YOGYAKARTA – Masalah pengelolaan sampah di Yogyakarta mendorong masyarakat di tingkat basis untuk mencari solusi secara mandiri. Merespons hal tersebut, Komunitas GUSDURian Jogja mempertemukan tokoh lintas iman dan warga pedukuhan Sorowajan, Banguntapan, dalam acara Sarasehan Jejaring Warga pada Selasa (15/9/2026) malam.
Sebelum memasuki agenda utama yang dipandu oleh Firda Ainun Ula, warga terlebih dahulu dihibur oleh suguhan akustik dari grup musik AB (Acil & Boby). Acara kemudian dibuka secara resmi dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza. Mengawali pembahasan, Perwakilan Sekretariat Nasional (SekNas) Jaringan GUSDURian, Suraji, menegaskan bahwa penanganan krisis lingkungan di Yogyakarta menuntut tindakan konkret dari warga di lapangan, alih-alih sekadar menunggu instruksi dari pemerintah daerah.
“Kita hidup di tengah masyarakat yang memiliki persoalan di depan mata. Sampah ini sudah menjadi persoalan nasional, dan Jogja sempat viral karena tumpukan di pinggir jalan. Mau tidak mau, kita harus hadir bersama-sama mengatasinya dari lingkungan terdekat,” kata Suraji.
Praktik pengelolaan sampah mandiri ini turut mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Direktur Organisasi Kemasyarakatan, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Wahyu Chandra Kusuma, mencatat adanya perbedaan tren masalah sampah di wilayah RW 10 Sorowajan dibandingkan lokasi lain.
“Kalau sebelumnya yang sering saya dengar adalah kesulitan mengelola sampah anorganik, di Sorowajan ini malah kebalikannya. Yang jadi masalah dan tantangan utama warga justru pengolahan sampah organik,” ucap Wahyu.
Fasilitator GUSDURian Jogja, Pandu Prayoga, memaparkan hasil pendampingan yang sudah berjalan. Ia menyebutkan bahwa kelompok ibu-ibu PKK sudah mulai memisahkan sisa makanan. Namun, warga masih menemui kendala terkait timbulnya bau, keengganan saat memproses sampah basah, serta kapasitas tong komposter yang cepat penuh.
Dalam sesi diskusi, seorang perwakilan warga menyampaikan kendala pengumpulan botol plastik bekas air mineral yang terhambat di proses pengangkutan. Sebagai solusi, ia mengusulkan penempatan drum sampah komunal di sejumlah titik.
Ketua RT 08 Sorowajan, Joko, menyetujui usulan tersebut. Pengurus rukun tetangga akan menguji coba penempatan drum komunal agar sistemnya mudah dievaluasi bersama GUSDURian. Joko juga meminta bantuan pendampingan pembuatan biopori bagi warga yang masih memiliki pekarangan tanah.
Pegiat lingkungan, Henricus, mengingatkan warga agar penempatan fasilitas pengumpulan komunal tersebut dikelola dengan benar agar tidak menimbulkan bau di permukiman.
“Semuanya dimulai dari organik. Sampah itu bau karena dicampur. Kalau tong mau ditaruh di tempat strategis agar tidak bau, sampah yang dimasukkan harus langsung dicampur dengan bahan pelapis. Pengelolaan ini harus dimulai dari dapur masing-masing,” ujar Henricus.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi panitia yang telah menerapkan pengurangan plastik kemasan pada sajian makanan bagi peserta.
Sarasehan ini turut mengidentifikasi upaya pengelolaan sampah dari berbagai tempat ibadah. Perwakilan Gereja Katolik Baciro menyebutkan bahwa pengelolaan limbah rumah tangga kini mulai menjadi kesadaran kolektif lintas agama di tingkat warga. Sementara itu, perwakilan Pura membagikan pengalaman daur ulang umat Hindu yang memanfaatkan botol plastik bekas sebagai rangka patung ogoh-ogoh.
Di akhir diskusi, seorang perwakilan kelompok PKK menawarkan sisa pekarangan di rumahnya sebagai area penempatan komposter. Ia pun meminta agar program pendampingan pengelolaan sampah ini dapat diperluas ke rukun tetangga lain di sekitar Sorowajan. (SDH)