Gus Dur: Tokoh yang Namanya Tak Kunjung Terlupakan

Sudah jamak diketahui bahwa Presiden Keempat Indonesia Abdurrahman Wahid adalah figur yang laku lampah hidupnya ia abdikan untuk bangsa dan negara. Bukan karena kebetulan Gus Dur bernasabkan darah biru, pengabdian kepada bangsa dan negara baginya adalah sebuah panggilan. Nasab tinggallah nasab, tiada artinya nasab tanpa perjuangan dan pengabdian.

Tidaklah heran mengapa setiap tokoh yang memiliki andil besar terhadap bangsa dan negara, ketika ia berpulang, menanggalkan rasa sedih yang begitu mendalam bagi masyarakat luas. Siapa pun itu tokohnya, tak terkecuali Gus Dur. Belum lama ini, cendekiawan Muhammadiyah yang juga seperjuangan dengan Gus Dur, Buya Syafii Maarif telah berpulang. Lihat bagaimana reaksi masyarakat: berbondong-berbondong melangitkan doa. Jasa-jasa dan tauladannya kelak lestari dalam ingatan.

Saat Gus Dur meninggal beberapa tahun lalu, duka mendalam juga menyelimuti masyarakat luas. Siapa pun itu, agama apa pun itu, dan apa pun profesinya, kesedihan serta perasaan kehilangan menyentuh palung hati mereka. Iringan doa dan puji-pujian berduyun-duyun datang dari segala penjuru. Fenomena kepulangan Gus Dur dengan baik direkam oleh Buya Husein Muhammad dalam bukunya Sang Zahid Mengarungi Sufisme Gus Dur, begini tulisannya:

“Lihatlah, hari ketika ia wafat. Puji-pujian dan kekaguman-kekaguman kepadanya mengalir begitu deras dari berbagai sudut, pojok, pusat lingkaran, dan pinggir sosial yang tak terjamah oleh tangan kekuasaan. Bunga warna-warni yang wangi tertata rapi menyebar dan berhamburan ke dan di setiap jalan yang dilaluinya, menumpuk bagai bunga di taman bunga, lalu sebagian daripadanya ditebarkan di atas tanah, pusara, tempat istirahatnya yang terakhir dan abadi”.

Kenapa kiranya terjadi demikian, jawabannya masih sama, pengabdian dan perjuangan. Gus Dur seutuhnya mengabdi atas nama kemanusiaan tanpa secuil pun melihat latar belakangnya. Ia berjuang dan tidak barang sejengkal pun ia mundur. Gus Dur adalah milik semua.

Satu waktu, Gus Dur pernah bertutur saat pendeta Hindu dari India, Swami Shanti Prakash datang menyapa umatnya di Pasar Baru. Pendeta Hindu tersebut duduk di tengah-tengah umat yang mengelilinginya. Sementara pendeta itu sendiri sudah berumur tua dan buta matanya. Ketika Gus Dur hadir, pendeta Hindu tadi dibisiki oleh pembantunya, dan langsung berdiri menyambut Gus Dur lalu merangkul dan mengatakan sesuatu. “Dia menitipkan umat Hindu di sini pada saya,” cerita Gus Dur.

Tak ayal Gus Dur merasa bahagia bukan kepalang, Gus Dur melanjutkan, “Pada saat itu saya merasa bangga sekali diterima sebagai warga umat manusia. Rasanya nggak sia-sia hidup ini, ditentang jutaan orang biarin aja. Dia menerima saya sebagai saudaranya itu kan bukan main,” tutup Gus Dur. (Lihat Tabayun Gus Dur Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural)

Perjuangan Gus Dur atas kemanusiaan tetap ia lanjutkan hingga akhir hayatnya. Maka tak aneh namanya hingga kini masih ramai-ramai disebut dan sukar untuk dilupakan.

Terbaru, IAIN Pekalongan melaporkan mentranformasi nama kampusnya menjadi UIN KH. Abdurrahman Wahid. Penamaan ini bukan tanpa alasan, Rektor kampus, Prof Zaenal Mustakim membeberkan alasan di balik penamaan tersebut. Menurutnya, Gus Dur adalah teladan yang lihai mendialogkan Islam dan negara. Sehingga harapannya, UIN Pekalongan mampu mensinergikan kekuatan akal dan ajaran agama. Tak hanya itu, ia juga mengakui kalau Gus Dur selalu berpihak kepada mereka yang tertindas, kaum minoritas dan terpinggirkan.

Kenyataan ini semakin meyakinkan nama Gus Dur akan terus dirapal di banyak tempat, mengendap di setiap ingatan, dan dikaji di setiap saat. Semua ini tak lain dan tak bukan karena jasa pengabdian dan perjuangan Gus Dur itu sendiri.

Terakhir, apalah arti sebuah kebesaran dari sebuah nama dan nasab kecuali yang diingat adalah perjuangan dan pengabdiannya. Gus Dur untuk dan milik semua. Padanya kita semua berharap keberkahannya. Al-fatihah.

Author

Bagikan tulisan ini: