Peristiwa

GUSDURian Pekalongan Rawat Nilai-nilai Gus Dur dengan Walking Tour Keberagaman

Pekalongan – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sekaligus HUT ke-81 RI, Komunitas GUSDURian Pekalongan menggelar kegiatan Walking Tour Keberagaman dengan berkunjung ke rumah ibadah lintas iman, Minggu (16/8/2026).

Dalam kesempatan kali ini, Komunitas GUSDURian Pekalongan berkolaborasi dengan Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kota Pekalongan berkunjung ke Gereja Paroki St. Petrus dan Klenteng Po An Thian di Kota Pekalongan. Kegiatan ini diikuti sekitar 40 peserta dari pelbagai latar belakang agama dan organisasi pemuda.

Para peserta disambut hangat oleh pengurus Klenteng Po An Thian, Heru Wibawanto Nugroho, dan Imam Gereja Katolik St. Petrus, Romo Yohanes Suratman.

Melalui perjumpaan langsung di setiap rumah ibadah, para peserta diajak mengenal sejarah bangunan suci serta berdialog mengenai nilai-nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat Pekalongan. Pola interaksi kasual ini dinilai efektif mengikis sekat prasangka antarumat beragama.

Menurut Presidium Komunitas GUSDURian Pekalongan, Amir Muzaki, walking tour ini merupakan pelaksanaan edisi kedua. Sebelumnya, kegiatan serupa pernah dilaksanakan pada Desember 2025 dengan mengunjungi pura di Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.

“Ini walking tour yang kedua. Dulu pernah terlaksana berkunjung ke pura Hindu di Linggoasri,” jelas Amir.

Lebih lanjut, Amir mengemukakan bahwa tujuan digelarnya acara ini adalah untuk menyediakan ruang belajar bersama dan memahami keberagaman yang ada di Pekalongan.

“Tujuan adanya acara ini adalah untuk mengajak masyarakat Pekalongan, khususnya generasi muda, agar bisa lebih menghargai keberagaman, seperti yang diajarkan oleh Gus Dur. Terlebih lagi ini masuk momentum kemerdekaan juga,” tutur Amir.

Penggabungan momentum Harlah Gus Dur dan peringatan kemerdekaan mempertegas pesan bahwa merawat kebhinekaan merupakan fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa.

Ia berharap, pascakegiatan ini para peserta bisa lebih menghargai sesama dan tidak canggung lagi ketika berinteraksi dalam ruang publik yang majemuk.

“Semoga para peserta bisa lebih menghargai sesama dan tidak takut lagi ketika diajak berkegiatan dengan lintas iman,” pungkasnya. (SDH)

Satrio Dwi Haryono

Author at Kampung GUSDURian