YOGYAKARTA – Beberapa kali kalender telah berganti, tetapi permasalahan sampah di Yogyakarta belum kunjung terselesaikan. Perilaku konsumtif yang tidak diimbangi kematangan kebijakan dan kesiapan masyarakat dalam mengelola sampah yang dihasilkan terbukti menjadi bom waktu yang dampaknya kian terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Merespons keadaan tersebut, Komunitas Gusdurian Yogyakarta menggelar Sinemantrik (Sinema Teatrikal) dalam rangkaian Haul Gus Dur dan KBGJ (Kongkow Bareng Gusdurian Jogja) pada Jumat (11/9/2026) di Sekretariat Nasional Gusdurian, Yogyakarta. Memadukan pembawaan forum teatrikal, pemutaran film, dan panggung suara, acara ini dihadiri sedikitnya 50 peserta dari berbagai latar belakang.
Acara dibuka oleh fasilitator dengan menyampaikan beberapa informasi seputar acara dan film yang ditayangkan. Najma, selaku fasilitator, memantik beberapa pertanyaan reflektif dan mengingatkan bahwa kiamat barangkali bukanlah sesuatu yang fantastis dan jatuh begitu saja dari langit. Tanpa disadari, manusia sedang menyusun kiamatnya sendiri secara perlahan dengan menumpuk sampah di kehidupannya setiap hari.
Sesi dilanjutkan dengan pemutaran film pendek berjudul Kiamat Sampah karya Ravacana. Film ini memotret bagaimana sampah diperlakukan sekaligus memengaruhi aktivitas warga Yogyakarta. Pada bagian akhir, film ini menampilkan gambaran yang terjadi saat sampah telah sepenuhnya mengintervensi ruang hidup manusia.
Sesi berikutnya berlanjut pada pegelaran panggung suara yang diisi oleh tamu undangan serta dibuka untuk peserta umum. Sesi ini dipersiapkan bagi siapa saja yang ingin menyampaikan keluh kesah, ide, maupun pengalamannya seputar isu sampah dan ekologi. Martin dari UKDW tampil membawakan orasi, Kinar dari Salam menyampaikan puisi, Ikay dan Ubay membawakan lagu, Rian dari UIN Sunan Kalijaga menyampaikan opini, Herdi dari Gasibu Pembebasan menampilkan musikalisasi puisi, Wasil membacakan puisi, dan Egi tampil dengan musiknya.
Setelah panggung suara selesai, fasilitator kembali mengambil alih forum untuk menyampaikan pesan penutup. Najma sekali lagi memberikan pertanyaan reflektif kepada para peserta sebelum mengakhiri seluruh rangkaian acara.
”Malam nanti, panggung akan dibongkar, lampu-lampu ini akan dimatikan. Apakah kita juga akan demikian? Pulang ke rumah masing-masing dan meninggalkan kesadaran saat ini di tempat ini?” tanya Najma di penghujung sesi.
Dicky, penanggung jawab acara, menegaskan bahwa agenda tersebut merupakan bentuk tanggung jawab intelektual serta komitmen Gusdurian Yogyakarta dalam merawat nilai keteladanan Gus Dur, khususnya dalam ranah ekologi. Pemilihan isu sampah sebagai tema besar merupakan bentuk refleksi kritis terhadap kondisi lingkungan sekitar.
”Keadilan bagi Gus Dur adalah keadilan bagi semua makhluk, bukan hanya manusia. Salah satu bentuknya adalah tanggung jawab terhadap sampah yang kita ciptakan. Saya rasa Gusdurian Jogja perlahan sudah membentuk ekosistem yang sehat dalam pengolahan sampah, dan acara ini juga merupakan bagian dari komitmen itu,” pungkas Dicky. (SDH)