Abdurrahman Wahid: Saya Nggak Mau Bangsa ini Terbakar

Serangan stroke membuatnya pasif menghadapi ingar-bingar politik. Tapi itu dulu. Kini, meski belum sembuh betul, Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU yang disapa Gus Dur itu, terus saja bergerak lincah ke sana-kemari. Ia menemui Pangab Jenderal Wiranto, Presiden Habibie, dan bekas presiden Soeharto, untuk sebuah hajat penting: mempertemukan ketiganya demi kerukunan bangsa.

Dialog empat besar itu tentunya butuh energi besar. "Sekarang kondisi saya sudah pulih 65 persen," kata Gus Dur. Bersama istri, dua kali seminggu, ia menjalani terapi alternatif di Rawamangun, Jakarta Timur, selain kontrol di RSCM. Usai dipijat, pria berusia 58 tahun kelahiran Jombang, Jawa Timur ini menerima Wahyu Muryadi dan Agus S. Riyanto dari TEMPO. Saat wawancara berlangsung, Jumat petang pekan lalu, Gus Dur rebahan di kamarnya yang dipenuhi obat, alat medis, telepon, dan air zam-zam. Petikannya.

Apa perlunya Anda ke sana-kemari menemui Habibie, Wiranto, dan Soeharto?

Saya melihat bahwa bangsa ini sedang menuju ke arah perang saudara, kalau nggak hati-hati, lo. Karena di satu pihak birokrasi sipil yang kaku dan, kedua, birokrasi militer yang lebih kaku, seperti yang kita saksikan kemarin itu, lo. Memukuli mahasiswa yang ndak ada urusannya, ya to? Lalu di dalam birokrasi sipil dan birokrasi militer itu nempel kelompok kanan yang suka pakai kopiah. Kemudian ada orang-orang pengikut Pak Harto yang tidak mau mengalah karena juragannya (Soeharto) dihujat dan didemonstrasi. Jadi selama Pak Habibie, Pak Wiranto, dan Pak Harto tidak mau sepakat menyudahi semuanya itu, ya kita tidak akan mengenal perdamaian.

Jika jadi bertemu, apa yang penting untuk Anda sampaikan kepada ketiganya?

Kesediaan agar mereka sepakat bahwa mereka akan menghentikan anak buahnya, sehingga tidak bertindak sendiri-sendiri. Begitu saja, kok. Keempat orang ini, termasuk saya, bertemu dan berjanji akan menghentikan segala hal itu.

Rencananya, kapan pertemuan itu dilakukan?

Ya, nggak tahu. Berdasarkan pengalaman, mempertemukan tiga orang itu enggak gampang. La, masing-masing punya keperluan sendiri-sendiri.

Apakah pertemuan itu bisa mengatasi kekacauan yang terjadi?

Paling tidak kalau orang itu bertemu kan sudah ngentengkan (meringankan) masalah. Tapi saya tidak mau terlalu optimistis atau pesimistis. Pas-pasan saja. Dengan kata lain, enggak gampang mempertemukan mereka. Kalau Wiranto pasti gampang, tetapi yang dua itu, lo (Soeharto dan Habibie), yang paling sulit.

Apakah Anda sudah menghitung langkah tak populer ini?

Kalau menghitung popularitas dan sebagainya, ya, tidak jadi apa-apa dan tidak mengarah ke tujuan negara ini. Bangsa ini akan hancur berantakan. Saya nggak tega melihat bangsa ini hancur berantakan. Apa pun alasannya. Kalau mau enak-enakan, saya tinggal di rumah saja. Kalau diapa-apakan, saya dilindungi masyarakat, kok.

Kenapa ulama mendatangi umaro (penguasa), bukan malah sebaliknya?

Itu kan soal fikih, soal muamalah. Soal muamalah itu siapa saja boleh. Ketika Nabi mengatakan bahwa yang baik itu kalau raja menghadap ke ulama, itu dalam arti moral. Apakah datang itu berarti fisik? Tidak, to? La, zaman sekarang itu kan beda. Tidak selamanya hukum yang tertulis di dalam hadis itu bisa dipakai. Bagaimana Habibie mau ke sini, dia kena aturan protokoler. Kalau nggak ada protokol-protokolan, dia sudah ke sini.

Tetapi kenapa Anda menganggap Soeharto sebagai faktor penting?

Karena banyak pengikutnya. La, yang bisa mbilangin mereka (pengikut Soeharto), ya, cuma dia. Menurut saya, mereka ini banyak tidak puas dengan keadaan. Contohnya terjadi (kerusuhan) di Ketapang, Banyuwangi, Kupang, Pontianak. Hal semacam itu merupakan bukti bahwa kalau orang itu banyak yang nggak puas terhadap perlakuan yang diberikan kepada Pak Harto, lalu bersikap dan bereaksi. Pak Harto yang bisa mbilangin mereka: jangan. Masalahnya selama ini kan Pak Harto tidak mbilangin "jangan" kepada mereka. Diam saja, begitu lo.

Jadi, semua kerusuhan SARA selama ini sudah direncanakan?

Ya, ndak. Kalau saya berprasangka baik ya, mereka itu hanya bereaksi karena Pak Harto dikuya-kuya (dihujat).

Kabarnya, Pak Harto minta maaf pada Anda saat bertemu 13 Desember lalu?

Ah, enggak. Itu kan bukan permintaan maaf. Itu hanya wonderment. Artinya heran. NU yang dulu disia-siakan, kok, justru yang tidak mukuli dia.

Siapa yang ingin bertemu? Anda atau Soeharto?

Saya dipanggil Pak Harto. Tetapi saya juga punya keinginan. Jadi pada (sama), to? Kami akhirnya bertemu hampir dua jam. Cuma cerita-cerita, kok. Dia orang profesional sekali, enggak mau terbuka.

Kenapa Anda juga memandang Habibie begitu penting?

Dia kan memangku jabatan. Bagaimana tidak dianggap penting. Anda itu underestimate Habibie bahwa Habibie itu nggak ngerti apa-apa. Saya tidak pernah underestimate. Habibie itu hebat. Diam-diam dia itu hebat.

Apa keuntungan politik manuver ini buat Anda?

Kalau saya enggak cari untung, kok. Agar keadaan tenang saja. Kalau kita sebagai bangsa ambyar (pecah), saya yang rugi. Saya sekadar menjalankan fungsi saya. Sebagai pemimpin masyarakat, ya, harus menghentikan semua itu pada saat bisa dihentikan.

Sepertinya Anda menemukan momentum bagus untuk menyalip di tikungan..

Siapa yang mau nyalip di tikungan? Wong, saya ini tenang-tenang saja. Saya itu hanya menghindarkan pertumpahan darah. Saya enggak punya ambisi apa-apa, kok. Jadi, orang yang menilai begitu itu dari awal sudah salah. Menganggap saya ada kepentingan dan ada kolusi. Wong, saya itu enggak kepingin. Makanya selama bertahun-tahun saya nggak pernah usaha apa-apa. Kenapa? Karena, bagi saya, itu enggak penting. Saya sudah puas jadi Ketua NU. Sekarang saja jadi Ketua NU sampai akhir tahun 2000. Habis itu saya pensiun. Apanya yang kurang?

Menjadi presiden kan belum....

Nggak perlu. Saya ngerti mana yang dapat saya capai dan mana yang tidak dapat saya capai. Saya nggak perlu ngotot-ngotot.

Kenapa dialog ini tidak dilakukan lewat MPR/DPR?

DPR/MPR-nya enggak berfungsi gitu.

Kenapa Anda bertemu dengan Habibie dan bikin agenda politik yang konkret?

Itu lain. Saya mendapat persetujuan dari Habibie atas empat hal. Karena itu saya harus mengimbangi dengan (menyetujui) satu hal. Kalau Anda sudah dapat konsensus seperti itu, apakah tidak perlu perimbangan? Yang saya baca waktu itu Habibie bicara tanggal, oh, yang ada di kepalanya soal itu. Jadi saya kemukakan bahwa saya akan bicara pada wartawan bahwa setelah pemilu dilaksanakan, tanggal 29 Agustus pelantikan, 28 Oktober pembagian komisi-komisi, dan 10 November sidang umum. Dan itu tergantung Badan Pekerja MPR.

Kenapa kesepakatan itu bertentangan dengan Deklarasi Ciganjur?

Saya mengajukan empat hal yang diterima semua oleh Habibie, sehingga saya harus membalasnya. Dia ingin 29 Agustus, 28 Oktober, 10 November, maka saya ikuti jalan pikiran dia dengan mengusulkan saja sekalian. Dengan saya mengusulkan sekaligus, dia kan jadi senang. Tetapi itu semua tergantung Badan Pekerja MPR. Nggak usah marah sama saya, gitu lo.

Bukankah Amien Rais yang paling tegas mengatakan bahwa sidang umum tidak terlalu lama setelah pemilu.....

La iya. Tetapi kalau Badan Pekerja MPR nggak mau, mau apa?

Apakah Anda masih tetap commit terhadap kesepakatan itu?

Ya, iya. Walaupun kita commit, ngototnya kayak apa kita, kan tergantung Badan Pekerja. Kita lihat Badan Pekerja MPR yang terpilih, apakah mereka mau mendengarkan Amien Rais atau mendengarkan Habibie....

Kenapa mesti bertemu Jenderal L.B. Moerdani? Apa dia juga faktor penting?

Wong, saya menghormati Pak Benny. Ya, bukan soal faktor. Wong, ambek uwong (dengan orang) itu, tiap orang moro (berkunjung) karena ada faktor. Ya lak gendeng (kan gila). Walaupun enggak faktor, saya, ya, ke sana. Cuma ngomong. Sampeyan jangan menganggap hidup saya seperti mesin. Kalau nggak ada kepentingan, gak moro (tidak berkunjung).

Kenapa Anda menyerukan agar mahasiswa tidak lagi turun ke jalan?

Pertimbangan saya gampang saja. Bahwa mahasiswa itu sebenarnya kan lebih baik mengurusi masalah yang sangat penting, yaitu mengurusi pendidikan politik untuk rakyat. Kembali ke kampus masing-masing.

Kalau mahasiswa nekat, apakah akan terjadi bentrokan berdarah?

Iya. Saya enggak punya pikiran lain, kok. Bentrokan berdarah itu tidak hanya terjadi antara mahasiswa dan ABRI. Dipopor (dipukul dengan laras senapan), dibedil. Tetapi yang di daerah itu, lo, yang saya takuti. Di Kupang, di Ketapang sudah terjadi, dan nanti akan terus merembet karena sikap mahasiswa terhadap Soeharto. Tanpa sikap seperti itu, Pak Harto sudah bersedia diadili. Dalam pernyataannya kan begitu.

Tapi bukankah itu seruan yang kontra-produktif untuk menekan pemerintah sekarang ini?

Terserah. Tapi menurut saya itu yang paling produktif dalam jangka panjang. Kalau mengenai masalah tuntutan terhadap Soeharto. itu kan tidak urgen untuk kondisi sekarang. Kapan saja dia bisa diadili.

Mungkinkah Soeharto diadili?

Ya, nggak tahu. Maksud saya, penyelesaiannya secara politis, bukan hukum.

Kalau secara politis, bagaimana posisi Habibie?

Nanti seperti yang terjadi di Korea Selatan, yang dilakukan oleh (Presiden) Kim Dae Jung terhadap Chun Doo Hwan, dan Roh Tae Woo. yakni secara politis, dan mereka diampuni. Asal mengembalikan semua harta bendanya. Ini akan lebih arif, daripada konfrontasi nggak keruan.

Arah pertemuan dengan Habibie, Soeharto, dan Wiranto itu juga ke situ?

Iya. Arahnya penyelesaian politik yang baiklah.

Peran Anda dalam pertemuan itu apakah hanya sebagai mediator?

La iya. Wong, jadi mediator itu senang, kok. Saya enggak butuh apa-apa, wong saya sudah jadi Ketua NU. Jadi Ketua NU itu luwih dhuwur (lebih tinggi) ketimbang presiden karena dihargai orang, ha-ha-ha.... Dengan kata lain, saya ini sudah mencapai puncak karir. Omongan saya dipercaya orang. Belum tentu omongan Habibie dipercaya, ha-ha-ha.... Apa lagi yang saya cari?

Siapa yang masih dipandang oleh mahasiswa sekarang ini?

Ada beberapa pihak, saya di satu pihak dan orang-orang yang mendorong mahasiswa untuk terus bergerak. Masing-masing kan boleh ngomong. Masing-masing boleh mempengaruhi. Kita lihat, mahasiswa ikut mana. Kalau besok sore (Sabtu, 19 Desember) mahasiswa enggak keluar, berarti mereka ikut saya. Kalau besok sore mereka keluar tetapi sedikit, berarti sedikit yang ikut mereka dan kebanyakan ikut saya. Sebaliknya, kalau yang datang banyak, yang ikut saya sedikit, dan omongan saya enggak laku. Begitu, lo.

Bagaimana kalau omongan Anda nggak laku?

Enggak apa-apa, wong saya ini cuma ngomong.

Pada waktu kasus Semanggi, kehadiran Anda dan Amien Rais dibutuhkan. Kenapa Anda tidak tampil?

Saya enggak tahu. Tidak ada yang menghubungi saya. Sekadar nyusul (menjemput) saya saja nggak ada. Adoh-adoh nyusul, nelpon ae gak ana.... (Jangankan menjemput, telepon saja enggak ada).

Seandainya dikontak, Anda datang?

Ya, belum tentu juga. Saya lihat situasinya. Apakah berbahaya untuk diri saya atau enggak.

Kenapa Anda tidak dalam posisi yang tegas dalam gugatan terhadap Soeharto?

Apa mau membiarkan negara ini terbakar nggak keruan? (dengan intonasi tinggi). Ya, nggak mungkin, to? Saya nggak mau bangsa ini terbakar. Saya nggak tega seperti orang-orang lain. Ada yang mengatakan Gus Dur juga campur tangan, dengan bukti menarik mahasiswa untuk kembali ke kampus.

Tetapi bukankah selama ini gerakan mahasiswa terbukti efektif menumbangkan Soeharto?

Pak Harto (menyatakan mundur) itu dasarnya bukan karena mahasiswa. Itu dasarnya Menteri Ginandjar Kartasasmita dengan beberapa menteri dan beberapa anggota FKP (yang mengundurkan diri). Saya melihatnya Pak Harto itu dikhianati oleh menteri-menterinya dan mayoritas anggota FKP. Kalau mahasiswa tidak dihitung oleh Pak Harto.

Tapi trigger-nya kan gerakan mahasiswa?

Boleh-boleh saja trigger. Saya kan bertanya pada Pak Harto. Dia jengkelnya itu ada orang-orang yang berkhianat kepadanya.

Kalau begitu, gerakan mereka selama ini sia-sia?

Tidak. Gerakan mahasiswa itu telah mencapai momentumnya sendiri. Berhasil membuat ABRI mengubah peraturannya menghadapi demonstran. Telah berhasil mengubah keadaan. Telah berhasil mengubah Pak Harto untuk bersedia dihukum. Ini cukup banyak. Mahasiswa jangan ingin semua. Kalau semua, yang lain tidak kebagian.

Tetapi bukankah proses hukum terhadap Pak Harto selama ini belum meyakinkan?

Kalau belum mungkin, ya nanti. Ini kan berkembang terus. Masa, semua harus diselesaikan hari ini juga dengan mengorbankan segala-galanya. Yang nyuruh enak, yang disuruh ini... (nada suaranya tinggi)

Itu bukan gerakan murni mahasiswa?

Ya, saya tahu itu bukan gerakan murni mahasiswa. Mahasiswa itu terbagi dua macam. Ada yang murni dan ada yang digerakkan. Yang digerakkan ini juga ada yang menggerakkan. Penggerak ini digerakkan dari luar negeri. Saya tahu, kok, perusahaan asing yang memberi US$ 300 ribu. Mereka dimanfaatkan calo-calo itu.

Apa tujuan mereka?

Maunya ribut terus dan nggak mau terjadi pemilu. Karena, kalau diselenggarakan pemilu, mereka bakalan kalah. Gampang saja melihatnya.

Siapa sih golongan yang takut pemilu itu?

Ya, ndak usah bilang. Nanti marah kalau disebut namanya.

Dalam pemilu mendatang, partai mana yang prospeknya bagus?

PKB dan PDI Perjuangan.

Seberapa besar keduanya mendapat suara?

Ya, sampai 60-an persen.

Di Surabaya Anda dicalonkan jadi presiden. Anda siap?

Wong, saya masih belum bisa melihat. Kita lihat saja nanti.

Peluang Megawati bagaimana?

Peluang Mbak Mega bagus. Kalau saya percaya kepada Mbak Mega. Artinya, kalau orang seperti saya enggak bisa maju lagi karena sakit, ya Mbak Megalah yang maju. Kalau saya bisa, saya akan maju. Megawati dengan Sri Sultan. Itu tergantung nanti, apakah Sri Sultan yang pertama dan Mbak Mega yang kedua. Begitu saja, kok, repot.

Kemarin di Bandung, Amien Rais siap bersaing....

Enggak tahu. Jangan nanya saya. Ya, tanya dia saja apakah PAN itu dapat sambutan enggak dari rakyat.

Bagaimana jika Habibie siap maju lagi?

Habibie apalagi, nggak punya massa.... (tertawa). Ya, tergantung, kalau PKB dan PDI menang, ya nanti kita lihat hitungannya.

Tetapi kalau PDI dan PKB menang, otomatis Habibie nggak kepilih lagi....

Ya, belum tentu. Tergantung keadaan nantinya.

Kalau Wiranto?

Kalau Habibie maju dan bisa, tentunya Wiranto tidak bisa bergerak, karena dia kan anak buah Habibie dalam pangkat atau kedudukan.

Sebenarnya apa impian Gus Dur selama ini?

Guru bangsa. Saya ini ingin menjadi guru bangsanya Indonesia. Itu saja. Saya tidak ingin jadi yang lain. Kalau saya sekarang berkiprah di politik, karena panggilan.

Orang kini berdatangan ke Ciganjur. Apakah ini bisa mendorong Anda untuk maju jadi presiden?

Ya, lihat saja, saya bisa sembuh atau nggak. Saya itu gampang saja kok.

Jadi cuma faktor kesehatan mata....

Ehmm.

Kalau operasi mata di Australia berhasil, Anda akan maju?

Ya, mudah-mudahan. Gitu saja, kok, repot-repot.


(Wawancara bersama Gus Dur ini dimuat pertama kali di TEMPO, 28 Desember 1998)

Author

Bagikan tulisan ini: