Jombang – Komunitas Gusdurian Makassar memfasilitasi kelas edukasi lingkungan berbasis permainan interaktif dalam rangkaian Festival Jagat, Sabtu (29/8/2026), di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur. Bertempat di lantai dua gedung Madrasah Aliyah Salafiyah Syafiiyah Seblak, kegiatan ini memanfaatkan media kartu kuartet untuk mengedukasi peserta mengenai klasifikasi sampah dan konservasi lingkungan.
Kurang lebih 45 peserta yang didominasi pelajar tingkat madrasah tsanawiyah (MTs) serta beberapa pelajar tingkat madrasah aliyah (MA) mengikuti kelas tersebut. Kelas dipandu oleh dua orang fasilitator yang kemudian membagi peserta ke dalam sepuluh kelompok kecil yang beranggotakan tiga hingga empat orang guna memudahkan interaksi dan jalannya permainan.
Fasilitator dari Komunitas Gusdurian Makassar, Indri, menjelaskan bahwa penggunaan media kartu kuartet bertujuan merombak stigma negatif terhadap sampah sekaligus menyederhanakan materi agar mudah dicerna oleh kalangan remaja.
“Kami ingin mengenalkan dan mengedukasi seputar sampah melalui medium yang menyenangkan agar lebih efektif ditangkap anak-anak usia MTs. Kami ingin mengubah pandangan bahwa sampah tidak selalu bernilai negatif, melainkan bisa diolah menjadi hal bermanfaat dan positif, misalnya seperti kompos,” ujar Indri kepada tim Kampung Gusdurian.
Indri menyoroti antusiasme peserta cukup tinggi selama kelas berlangsung, meskipun ia dan rekannya harus mengelola puluhan peserta sekaligus. Keterlibatan aktif peserta terlihat dari tingginya dialog interaktif hingga adanya peserta yang meminta set kartu tersebut setelah sesi usai.
Selain pengolahan limbah padat, fasilitator juga menyelipkan refleksi krisis tentang sumber daya air. Fasilitator lainnya, Danu, menuju penghujung acara menuturkan bahwa para peserta patut bersyukur memiliki kemudahan akses belajar dan air bersih, di mana ini merupakan kondisi yang kontras dengan realitas masyarakat di salah satu desa dampingan mereka di Sulawesi.
Melengkapi pesan tersebut, Indri turut mengajak para santri memulai aksi nyata dari kebiasaan sehari-hari.
“Adik-adik harus mulai mengusahakan gerakan-gerakan kecil, seperti yang saat ini masih menyalakan keran dengan keras untuk segera dipelankan, sebagai bentuk penghematan air,” pungkas Indri.
Melalui pendekatan permainan yang partisipatif ini, edukasi ekologis diharapkan mampu membentuk kebiasaan hemat energi serta mendorong kesadaran santri dalam mengelola lingkungan pesantren secara berkelanjutan.