GUSDURian Pasuruan Ambil Peluang Penerapan 9 NPK Gus Dur dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

“Ganti menteri, ganti kurikulum”. Ya, itu memang terjadi. Beberapa kali. Sehingga, tinggal bagaimana perspektif dalam memahami narasi tersebut. Ketika membaca narasi itu dengan pesimis, akhirnya secara tidak sengaja dapat memicu lahirnya mental model untuk bertahan dalam zona zaman. Enggan untuk berubah.

Berbeda ketika memahami narasi itu dengan optimis. Akan memunculkan sebuah pemahaman bahwa perubahan kurikulum pendidikan itu pasti akan terjadi. Sebab kehidupan di dunia ini terus berjalan. Bahkan, dalam era teknologi digital saat ini, telah mengalami perubahan dengan sangat cepat.

Lebih-lebih, Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan, bahwa “Memberi ilmu demi kecakapan hidup anak dalam usaha mempersiapkannya untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti seluas-luasnya.” Maka, kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan zamannya.

Begitulah, sekilas latar belakang yang membuat Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) GUSDURian Pasuruan mengambil inisiatif untuk terlibat dalam upaya percepatan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di Kabupaten Pasuruan.

Untuk itu, KGSKR bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan. Dengan menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) Kurikulum Merdeka pada Selasa-Rabu (30-31/08/2022) di Lantai II Rumah Inovasi Maarif NU Kabupaten Pasuruan.

Pelatih Ahli Sekolah Penggerak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Ahmad Marzuki, menyampaikan apresiasi atas inisiatif GUSDURian, LP Maarif NU, dan LTNNU dalam membantu mempercepat dan menyukseskan IKM di Kabupaten Pasuruan.

“Apalagi miskonsepsi dalam implementasi kurikulum merdeka selama ini masih sering terjadi. Utamanya bagi lembaga pendidikan yang tidak menjadi sekolah atau madrasah sasaran atau sekolah penggerak,” imbuhnya di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, Ketua LP Maarif NU Kabupaten Pasuruan, Achmad Farid, mendukung keterlibatan KGSKR GUSDURian Pasuruan untuk terlibat dalam IKM di Kabupaten Pasuruan. Pasalnya, dalam Struktur Kurikulum Merdeka ada proses pembelajaran dengan paradigma baru yang dilaksanakan melalui Program Intrakurikuler, Program Ekstrakurikuler, dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

“Di Kurikulum Merdeka ini ada peluang untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang selama ini selalu diperjuangkan oleh teman-teman GUSDURian dan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan oleh Gus Dur seperti Bhinneka Tunggal Ika, Kearifan Lokal, dan lain-lain,” tuturnya.

Untuk itu, Penggerak KGSKR, Khoridatul Bahiyyah menyatakan komitmennya untuk mendampingi sekolah dan madrasah di Kabupaten Pasuruan dalam pelaksanaan IKM. Utamanya dalam penyelenggaraan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Projek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin.

“Semoga kami bisa konsisten dalam menyebarkan sembilan Nilai, Pemikiran, dan Keteladanan (NPK) Gus Dur dengan berbagai medium, salah satunya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau Pelajar Rahmatan Lil Alamin,” tandas Alumni Pondok Pesantren Ngalah itu.

Untuk diketahui, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk  mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis projek (project based learning) yang berbeda  dengan pembelajaran berbasis projek dalam program intrakurikuler di dalam kelas. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar dalam situasi tidak formal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang lebih interaktif, dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila.

Sedangkan dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Projek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin itu diberikan pilihan-pilihan tema. Meliputi tema Kearifan Lokal, Suara Demokrasi, Gaya Hidup Berkelanjutan, Bhinneka Tunggal Ika, Kewirausahaan, Rekayasa dan Teknologi, Kebekerjaan, dan Bangunlah Jiwa dan Raganya.

Dari peluang itu, kita tinggal memasukkan sembilan Nilai, Pemikiran, dan Keteladanan Gus Dur. Mudah diucapkan, penuh tantangan saat dilakukan bukan?

Author

Bagikan tulisan ini: