Jombang – Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pada Mubes Warga NU 2026 (28/8/2026), istri dari mendiang Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur), melontarkan kritik terhadap keterlibatan dan minimnya ruang bagi ulama perempuan dalam forum-forum resmi keagamaan, di mana hal tersebut juga tidak mengecualikan NU.
Kritik ini dilontarkan oleh Nyai Sinta di depan banyak ulama dan ratusan warga NU dalam forum Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama yang berlangsung di hari Jumat, 28 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang.
Mula-mula Nyai Sinta mengucapkan rasa senangnya, berkat Mubes tahun ini digelar di tempat yang menurutnya sangat tepat. Pasalnya, Pondok Pesantren Seblak memiliki nilai sejarah dalam pendiriannya. Pesantren ini didirikan oleh ulama perempuan, Nyai Hj Khairiyah Hasyim, putri sulung Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang menurutnya menjadi simbol yang amat penting terhadap keterlibatan perempuan dalam gerakan-gerakan kenegaraan dan pendidikan di Indonesia.
Dalam pengantar singkatnya, Nyai Sinta juga banyak menyoroti eksistensi kekacauan kultural yang kerap terjadi di badan masyarakat keagamaan. Menurutnya, publik secara luas sadar dan memahami bahwa doa ibu merupakan doa yang paling mustajab bagi anak, bangsa, dan negara. Namun, di sisi lain, pengakuan tersebut kerap tidak tercermin dalam struktur protokoler acara formal keagamaan yang masih didominasi oleh figur laki-laki.
”Doa ibu adalah doa yang paling mustajab. Dan dalam keadaan apa pun, seorang anak akan meminta doa restu dari ibunya,” ujar Nyai Sinta di hadapan semua yang hadir.
Kemudian ia mulai mengungkapkan kekecewaannya atas praktik yang sering dia saksikan sendiri di forum-forum resmi, yang mana sesi pembacaan doa keselamatan dan keberkahan bangsa seakan-akan hanya dilimpahkan secara eksklusif kepada para kiai dan tokoh laki-laki.
”Semua alim ulama diminta untuk membacakan doa. Semua itu dimintakan dari laki-laki. Lantas ibunya di mana? Padahal yang paling mustajab adalah doa dari ibu, tetapi tidak satu pun ibu yang dimintakan doa,” tegasnya.
Nyai Sinta kemudian melanjutkan dengan pesan bahwa peniadaan peran-peran perempuan dalam ruang publik bertentangan dengan beberapa prinsip dasar yang diakui dan telah hidup dalam tradisi Islam. Ia mengutip pepatah masyhur, ”an-nisa’u ‘imadul bilad, idza shaluhat shaluhatil bilad, wa idza fasadat fasadatil bilad”. Pepatah ini menegaskan bahwa perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik maka baiklah suatu negara, dan apabila wanitanya rusak, maka rusaklah pula suatu negara.
Rangkaian Forum Kelompok Mubes Warga NU
Usai sesi pleno pada pagi hari, Mubes Warga NU 2026 dilanjutkan dengan kerja kelompok yang terbagi dalam empat forum pembahasan hingga sore hari. Forum Mbah Wahab berfokus mendalami isu kemandirian NU, demokrasi, dan kemaslahatan jamaah di bawah panduan fasilitator Suraji serta notulis Ubaidillah Fatawi. Sementara itu, isu sensitif seputar politik uang, integritas, serta demokrasi internal NU dibedah dalam Forum Mbah Bisri yang difasilitator Marzuki Wahid bersama notulis Ayu.
Di komisi lain, Forum Mbah Wahid yang dipandu Ahmad Hakim Jayli dan notulis Firda Ainun merumuskan penguatan kewargaan NU, mengubah orientasi dari sekadar jamaah pasif menjadi gerakan warga yang berdaya. Adapun isu keperempuanan dan keadilan gender menjadi bahan diskusi mendalam di Forum Mbah Khoiriyah bersama fasilitator Nur Rofiah atau Iklilah serta notulis Ubai Rauf.
Seluruh rumusan dari keempat forum kelompok tersebut kemudian dirangkum dengan panduan dari masing-masing fasilitator. Hasil kesepakatan akhir tersebut selanjutnya disampaikan secara resmi kepada publik lewat sesi konferensi pers di kompleks Pesantren Seblak, Jombang. (SDH)