Gus Dur, Sepakbola, dan Shin Tae Yong

“Goooooolllllll,” riak suara girang dari setiap sudut kampung. Tidak. Hampir setiap rumah meneriakkanya saat Kambuaya, penyerang Timnas Indonesia berhasil membobol gawang Timnas Thailand pada menit ke-7 di leg kedua final Piala AFF 2020. Pertandingan itu berakhir imbang 2-2. Indonesia harus puas dengan kembali menduduki posisi Runner up-nya yang ke-6.

Sepak bola seperti memiliki kekuatan magis. Olahraga asal Benua Biru ini terbukti ampuh menjadi pemersatu bangsa. Tak heran, banyak pihak yang memanfaatkannya untuk mendulang popularitas. Mulai dari tawaran bonus hingga sekedar membuat pamflet ucapan.

Perbincangan permainan si kulit bundar ini juga menjadi favorit bagi KH Abdurrahman Wahid. Bahkan kiai yang lebih akrab dengan sebutan Gus Dur ini juga terkenal sebagai komentator bola yang rajin mengisi kolom opini di berbagai media massa. Dalam buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton, di tengah kesibukan kegiatan intelektualnya, Gus Dur hampir selalu menyempatkan waktu untuk mengikuti pertandingan dan kabar ihwal sepak bola. Lewat surat kabar ataupun radio, termasuk saat menjalani pendidikan di Kairo.

Selain merupakan olahraga paling digemari, sepakbola juga menarik karena membutuhkan strategi dalam permainannya. Untuk menang tentu butuh kebersamaan dan kekompakan 11 pemain di lapangan sebagai sebuah tim. Hal ini tentu tak mudah bagi Indonesia yang memiliki ciri masyarakat yang heterogen. Indonesia sebagai sebuah negara, memiliki 6 agama resmi, dan ribuan suku serta bahasa di dalamnya.

Dalam gelaran Piala AFF 2020, Shin Tae Yong memboyong 30 pemain. Ke semua orang itu tentu berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda. Termasuk agama. Tak hanya pemain, masyarakat Indonesia pun lebur berkat sepakbola. Kalah atau menang. Bayangkan jika ada pemain dalam posisi bebas di depan gawang meminta bola namun dihiraukan karena beda agama. Tak terbayang bagimana perasaan Shin Tae Yong.

Mungkin ini juga yang menjadi alasan Gus Dur tertarik dengan sepakbola. Sepakbola merupakan simbol perdamaian dalam keberagaman. Wacana keberagaman Gus Dur tentu sudah banyak dikenal. Hal ini membuat cucu dari pendiri NU itu disebut sebagai bapak pluralisme. Serta, berkatnya, masyarakat Tionghoa di Indonesia bisa merayakan Imlek dengan bebas.

Apa pentingnya wacana Gus Dur soal keberagaman? Dalam sepakbola, pelatih mesti bisa melakukan persiapan yang matang untuk menampilkan permainan yang ciamik. Hal itu tentu butuh kemampuan untuk mempersatukan berbagai kepribadian para pemain yang juga latarbelakang yang berbeda.

Hal yang sama juga dibutuhkan untuk menciptakan situasi kondusif dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat yang sangat heterogen membuat Indonesia menjadi negara yang rawan konflik. Tak jarang peristiwa persekusi ketika menjalankan ritual keagamaan, bahkan ritual adat sekalipun. Meski telah memiliki Pancasila yang bernilai universal, Indonesia tetap butuh sosok penerjemahnya.

Bagi Gus Dur, Pancasila bukan hanya sebuah nilai yang harus diimani. Ia menjadikan dasar negara itu sebagai falsafah hidup yang menubuh di setiap laku hidupnya. Itu tercermin pada sikapnya terhadap semua agama, keberpihakannya kepada kelompok minoritas, dan keterbukaannya terhadap setiap pemikiran.

Pendekatan dialogis selalu ia gunakan dalam menghadapi konflik-konflik yang terjadi. Masalah Papua contohnya. Dengan pendekatan yang Gus Dur lakukan, masyarakat Papua benar-benar mengakui sebagai bagian dari Indonesia. Hal dilakukan tanpa ada kenaikan tensi antara negara dan masyarakat adat di pulau cendrawasih. Tapi dengan mendengar langsung dan memperlakukan masyarakat di sana selayaknya manusia.

Dalam gelaran Piala AFF 2020, Shin Tae Yong adalah bentuk lain Gus Dur di dunia sepakbola. Dengan kemampuannya menerjemah kebutuhan Timnas Indonesia dan strategi yang tepat Indonesia berhasil sampai di babak final. Menambah catatan sejarah kesuksesan sepakbola Indonesia di ajang sepakbola di tingkat Asia Tenggara itu. Meski sempat dihujani 4 gol tanpa balas pada leg I, Indonesia berhasil menahan imbang Thailand pada leg II dan harus puas di posisi Runner up.

Pelatih asal Korea Selatan itu masih butuh waktu untuk mematangkan timnas sebagai jawara di Asia. Ia harus mendapatkan waktu lebih lama untuk membawa timnas menjadi juara. Shin Tae Yong harus selamat dari upaya kudeta, desakan sidang istimewa, tuduhan skandal buloggate, dan berbagai kepentingan lainnya yang menginginkan dirinya berhenti sebagai nahkoda.

____________

Artikel ini pertama kali dimuat di pojoklasika.com

Author

Bagikan tulisan ini: