Berhijrah dengan Gembira

Hijrah, dalam arti berpindah menuju kepada keadaan yang lebih baik dalam berbagai aspeknya, merupakan bagian yang telah melekat dalam hidup setiap manusia. Andai pun hari ini di antara kita masih berada di dalam kondisi yang tidak baik-baik saja semisal belum bisa melaksanakan kewajiban agama dengan baik, memiliki banyak hutang, relasi sosial yang retak, dan sebagainya, tentu di kedalaman hati kita menginginkan dan memimpikan keadaan yang lebih baik dari semua itu: menjadi pribadi yang taat, berkecukupan, rukun dan harmonis dan dilimpahi keberkahan.

Hijrah adalah laku yang dinamis. Dalam sebuah ibarat, laku hijrah laksana seorang siswa yang menerima buku raport dan mendapati deretan angka merah di lembar penilaian itu. Perasaan kecewa, penyesalan, dan malu membaur menjadi satu. Kenapa dulu aku tidak belajar dengan lebih rajin? Kenapa selama satu semester itu, bahkan mungkin tahun-tahun sebelumnya, aku hanya main kartu dan keluyuran di luar rumah? Kenapa aku dulu tidak mengindahkan petuah-petuah dari guru dan orangtua?

Dan, persis pada momen penyesalan itulah secercah cahaya menelusup ke dalam jiwa. Terbersit keinginan untuk memperbaiki diri. Untuk berubah. Untuk terlahir kembali sebagai manusia dengan spiritualitas yang baru. Inilah momen titik balik itu: keinginan yang kuat untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di atas pondasi ajaran-ajaran agama Islam.

Hijrah adalah kabar gembira. Dan sudah selayaknya dijalani dengan penuh kegembiraan. Meskipun ya, dan kamu tentu saja bukan bagian di dalamnya, ada sebagian kecil orang yang meyakini bahwa hijrah adalah perpindahan dari darul-harb menuju darul-Islam seperti yang diserukan oleh ISIS beberapa tahun yang lalu. Atas propaganda itu, orang lalu berbondong-bondong pergi ke Suriah karena meyakini di sanalah darul-Islam itu. Bagi sebagian besar Muslim di Indonesia hijrah lebih bersifat transformasi spiritual atau maknawiyah.

Perubahan yang sifatnya lahiriyah seperti mengenakan hijab, burqa atau cadar bagi perempuan dan memanjangkan jenggot, mengenakan celana di atas mata kaki, rajin bersedekah, salat berjamaah di masjid, mulai meninggalkan beberapa akad perbankan yang dianggap mengandung unsur riba, semua itu tidak lain adalah bentuk-bentuk upaya atas komitmen perubahan spiritual yang terjadi di dalam diri.

Namun, sebagai manusia, kita acapkali terdorong oleh keinginan dalam diri untuk menunjukkan kepada orang lain tentang prestasi, katakanlah begitu, atas perubahan hidup yang telah dijalani. Pengajian yang mulai menjadi rutinitas, termasuk mengikuti video-video ceramah keagamaan di sosial media, kini telah menjadi sederatan kegiatan baru yang berjasa dalam proses pencerahan jiwa. Lalu, pada saat yang sama, akumulasi dari semua itu mendorong diri untuk mendakwahkan semua itu kepada orang lain. Bukankah Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya bisa dijadikan sebagai sarana dakwah untuk mengajak kebaikan kepada orang lain? Oh, andai semua orang mengikuti langkah hijrah ini tentu dunia ini akan menjadi lebih baik.

Nah, mungkin di titik inilah, lalu timbul sederetan perdebatan dan gesekan di tengah masyarakat. Di satu sisi, gerakan hijrah cenderung mempromosikan penafsiran tunggal terhadap ajaran Islam dan mengarah kepada kehidupan keberagamaan yang ekskusif. Mulai dari mendukung penerapan hukum Islam secara formal, sebagian kecil lainnya mendukung khilafah, termasuk penafsiran tunggal atas bunga bank yang dianggap riba. Padahal, dalam hal yang terakhir ini misalnya, andaipun kiamat tinggal dua hari lagi pendapat ulama tentang bunga bank tetap terbelah dalam dua kubu antara yang membolehkan dan mengharamkan. Di sisi lain, disadari atau tidak, gerakan hijrah berperan besar dalam menawarkan kesalehan yang aktif. Selalu berusaha hadir dalam salat berjamaah, aktif dalam kajian-kajian dan kegiatan sosial, yang semua itu, di mata masyarakat awam, sangat menarik perhatian dan tidak jarang dijadikan sebagai panutan.

Paradoks Hijrah

Hijrah kini telah menjadi fenomena sosial dan tidak jarang kita menemukan paradoks di dalamnya. Misalnya, seseorang yang sebelumnya menjadi pendeta lalu melakukan konversi ke agama Islam lalu dengan mudah mencaci-maki ajaran-ajaran agama sebelumnya. Bahkan, seperti yang ramai belakangan, ada seorang mualaf yang “diustazkan” dan dengan bangga menyampaikan dalam ceramahnya tentang kebenciannya terhadap anjing.

Contoh lainnya, seseorang telah berhijrah dari hal-hal yang dianggapnya riba, meninggalkan pekerjaan di Bank, termasuk transaksi perbankan yang diyakini sebagai ribawi, tetapi pada saat itu juga, tanpa disadarinya dia dengan mudah menuduh orang lain yang masih berurusan dengan transaksi perbankan sebagai pelaku riba. Dia dengan mudah mengatakan, misalnya, “wah, kyai-kyai itu ternyata masih berurusan dengan bank, punya cicilan di bank! Padahal itu riba lho!” Inilah paradoks hijrah itu.

Lahirnya pemahaman atau tepatnya penafsiran tertentu atas hukum Islam yang dianggap paling benar  bukan berarti memberikan kewenangan kepada kita untuk menyalahkan pihak lain yang memiliki pandangan yang berbeda. Maka, sebagai konsekuensinya, semua ini hanya akan melahirkan pertikaian, ketegangan, dan bahkan permusuhan di antara kita sesama Muslim. Tidak heran jika kemudian banyak kalangan, terutama para akademisi, yang menyimpulkan bahwa gerakan hijrah memiliki kecenderungan kearah eksklusivisme dalam beragama. Hal ini sebenarnya sekaligus menunjukkan keawaman, kebodohan, kecerobohan kita di hadapan luasnya samudera ilmu-ilmu keislaman yang menampung kenekaragaman pendapat atau pandangan. Lha kok sebagian kita yang baru berhijrah tiba-tiba kewanen ingin melakukan penyeragaman?

Untuk keluar dari kemelut seperti ini, mengutip pandangan Edi AH Iyubenu (2021: 56-57), tidak ada jalan lain bagi kita selain belajar bersikap toleran, legowo, dalam menerima kemajemukan pemikiran, pandangan, dan mazhab keagamaan. Sunggguh, lanjutnya, siapa pun yang bersikeras, kasar, apalagi menghina dan mencaci maki liyan beserta pandangan-pandangan yang diikuti dan diyakininya, dia tidak pantas menyandang gelar “mukmin yang hakiki”, keluar dari rel sifat muslim yang wuddan (berbelas kasih) dan haunan (rendah hati).

Mengukur diri dan Introspeksi

Alquran senantiasa mengajak kita untuk berpikir. Merenungkan keagungan-Nya. Melihat ke dalam diri. Bermuhasabah.

Mari kita ibaratkan proses hijrah ini dengan pelajaran bahasa Inggris. Untuk melompat dari nilai lima ke sembilan, misalnya, tentu tidak hanya kemampuan dalam membaca saja yang diperlukan, melainkan juga kemampuan speaking, grammar, listening, dan writing-nya. Karena ini bukan bahasa ibu kita, untuk menguasainya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran di dalam mempelajarinya. Oleh karenanya, di sinilah, seyogyanya, kita menyadari kemampuan kita. Mengukur di mana posisi kita saat ini. Alih-alih ingin langsung mendapatkan angka sembilan, alangkah lebih baiknya jika menapaki secara perlahan satu tingkat demi satu tingkat. Saya, misalnya, yang saat ini berada di level lima, sudah pasti saya mendambakan berada di level sembilan. Tetapi, daripada ngoyo untuk langsung sampai ke sana, lebih baik saya memilih dengan penuh kesadaran untuk mencapai angka lima atau enam untuk tahun ini. Toh, ini kan bukan suatu perlombaan? hehe. Hal demikian tidak hanya baik untuk aspek kognitif saya, tetapi juga ketahanan emosi.

Hijrah sebagai sebuah titik balik kehidupan hampir bisa dipastikan selalu disertai dengan perubahan emosi. Tidak jarang, perpindahan itu bersifat ekstrim. Melakukan lompatan yang luar biasa dan kita menyaksikan tidak sedikit orang yang patah di tengah perjalanan hijrahnya atau bisa juga disebut sebagai arus balik hijrah. Bisa jadi, meskipun kita memiliki kemampuan untuk mendapatkan nilai sembilan dalam waktu yang singkat,misalnya, kita lalu mengubah segalanya, melakukan segalanya, tetapi di sisi lain, emosi, sisi batin hidup kita, belum siap mengikuti perubahan yang radikal itu.

Oleh karena itu, dalam beragama dan dimensi kehidupan kita lainnya, betapa pentingnya untuk bersikap moderat, sewajarnya, biasa-biasa saja. Saya kira inilah salah satu bentuk jihad kita hari ini, terutama kepada diri sendiri. Berusaha dengan penuh kesungguhan untuk bersikap tengah-tengah. Tidak ekstrim ke kiri maupun ke kanan. Dalam segala hal, mulai dari ibadah harian kita, pekerjaan, istirahat, dan bersosial. Dalam hal mencintai, bergembira, berduka, dan seterusnya. Selain menyadari posisi kita, terus tekun di dalam berproses, berusaha untuk mengambil jalan tengah, dan hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjalaninya dengan bahagia. Berproses dengan bahagia. Berhijrah dengan bahagia!

Semoga semua ini pada akhirnya akan mengantarkan kita menjadi sosok Muslim yang penuh belas kasih dan rendah hati. Wuddan wa haunan.

Artikel ini sebelumnya tayang di Islami.co

Bagikan tulisan ini: