Bagaimana Tauhidisme Bergerak di Tionghoa?

The Tao that can be told is not the absokute Tao. The Names that can be given are not absolute Names. (Lao Tze)

Lao Tze (beberapa literatur menyebut Lao Tzu) dalam historiografi Tionghoa adalah “guru pertama” yang menjadi penyuluh kebajikan, membimbing masyarakat Tionghoa pada spiritualitas dan keluhuran budi. Melalui Lao Tze-lah konsepsi tentang Tao, yang menjadi episentrum filosifis Taoisme, mula pertama digagas. Hidayat dan Nafis (1995:50) berspekulasi bahwa Lao Tze sejatinya adalah nama yang sama dengan Luth, nabi yang melakukan eksodus dari Sodom.

Dalam Tao Te Ching, bab-bab awal, Lao Tze mendefinisikan Tao sebagai sumber segala sesuatu. Ia tak bernama, tak dapat dilihat, dan tak dapat dipahami. Ia tak terbatas dan tak dapat habis atau musnah. Pendeknya, Tao adalah konsepsi tentang Dia Yang Maha Segala Maha. Konfusius berujar: ”terdapat Tao dalam setiap perubahan”.

Tao, kemudian, dalam semesta termanifestasi dalam dualitas Yin dan Yang. Yin adalah sifat semesta yang merefleksikan feminitas, penerimaan, resesif, dan kelembutan. Sebaliknya, Yang adalah tentang maskulinitas, pemberian, agresif, dan keperkasaan. Jika malam adalah Yin maka siang adalah Yang. Matahari itu Yin dan Bulan adalah Yang, laki-laki itu Yang, perempuan adalah Yin dan seterusnya.

Pendek kata, semesta adalah harmoni antara Yin dan Yang ini. Keduanya saling melengkapi dan melingkupi. Lebih lanjut, Taoisme menjadi sumber pengetahuan yang terus didaras oleh masyarakat Tionghoa. Dari Tao lahir ilmu bela diri Tai Chi dan juga ilmu kedokteran seperti akupuntur.

Sachiko Murata, dalam buku monumental The Tao of Islam menemukan fakta menarik bahwa konsepsi Taoisme linear dengan Sufisme. Jika Taoisme mengenal Yin dan Yang, para sufi menjelaskannya dalam “Jamal” dan “Jalal”, dualitas sifat Allah.

Berjarak beberapa abad dari Lao Tze, muncul “guru kedua”, dia adalah Konfusius, peletak dasar konfusionisme atau agama Kong Hu Cu. Ajaran-ajaran Konfusius sejatinya tetap bersumber dari Tao. Dalam berbagai ucapannya, Konfusius menyebut Lao Tze sebagai guru.

Konfusius mengembara ke hampir seluruh daratan Tiongkok. Ia mengajarkan tentang kebajikan dan etika hidup. Kata-katanya diikuti oleh banyak orang, terutama orang-orang miskin dan tertindas. Sebagai layaknya para nabi, Konfusius dirindukan kehadirannya.

Belakangan, beberapa abad paska Konfusius muncul “guru ketiga”. Dia adalah Shidarta “Buddha” Gautama. Gautama tidak datang langsung ke Tiongkok, tetapi ajaran-ajarannya yang menghampiri negeri tirai bambu ini. Buddhisme yang memeluk jazirah Tiongkok adalah Buddhisme Mahayana.

Uniknya, dalam Buddhisme, konsepsi tentang Dia yang Maha Segala Maha tetap ada. Dia yang Maha Abadi.

Pada akhirnya, Tauhidisme Tionghoa terpatri dalam ajaran tiga guru utama, Lao Tze, Konfusius, dan Shidarta Gautama. Tao, Kong Hu Cu, dan Buddha (Mahayana) adalah tiga jalan, tiga darma yang menuntun orang-orang Tionghoa menjemput kemuliaan hidup.

Masyarakat Tionghoa melihat tiga dharma itu bukan sebagai sumber konflik dan perpecahan tetapi sebaga kekuatan yang satu. Tiga dharma hanyalah ritus untuk menuju sang satu. Dalam bahasa Hokkian, Tiga Dharma disebut Sam Kauw. Adalah Dinasti Donghan yang pertamakali memperkenalkan konsepsi Tri Dharma, tiga jalan kebenaran.

Menariknya, di Indonesia, konsepsi Tri Dharma ini dimaterialkan dalam sebuah rumah ibadah bernama Klenteng. Kwee Tek Hoay, seorang sastrawan kelahiran Bogor, adalah orang yang berjasa besar membangkitkan ajaran Tri Dharma di Indonesia, di tahun 1920-an. Belakangan, Kwee Tek Hoay dianugerahi gelar sebagai Bapak Tri Dharma Indonesia.

Melalui “reformasi” ala Kwee Tek Hoay, Klenteng menjadi simbolisasi paling radikal tentang kesadaran untuk menghormati perbedaan Dharma (atau Liturgi). Bagaimana tidak, ketiga Dharma itu hadir dalam satu rumah Ibadah. Klenteng Tiga Dharma merupakan tafsir “Bhineka Tunggal Ika” yang khas Indonesia.

Pendek kata, Klenteng Tri Dharma menjadi teladan bahwa perbedaan jalan, perbedaan syariat, perbedaan dharma bukan alasan untuk berkelahi. Filsuf Jawa, Mpu Prapanca dalam kitab Sutasoma menulis sesanti indah: ”Bhineka Tunggal Ika tan hanna dhamma mangrwa”. Berbeda-beda tapi satu, tak ada kebenaran yang mendua.

Sumber: islami.co

Bagikan tulisan ini: