Semarang – GUSDURian Semarang kembali menyelenggarakan kegiatan Griya Belajar Semarang pada 21 Agustus 2026 di TPQ Al-Firdaus, Tambakrejo, Semarang. Acara ini merupakan salah satu program kerja jangka panjang selama enam bulan ke depan dengan target masyarakat kelas menengah ke bawah, dan kini telah terlaksana sebanyak dua kali.
Sri Puji selaku Ketua Panitia sekaligus Presidium GUSDURian Semarang menjelaskan, Griya Belajar Semarang adalah program pengabdian di bidang pendidikan yang diinisiasi oleh GUSDURian Semarang.
Ia menambahkan bahwa program ini memiliki tujuan besar, yaitu al-insan al-kamil, dengan sasaran menumbuhkan aspek rasional (daya berpikir kritis), karakter (adab dan etika), serta spiritualitas anak didik.
”Kami ingin menumbuhkan anak didik yang al-insan al-kamil, dengan tujuan supaya anak dapat berlatih rasional, memiliki karakter, maupun spiritualitas yang bahagia,” tambah Sri Puji.
Selain itu, Griya Belajar Semarang membuka kesempatan relawan bagi siapa saja yang tertarik untuk ikut membantu menjadi fasilitator mengajar di TPQ Al-Firdaus. Menjadi fasilitator juga memberi pengalaman luar biasa tentang cara mengajar dan memahami berbagai karakter anak.
Diva Ramadani, seorang mahasiswa Universitas Wahid Hasyim yang menjadi relawan, menyampaikan kesan mendalam saat mengikuti kegiatan Griya Belajar.
”Kalau saya tadi ada di bagian kelas kecil. Mereka itu sangat antusias dan yang membuat saya terkesan, mereka mau terbuka untuk belajar hal baru, bahkan mau menceritakan kegiatannya saat di sekolah,” ujar Diva Ramadani.
Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh warga maupun anak-anak setempat. Para ustazah juga merasa terbantu dengan adanya Griya Belajar Semarang karena membuat pembelajaran di TPQ Al-Firdaus menjadi bervariasi dan tidak monoton.
”Kami sangat terbantu dengan adanya Griya Belajar Semarang karena menyediakan berbagai variasi pembelajaran yang menarik bagi anak-anak. Jadi, pembelajaran di TPQ tidak monoton,” ujar Ana Musfaidah, Ustazah TPQ Al-Firdaus Tambakrejo.
Antusiasme anak-anak juga tidak kalah ramai. Mulai dari usia dini, SD, sampai SMP, mereka menyambut dengan sukacita kedatangan para relawan yang akan belajar bersama. Anak-anak juga diajarkan cara agar berani mengekspresikan diri dan berpikir kritis melalui berbagai permainan dalam pembelajaran.
Nisa, murid kelas 2 SD, sangat antusias dan mengharapkan kembali acara serupa. Ia bercerita, gara-gara kegiatan tersebut, ia ingin menjadi guru tari.
”Senang karena seru, mainan menyusun puzzle, tebak-tebakan, dan baca dongeng. Aku ingin kegiatan ini lagi. Cita-citaku menjadi guru menari,” ucapnya dengan ceria.
Ibnu Ghifari sebagai perwakilan panitia dan penggerak GUSDURian Semarang berharap kegiatan Griya Belajar dapat menjadi ruang bagi relawan maupun masyarakat umum mengenai pentingnya pendidikan sejak dini.
”Harapannya untuk para relawan bisa mendapatkan ilmu dan hal baru yang belum mereka dapatkan sebelumnya, dan para relawan tidak merasa tidak mendapatkan apa-apa dalam kegiatan itu,” ujar Ibnu. (SDH)
Penulis: Fadilatun Nikmah (Volunteer Griya Belajar Semarang)