, jejaring lintas agama, relawan Griya Belajar, hingga mahasiswa.
Kegiatan yang digagas GUSDURian Semarang bersama Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) ini diisi dengan pemutaran film bertema ekologis, yakni film pendek berjudul Ketika Mangkang Menjadi Mangkok karya LPM Justisia UIN Walisongo Semarang.
Ana Musfaidah (42), warga setempat yang juga mengajar di TPQ dan madrasah, menilai kegiatan tersebut menjadi ruang penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus merawat kerukunan di tengah masyarakat.
”Acara ini sangat bagus. Selain mengingat Harlah Bapak Gus Dur, warga dan para hadirin dari lintas agama bisa berkumpul menjadi satu sehingga semakin rukun,” ungkap Ana.
Menurut dia, kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling berinteraksi dan bekerja sama.
”Tidak membedakan antara agama yang satu dengan yang lain. Kita semua saling toleransi. Anak, ibu, bapak, dan tamu-tamu lintas agama berkumpul. Warga juga sangat antusias nonton bareng, tahlilan bareng, dan makan bareng,” tambahnya.
Suasana kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari tradisi kenduren, yang tidak hanya menghadirkan masyarakat dalam satu ruang, tetapi juga membuka kesempatan untuk membangun komunikasi dan persaudaraan lintas agama.
Sejumlah kegiatan digelar dalam Kenduren Pesisiran. Acara diawali dengan doa dan tahlil bersama untuk mengenang sosok Gus Dur, serta mengingat kembali gagasan beliau mengenai kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme.
Di sela-sela rangkaian doa tersebut, peserta juga melakukan sesi mengheningkan cipta sebagai wujud solidaritas dan doa bersama untuk para korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Papua, dan daerah lain yang dilanda kesulitan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan nonton bareng sebuah film bertema lingkungan. Pemutaran film tersebut menjadi sarana untuk mengajak masyarakat pesisir melihat kembali pentingnya menjaga ekosistem laut dan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
Dafa, salah satu mahasiswa yang berperan sebagai kru produksi film Ketika Mangkang Menjadi Mangkok, menuturkan bahwa karya tersebut mengingatkan bahwa isu penurunan muka tanah di Semarang sangat nyata, terutama di daerah pesisir.
”Sejujurnya film ini mengajak kita berefleksi bahwa isu masalah lingkungan di kawasan pesisir, yakni penurunan muka tanah, sangatlah nyata dan perlu perhatian dari berbagai pihak,” ungkap Dafa.
Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama. Tradisi tersebut memperkuat suasana keakraban antara warga, penyelenggara, serta para tokoh dan peserta dari berbagai latar belakang agama.
Bagi GUSDURian Semarang, Kenduren Pesisiran merupakan bagian dari rangkaian Road to Festival Jagat. Agenda yang diinisiasi Sekretariat Nasional (Seknas) GUSDURian ini akan berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 di Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak, Jombang, Jawa Timur.
Pesan toleransi dan kepedulian ekologis yang diusung dalam kegiatan ini sejalan dengan semangat Festival Jagat yang mengangkat tema ”Agama untuk Semesta”.
Festival tersebut akan menghadirkan sejumlah agenda yang menggabungkan refleksi keagamaan, kemanusiaan, kebudayaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ibnu Ghifari selaku ketua panitia menyampaikan harapan agar ke depan acara GUSDURian semakin berkelanjutan, lebih baik lagi, dan bisa melibatkan masyarakat lebih luas.
”Semoga berkelanjutan dan lebih baik ke depan, bisa lebih melibatkan masyarakat lebih luas dan begitu juga dampak yang lebih besar,” ujar Ibnu.
Peringatan Harlah Gus Dur tahun ini dikemas secara sederhana, namun sarat akan nilai keintiman yang mendalam terhadap masyarakat marjinal. Kenduren Pesisiran menjadi salah satu contoh bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, melalui perjumpaan, makan bersama, dialog lintas iman, serta kepedulian terhadap lingkungan tempat warga hidup dan menggantungkan kehidupannya. (SDH)