Gus Dur: Diplomasi melalui Seni dan Humor

Dalam rangka memperingati ultah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang jatuh pada 7 September nanti, Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru dari Kemdikbud akan menggelar konser daring bertajuk “Diplomacy through The Art & Humor” bersama saya dan teman-teman pemusik yang antara lain dulu tergabung di Nusantara Symphony Orchestra.

Jika masih hidup tahun ini, Gus Dur akan berusia 80 tahun atau 10 windu. Sebuah perayaan yang patut dirayakan oleh semua orang yang menjunjung tinggi toleransi dan kemanusiaan. Kita semua mengenal Gus Dur sebagai seorang humanis, humoris, dan pluralis pecinta sastra, musik klasik serta berbagai genre lainnya, juga film, dan seni tradisi.

Konser ini bukan hanya sebuah penghormatan kepada Presiden RI ke-4 tersebut, tapi juga penghormatan untuk banyak hal. Antara lain penghargaan untuk toleransi di tengah perbedaan, penghargaan untuk pemahaman agama yang inklusif, kemanusiaan, para guru dan pemimpin, dunia pendidikan, dan juga untuk dunia seni, karena Gus Dur adalah tokoh penting di semua bidang tersebut.

Di mata saya Gus Dur bukan hanya seorang presiden yang banyak melakukan pembaruan, tapi juga seorang diplomat handal dan pecinta seni. Mencintai seni merupakan hal penting bagi seorang pemimpin, karena ia harus bisa mengerti dan merasakan, bukan hanya bisa membaca dan mengolah data, ahli dalam strategi politik, serta pembangunan fisik. Yang dia pimpin adalah manusia yang mengatur ekonomi, politik, atau apa pun. Manusia yang memiliki kecerdasaan dan perasaan.

Untuk merayakannya tak bisa lebih tepat daripada menggunakan metode Gus Dur sendiri dalam berdiplomasi, yaitu seni dan humor.

Itu sebabnya saya ingin menyampaikan humor lewat musik, karena humor itu berlaku sama dalam semua bidang. Konser ini juga sebuah penghormatan (tribute) bagi humor itu sendiri, yang sekarang banyak dibungkam oleh kaum intoleran dan ekstrimis dengan dalih penistaan agama, menghina Tuhan, atau alasan lainnya. Saya percaya sekali, jika saja Gus Dur masih hidup, beliau akan sudah "diahokkan" berkali-kali, apalagi beliau secara terbuka mengakui keturunan Cina.

Satu aspek humor dan persahabatan antarnegara atau budaya yang berbeda antara lain adalah melalui karya saya "I wish Pavarotti had known Marzuki". Karya itu menggabungkan lagu "Melati di Tapal Batas"-nya Ismail Marzuki dengan "Nessun Dorma" dari opera G. Puccini.

Nah, "Nessun Dorma" itu artinya "Tak ada yang boleh tidur!". Ini karena saya mengenang kejadian tahun 2000 lalu, saat Gus Dur mengundang saya sebagai seniman pertama yang masuk lagi ke Istana Negara sejak zaman Presiden Soekarno. Saat itu adalah pertama kali saya balik ke Indonesia setelah sejak usia 18 tahun kuliah dan kemudian berkarir di Eropa. Ini juga misi Gus Dur memanfaatkan musik klasik dan karya seni lainnya sebagai alat diplomasi.

Nah, pada saat konser di Istana itu, saya melihat dengan ujung mata saya bahwa beliau tertidur! Saya kan bingung. Sementara itu para undangan lainnya sepertinya para pejabat yang tidak menyukai musik klasik.

Tapi... usai konser di Istana Negara itu Gus Dur mengajak ngobrol dan mengulas permainan saya. Terbuktilah bahwa beliau lebih menyimak daripada mereka yang kelihatannya tidak tidur, karena ulasan dan komentar beliau sangat tepat.

Koleksi CD Beethoven Gus Dur itu 10 kali lipat dari koleksi milikku. Dan Gus Dur tahu bedanya konten, gaya permainan, tempo, dan nuansa tiap CD. "Si ini mainnya temponya lebih cepat, si ini klimaksnya kurang kena," dan lain-lain.

Nah, itu sebabnya di konser untuk Gus Dur ini saya ingin memainkan "I wish Pavarotti ..." Lagu yang sebetulnya saya tulis atas permintaan Yayasan Pavarotti saat jandanya, Nicoletta Pavarotti berkunjung ke Indonesia. Permintaan mereka waktu itu juga adalah sebuah karya baru yang menggambarkan persahabatan budaya Indonesia dan Italia.

Balik ke konser saya di Istana Negara: setelah selesai mengulas konser saya habis-habisan, saya dan Gus Dur ngobrol banyak. Gus Dur diskusi soal strateginya dalam diplomasi seni, seperti Jerman meng-'eksploitasi' Beethoven dan Bach. Gus Dur ingin terapkan itu sebetulnya. Saya pun sudah siap bantu. Eh, tapi habis itu, beliau lengser!

Untuk konser daring ini kami mengambil gambar di Pojok Gus Dur, bekas ruang kerja Gus Dur di gedung PBNU sebelum dan setelah menjadi presiden. Ruangan yang memiliki nilai historis tersendiri: di tempat yang relatif sederhana dan penuh buku inilah Gus Dur menemui banyak warga yang mengadu, juga para sahabat dan koleganya.

Para musikus yang terlibat adalah Wirya Satya di oboe, Andika Candra di flute, Yunus di french horn, Nino Ario Wijaya di klarinet, dan Stephanie Marcia di fagot. Kemudian ada dua pianis muda: Michael Anthony dan Randy Ryan.

Michael Anthony, seorang tunanetra dan autis yang saat ini berusia 17 tahun, pernah tampil pada konser daring "Tribute to BJ Habibie" Juni lalu, juga produksi Ditjen Kebudayaan di kanal YouTube "Budaya Saya". Sedangkan Randy Ryan (25) adalah pianis Indonesia yang terpilih melalui seleksi ketat menjadi siswa dari pianis besar Leon Fleisher yang bulan lalu wafat pada usia 92 tahun.

Randy adalah lulusan dari fakultas musik prestisius Juilliard School of Music di New York City. Ia diterima kuliah di sana setelah memenangkan Ananda Sukarlan Award tahun 2012 pada usia 16 tahun; pemenang termuda kompetisi paling sulit di Nusantara ini. Konser ini sekaligus sebagai penghormatannya terhadap almarhum sang dosen.

Randy berharap ia bisa meneruskan perjuangan dosennya, mengabdikan diri untuk pemajuan musik klasik Indonesia seperti halnya dedikasi Fleisher untuk pemajuan musik klasik Amerika Serikat.

"Gus Dur: Diplomasi melalui Seni dan Humor" akan tayang di kanal YouTube Budaya Saya milik Ditjen Kebudayaan RI tepat pada ulang tahun Gus Dur yang ke-80, Senin 7 September pukul 7 malam WIB.

Sumber: kompas.id

Bagikan tulisan ini: