Oleh: Warsono Abi Azzam
KALAU musim rendheng datang, Banjarwaru selalu tercium sebelum terlihat: bau tanah basah, jerami lapuk, daun pisang kuyup, dan asap pawon bercampur. Melewati makadam dua kilometer dari aspal kabupaten yang retak, terhampar sawah dan kebun kelapa seperti orang tua kurus sedang tafakur. Di kejauhan, samar debur Segara Kidul terdengar, laut tak tampak, tapi asin anginnya menumpang senja.
Banjarwaru di Cilacap timur, dekat Kebumen. Warganya menanam padi kala hujan baik, singkong jika pelit. Menanam harapan tiap tahun, meski dipanen kecewa. Lelakinya menjadi buruh bangunan, menyadap nira, atau menunggu kerja. Perempuannya lebih tabah: menanak nasi, menjemur gabah, mengurus anak, dan menambal retak rumah tangga dengan senyum dipaksa.
Di ujung desa sebelum rawa, langgar papan kecil berdiri dijaga Mbah Kasan. Cat hijaunya pudar seperti doa yang sering disentuh hujan. Di serambinya, lampu teplok tua menyala paling akhir saat listrik padam.
Tak tahu pasti umurnya, wajahnya berkerut seperti kulit jati dengan mata jernih jenaka. Bersarung lurik dan peci hitam mengelupas bulunya, jalannya pelan seolah menimbang perasaan bumi agar tak sakit saat dipijak. Kerap disapa Mbah, meski bukan kiai besar. Tak punya pesantren, tak pernah masuk televisi atau ceramah Muludan atau Rajaban. Namun bila ada sengketa tanah, anak kabur, suami mabuk atau hutang, warga datang ke langgar itu. Sebab sebagian persoalan memang lebih butuh telinga daripada fatwa.
***
Di desa kecil, amarah tumbuh lebih cepat daripada padi, terutama bagi Jatmiko yang pulang dari Jakarta berwajah kalah membawa jaket tipis dan kebiasaan mengumpat setelah tiga tahun merantau. Orang memanggilnya Miko.
Ayahnya, penderes kelapa, jatuh saat Miko SMP. Ibunya jualan gorengan di pasar Kroya. Rumah mereka berlantai semen kasar, berdinding gedek, atapnya bocor dua tempat. Miko ingin mengubah nasib, tetapi nasib lebih licin dari belut sawah.
Malam pertama ia pulang, ibunya menggoreng tempe garing. “Ora popo durung hasil, Le. Sing penting bali slamet waras.” Miko mengangguk, tahu beras tinggal seperempat kaleng.
Ia banyak duduk di warung kopi Yu Tinem dekat pertigaan, warung seng berbau kopi tubruk dan minyak jelantah tempat para lelaki mengomentari dunia sambil hutang rokok.
“Negara kiye wis ora bener. Sing sugih tambah sugih, wong cilik mung dikon sabar bae,” kata Miko menepuk meja.
“Lha apa kowe duwe obaté?” tanya Tarno.
“Obaté ya wani! Aja lembek. Kudu tegas marang wong-wong sing ngrusak agama lan desa.”
Kalimat itu gampang mendapat anggukan. Orang lelah sering mengira suara keras adalah kebenaran.
Di ponselnya, video pendek ceramah marah beredar tanpa henti. Layar membuat dunia tampak sederhana, kawan atau lawan. Padahal hidup di kampung tidak sesederhana itu. Sawah sepetak saja batasnya sering bergeser. Namun orang muda yang hatinya kalah kadang butuh musuh agar tak merasa gagal.
***
Suatu malam sekira jam sebelasan, langgar tua dilempari batu. Kaca pecah, dinding bolong, dan karpet lusuh penuh kerikil. Tak ada yang terluka, tetapi kabar menjalar seperti api menyambar ilalang kering.
Pagi-pagi warung Yu Tinem sesak.
“Pasti si pendatang itu!” seru seseorang menuduh keluarga Tjoa.
Keluarga Tjoa adalah pendatang baru yang menyewa rumah dekat pasar desa. Mereka membuka toko kelontong kecil. Istrinya ramah, suaminya pendiam, anaknya kurus dan sering batuk.
“Wingi aku weruh dheweke liwat langgar,” kata yang lain. “Lha liwat dalan kok dadi salah?” celetuk seseorang, tenggelam oleh kegaduhan.
Miko berdiri, matanya menyala seperti bara dikipasi angin. “Angger meneng bae, ngesuk dewek gari sing diinjek! Ayo takok langsung!”
Beberapa pemuda menyahut membawa kayu. Massa lahir dari campuran marah, bosan, dan ingin terlihat penting. Sandal berderap di jalan becek, amarah memang suka suara ramai.
Ketika rombongan bergerak, Mbah Kasan datang membawa tongkat bambu. Langkahnya lambat, namun membuat suasana mendadak seperti sawah ketika angin berhenti.
“Arep pada maring endi?” tanya Mbah Kasan.
“Nyari keadilan, Mbah!” seru Miko.
“Keadilan apa, deneng geger?” Mbah Kasan mengangkat alis.
“Langgar dibalangi! Masa meneng bae, Mbah?”
“Sing mbalangi sapa?”
“Ya mesthi wong kae!”
“Ana bukti apa mung kira-kira?”
Tak ada yang menjawab. Mbah Kasan menatap mereka. “Wong nesu kuwe gampang. Sing angel kuwe laku adil. Angger kowe ngukum tanpa bukti, kowe mung mindhah dosa sekang tangan liyan maring tanganmu dhewek.”
Lalu ia menunjuk Miko. “Kowe, melu aku.”
***
Rumah Tjoa di pinggir pasar, berdinding batako belum diplester. Di depannya tergantung papan “TOKO BERKAH” bercat biru luntur. Ember, galon, dan karung beras tersusun di teras.
Saat diketuk, perempuan berwajah cemas membuka pintu, memandang Miko lalu menunduk. “Pak, kalau ada salah, saya minta maaf,” katanya terbata.
Mbah Kasan masuk, Miko mengikuti. Di ruang tengah sempit, anak laki-laki terbaring di dipan bambu dengan napas berat. Di meja ada obat warung, termometer murah, dan bubur tak habis. Lelaki kurus membawa kardus mi instan datang.
“Anak saya panas dari tadi malam, belum sempat ke puskesmas.”
Miko merasa tenggorokannya kering. Ini bukan markas perusuh bayangannya. Ini hanya rumah orang kecil yang repot menahan hidup agar tidak rubuh.
Mbah Kasan duduk di kursi plastik. “Wengi mau panjenengan neng endi?”
“Di rumah, Pak. Anak saya demam.” Perempuan itu cepat- cepat menambahkan, “Bisa tanya tetangga.”
Miko menunduk. Tuduhan semalam kini seperti sandal jepit putus di tengah jalan, memalukan.
Mbah Kasan menoleh pada Miko. “Delengen, Ko. Kadhang wong diukum udu merga salah, ningen merga beda.”
Kalimat itu masuk seperti air hujan rembes ke tanah retak.
***
Malamnya, hujan deras membasahi langgar. Di serambi, lampu teplok menyala kecil tapi tekun. Miko duduk bersila di depan Mbah Kasan, sarungnya, kepalanya penuh tanya.
“Mbah, kenapa Mbah mbela mereka?”
Mbah Kasan tersenyum. “Aku ora mbela ‘mereka’. Aku mbela manungsane.”
Ia mengangkat lampu teplok, menatap nyalanya. “Delengen. Urubé siji, cahyané tumiba nang endi-endi. Gusti Allah ora butuh dibela nganggo kepati. Sing butuh dibela kuwe wong sing diremehna.”
“Itu namanya tauhid?” tanya Miko.
“Tauhid kuwe udu mung nyebut asmane Gusti. Tauhid kuwe ngerti yen kabeh asalé saka siji. Yen asalé siji, martabate ya kudu dijaga kabeh. Wong kadhang apal asmane Gusti, tapi ora paham carane dadi cahya.”
Api teplok bergoyang kecil ditiup angin. “Lha wong sing beda agama?”
“Yen udan tiba, apa milih gendheng?”
“Lha wong miskin?”
“Sing paling butuh payung ya wong sing ora duwe payung.”
“Lha wong sing sengit?” Mbah menghela napas.
“Wong sing kebek sengit kuwe kaya wong nggembol geni. Niyaté ngobong liyan, tangane dhéwéké sing geseng.”
“Netepna samubarang na panggonané. Ora merga kancamu padha banjur bener. Ora merga beda banjur salah.”
“Kesetaraan?”
“Ndeleng wong nganggo mata langit. Langit ora tau milih nutupi omah gedhong thok.”
Miko merasa malu sekaligus lega.
“Kalau pembebasan?”
“Merdekakna pikiranmu sekang wedi lan sengit. Wong sing kebek sengit kuwe sejatine budhak.”
Hujan memukul genting kian nyaring. Miko memandang
sekeliling langgar yang lapuk. “Mbah, hidupnya kok sederhana banget?”
Mbah terkekeh. “Barang sethithik, rebutan sethithik. Ati luwih lega. Kesederhanaan kuwe pager sekang sipat mbrangas utawa srakah.”
“Terus ksatria?”
“Wani bener sanadyan dhewekan. Wani njaluk ngapura yen kliru. Kuwe luwih angel ketimbang ngantemi wong.”31
Kata-kata itu tidak menggelegar seperti video ponsel, tetapi karena tenang, ia meresap lebih dalam.
***
Dua hari kemudian pelaku tertangkap: dua remaja mabuk desa sebelah yang melempar lalu lari dikejar anjing. Banjarwaru mendadak bagai orang salah bicara di depan umum.
Di warung Yu Tinem, kopi ditubruk dan rokok diutang tanpa percakapan ramai. Bila nama keluarga Tjoa disebut, seseorang akan berdeham, ada yang menatap jalan, beberapa pura-pura mengaduk gula yang sudah larut.
Namun, kenyataan tak jarang tekuk lutut di hadapan gengsi.
“Ya tapi wong pendatang ya kudu tau diri,” gumam Tarno
“Bener. Umah nang kene ya kudu nyocokna adat kene,” sahut yang lain. Ucapan lirih itu terasa licin.
Miko di sudut. Dahulu kalimat itu disambut tepukan meja. Kini, terdengar bagai suara yang dipantulkan sumur tua. Ia ingin menyanggah, tapi lidahnya kaku, malu lebih berat dari marah.
Yu Tinem meletakkan kopi. “Ngapa meneng bae, Ko?” Miko menatap cairan hitam di gelas. “Aku salah, Yu.”
Yu Tinem mendengus. “Wong salah ya umum. Sing langka kuwi wong gelem ngakoni.”
Kalimat itu menamparnya keras. Banjarwaru pura-pura lupa, tapi Miko tidak bisa lupa.
***
Sorenya ia melewati toko keluarga Tjoa. Pintu terbuka separuh. Pemilik toko terkejut melihat orang berhenti dan refleks mundur, gerakan yang menusuk dada Miko. Fitnah membuat orang takut pada langkah di pintunya sendiri. Bimo mengintip lalu bersembunyi. Suaminya keluar dengan mata berjaga-jaga seperti pintu belum dibuka penuh. Miko terpaku tanpa suara, lalu pulang. Ia tahu meminta maaf butuh keberanian berbeda.
Malamnya di langgar, Mbah Kasan sedang membersihkan teplok dengan kain bekas sarung.
“Kowe wis mrana?”
Miko mengangguk. “Ning ora bisa ngomong,” sahut Miko. “Tatu ora langsung mari merga pelakune ketangkep,” Mbah Kasan tersenyum menyalakan sumbu.
“Kadhang sing kudu didandani udu jendelane, ningen atine wong-wong.”
“Mbah, nek wonge ora gelem ngapura?”
“Ya sabar. Ngapura kuwe haké wong sing ditatoni. Tugasmu udu meksa dingapura, tugasmu pantes njaluk ngapura.”
Angin menggesek daun kelapa seperti bisik-bisik panjang.
***
Esoknya Miko datang membawa kaca baru, palu, paku, dan sapu lidi. Ia berdiri cukup lama sebelum mengetuk pintu.
Pemilik toko membuka. “Saya kemarin ikut nuduh,” kata Miko serak. “Saya datang minta maaf. Kalau boleh, saya bantu benerin.”
Hanya terdengar batuk kecil dari dalam sebelum lelaki itu memberi jalan. Miko masuk seperti menyeberangi jembatan rapuh. Ia mengganti kaca, menyapu serpihan, membetulkan engsel, dan merapikan rak mi instan. Tak banyak percakapan. Tetapi diam tanpa permusuhan adalah awal persaudaraan.
Saat hendak pulang, Bimo menyodorkan permen, “Buat Mas.”
Miko menerimanya dengan mata panas. Hal kecil sering datang sebagai penebus dosa besar.
Di warung Yu Tinem, kabar menyebar cepat.
“Miko dadi tukang toko siki?” ejek seseorang.
Tawa pecah, namun Miko menatap mereka satu per satu.
“Wingi aku goblok. Siki aja ngajak aku maning.”
Setelah itu tak ada yang tertawa. Kadang satu orang yang
berhenti ikut arus bisa membuat arus kehilangan tenaga.
***
Butuh berminggu-minggu sebelum pintu toko kembali dibuka penuh saat malam. Lebih lama lagi sampai Bimo berani bermain bersama anak-anak kampung, dan orang-orang menyebut keluarga Tjoa tanpa menurunkan suara.
Namun sejak hari itu, Banjarwaru belajar, bahwa batu yang dilempar bisa diganti kaca baru, tetapi prasangka hanya bisa diperbaiki oleh keberanian mengaku salah dan kesediaan hidup bersama lagi.
***
Musim berganti, kemarau membawa debu. Atas usul Mbah Kasan, langgar tua jadi tempat belajar dan musyawarah. Saat banjir, halamannya jadi dapur umum, memasak sayur lodeh di kuali, mengangkat beras, dan keluarga Tjoa menyumbang mi instan dan obat batuk. Tak ada yang bertanya doa dibaca dengan bahasa apa dan menghadap ke mana.
Persaudaraan lahir bukan dari kesamaan, melainkan sama- sama butuh pertolongan.
Malam tirakatan tujuhbelasan, panggung bambu menyajikan kentongan, hadrah, ebeg, keroncong, dan barongsai.
Mbah Kasan berbisik, “Tradisi kuwe udu museum. Sing apik dirumat, sing anyar ditampani, sing ala ditinggal.”
Miko mengangguk. Dulu ia mengira menjaga tradisi berarti menutup pintu. Kini ia paham, rumah yang sehat justru punya jendela.
***
Tahun berikutnya, subuh bening itu tanpa batuk kecil, bunyi korek, atau cahaya langgar. Mbah Kasan wafat dalam tidur, meninggalkan desa sepi bagai sawah setelah panen. Warga berdatangan, petani, buruh, keluarga Tjoa, hingga dua remaja pelempar langgar. Di serambi, wajah jenazah tampak ringan selesai menempuh perjalanan jauh.
Usai pemakaman, Miko duduk di tangga langgar. Tongkat tersandar, peci tergantung. Angin membawa bau jerami dan prenjak. Ia mengenang dirinya dulu, pemuda kalah pencari musuh agar tak kosong. Kebencian hanya memberi tenaga sebentar, lalu meninggalkan abu.
Senja turun, listrik padam. Miko menyalakan teplok serambi. Cahayanya jatuh ke lantai, pematang, dan pundak pemulang bercangkul. Hanya lampu kecil di ujung desa, namun dunia bertahan karena cahaya semacam itu, sederhana, tekun, tidak banyak bicara.
Di bawah lampu, Miko mengerti: menyebut Tuhan tanpa memuliakan manusia hanyalah bunyi; keadilan tanpa keberanian tinggal slogan; kesetaraan tanpa tindakan cuma hiasan pidato; pembebasan dimulai dari pikiran yang diperiksa; kesederhanaan menjaga hati dari kerakusan; ksatria adalah berani mengaku salah; persaudaraan menumbuhkan desa; dan tradisi adalah akar agar masa depan tidak roboh diterjang badai zaman. Teplok terus menyala. Sawah Banjarwaru bagai lautan gelap dijaga satu bintang kecil.
Cilacap, April 2026