Makassar – Siang yang terik, tepatnya di Cafera, Jalan Alternatif Perintis Kemerdekaan, Makassar, suasana Minggu sore 16 Agustus 2026 terasa berbeda.
Ruang itu dipenuhi tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, aktivis Mahasiswa dan aktivis lingkungan. Mereka duduk bersama membicarakan nasib warga Buloa.
Suaib Prawono, Korwil GUSDURian Sulampapua, tampil sebagai fasilitator; mengarahkan jalannya diskusi temu jejaring dan kelembagaan, dengan fokus pada tiga isu utama dan mendesak: krisis air bersih, penanganan sampah, dan penguatan majelis ta’lim Buloa.
Acara yang diinisiasi oleh komunitas Gusdurian Makassar ini dihadiri tokoh lintas agama dan lembaga, diantaranya Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag., dewan Pembina Gusdurian, Pdt. Adrie Massi, Ustad Hasan Pinang, Yusran Sofyan, perwakilan Baznas Kota Makassar serta sejumlah aktivis lingkungan dan NGO.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa isu Buloa bukan sekadar masalah lokal dan administrasi melainkan persoalan kemanusiaan yang menuntut solidaritas lintas iman dan lembaga.
Dari pertemuan itu, terungkap dua masalah akut: krisis air bersih dan penanganan sampah. Ironisnya, krisis air bersih telah berlangsung lebih dari 25 tahun.
“Kami sudah capek dijanji-janji,” ungkap Ibu Ida, tokoh perempuan Buloa dalam pertemuan tersebut.
Menananggapi hal itu, Yusran Sofyan, menyamapaikan komitmennya akan membantu pengadaan sumur bor. Namun, langkah itu akan diawali dengan asesmen: mendata jumlah warga terdampak, keluarga rentan, serta titik layanan yang belum dijangkau pemerintah.
“Insya Allah, Baznas bisa membantu dalam pengadaan sumur bor. Adapun data yang dibutuhkan jumlah mustahik keluarga yang butuh fasilitas air, titik yang sudah dilayani dan belum terlayani, serta data kelompok rentan,” ujar Yusran Sofyan.
Sementara itu, Rahmat Hidayat, aktivis lingkungan, menekankan perlunya mapping problem terkait sampah. Ia menawarkan konsep edukasi dan integrasi program barter: sampah ditukar air.
“Kami bisa terlibat dalam edukasi terkait sampah dan mengintegrasikan masalah dengan program barter, misal sampah ditukar air,” jelasnya.
Pertemuan di Cafera itu menjadi titik awal kolaborasi nyata. Krisis yang menahun akhirnya mendapat perhatian serius, dengan janji kontribusi dari berbagai pihak. Harapan warga Buloa kini bertumpu pada sinergi lembaga dan tokoh lintas iman, agar air bersih dan lingkungan sehat bukan lagi sekadar mimpi.
Usai pertemuan, Ibu Idah bersama sejumlah warga Buloa tak henti-hentinya menyampaikan rasa syukur. Mereka menyalami para fasilitator, mengucapkan terima kasih kepada komunitas Gusdurian beserta jejaringnya yang telah memfasilitasi pertemuan bersejarah itu.
Bagi warga Buloa, kesempatan duduk bersama tokoh lintas agama dan lembaga adalah sebuah pengakuan atas penderitaan panjang mereka.
Selain itu, program baca tulis Alquran lewat kegiatan Majelis Ta’lim juga Mendapat Solusi dari tiga masalah utama yang dibahas — air bersih, sampah, dan majelis ta’lim.
“Bagi kami, bukan hanya anak-anak yang perlu belajar, tetapi juga orangtua,” ungkap ibu Ida.
Bagi warga Buloa, Majelis ta’lim bukan sekadar ruang belajar, melainkan simbol harapan: bahwa spiritualitas dan pendidikan bisa berjalan beriringan dengan perjuangan mendapatkan air bersih dan lingkungan sehat.
Selain menjadi wadah pendidikan baca tulis Al-Qur’an, majelis ta’lim di Buloa kedepannya akan dirancang sebagai ruang sosialisasi tentang pentingnya merawat lingkungan dan pemenuhan air bersih.
Lewat pengajian bulanan, warga akan mendapatkan materi fiqhi lingkungan; sebuah pendekatan yang menekankan bahwa menjaga kebersihan, mengelola sampah, dan memastikan akses air bersih adalah bagian dari tanggung jawab keimanan.
Majelis ta’lim menjadi jembatan antara kebutuhan spiritual dan kebutuhan hidup sehari-hari. Di ruang itu, ayat-ayat suci tidak hanya dibacakan, tetapi juga dikaitkan dengan realitas: bagaimana air bersih adalah hak dasar, bagaimana sampah yang menumpuk bisa menjadi ancaman kesehatan, dan bagaimana iman menuntun pada kepedulian terhadap bumi.
Dengan demikian, majelis ta’lim bukan hanya ruang belajar Al-Qur’an, tetapi juga laboratorium sosial yang menumbuhkan kesadaran kolektif.
“Kita berharap, dari masjid Buloa, lahir gagasan besar: bahwa iman dan lingkungan bisa dirawat bersama, agar kehidupan warga menjadi lebih sehat, bermartabat, dan berkelanjutan,” ujar Koordinator Gusdurian Makassar, Fathurrahman Marzuki. (SDH)