Jalan Budaya ketika Langit tak Lagi Sama

Kebenaran, juga kebebasan, disampaikan melalui sapa, juga melalui media sosial. Juga kalau ingin menyangkalnya. Begitulah peristiwa berlangsung secara terus menerus, tanpa ada libur atau cuti, di saat kita tidur atau terjaga. Kebenaran dirumuskan, disampaikan, didesakkan, sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai manusia untuk kesetaraan dan keadilan. Dan sesungguhnya kemerdekaan menjadi syarat untuk terjadinya komunikasi ini.

Tak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya agamamu.”

Ini barangkali contoh kata sakti yang disampaikan oleh Sang Guru Gus Dur, mengenai kebenaran baru menjawab kegamangan mengenai rumusan apa itu agama, apa itu suku. Yang ternyata pada satu titik tertentu dalam kebersamaan kita pernah dan masih menjadi titik rawan. Bahkan sampai hari ini pun, ada elite politik yang bertanya: apa agamamu, sebelum mulai pembicaraan. Sesuatu yang sungguh mencemaskan, karena bahwa tawaran pendekatan yang pernah dirumuskan dengan bijak seakan tak pernah didengar. Agaknya perlu disuarakan kembali, disapakan kembali.

Peristiwa menyapakan dengan cara ini saya istilahkan dengan Jalan Budaya, yaitu pendekatan dengan unsur-unsur budaya dengan segala dinamikanya. Kita akan mengenali Jalan Budaya dari ciri-cirinya, atau unsur-unsurnya, yang antara lain:

Unsur pertama, kreativitas. Daya kreatif adalah menciptakan sesuatu yang baru dan atau memperbarui ciptaan lama. Hampir semua karya seni memerlukan kreativitas dalam ciptaannya, dan karenanya membedakan diri dengan apa yang dihasilnya melalui insting pada binatang.

Ini contoh-contohnya:

  • Seekor itik, begitu menetas dari telornya, langsung bisa berenang. Insting alamiah menyimpankan kemampuan itu. Tapi dari sejak dulu tak ada itik yang berenang gaya dada, gaya kupu-kupu atau gaya punggung atau gaya katak.
  • Seekor kumbang bisa membangun tempat tinggalnya sangat efisien, pertukaran udaranya keluar masuk dengan bagus, berbentuk segi delapan. Tapi dari dulu tak ada kumbang membangun sarangnya sebagai rumah susun sederhana, model apartemen, mal, dan lain sebagainya.
  • Juga dalam berhubungan intim pun, binatang memakai cara yang sama gayanya.

Ini terbedakan dengan manusia yang kreatif; banyak gaya, banyak modus, banyak alasan.

Unsur kedua yang menjadi sifat Jalan Budaya adalah : mengedepankan dialog dan bukan kekerasan. Dan sesungguhnyalah dialog dalam bentuk budaya mendapat tempat yang utama. Dalam perwayangan, Bharata Yuda dari kisah Mahabarata, bahkan ada episode khusus yang mengutamakan dialog sebelum perang besar, yaitu Kresno Duta—atau Kresno yang menjadi duta perdamaian. Dalam pentas wayang orang pun bahkan sebelum adegan peperangan satu lawan satu, melalui tahap dengan bernyanyi. Beberapa bentuk lamaran, atau perkawinan—di Betawi misalnya, diawali dengan dialog bersahut-sahutan. Dari sinilah kekayaan seperti berbalas pantun, menembang dengan “tembang ageng”, diplomasi berbahasa menemukan bentuk kreatifnya.

Dengan tradisi berdialog—dengan segala bumbu humor, kritik pasemon, termasuk ke luar dari tata krama kalau kini cepat terjadi tawuran atau keroyokan, bahkan kadang sebelum ada percakapan apa yang menyebabkan tindak kekerasan.

Jadi sebenarnya kalau kita sering gaduh, itu tidak mengherankan.Yang mengherankan karena pembuat gaduh tak tahu bahwa dialog itu termasuk kemampuan mendengar. Bukan terus berkoar sampai memar.

Unsur ketiga adalah: ada tanpa meniadakan yang lain. Dalam Jalan Budaya tak ada klaim sebagai satu-satunya kebenaran. Jalan Budaya karenanya mengakui adanya pendekatan-pendekatan dari disiplin lain, dan menerima bentuk-bentuk budaya yang berbeda. Dengan demikian tak perlu peniadaan satu capain budaya karena adanya capaian budaya lain atau budaya baru.

Contoh-contoh :

  • Penemuan nasi goreng tidak meniadakan adanya nasi uduk, nasi liwet, nasi begono, atau jenis nasi apa pun.
  • Penemuan nasi goreng tak perlu dibatasi bentuk ragamnya. Ia bisa dikombinasikan dengan daging kambing, ikan teri, sea food, siput, atau bahan atau bumbu lain yang dikehendaki.
  • Nasi goreng juga bisa menggunakan nasi basi, atau nasi hangat. Beras putih atau merah.
  • Nasi goreng mencerminkan open ended, terbuka penafsiran untuk terus dikembangkan, dan tak masuk penjara definisi yang membatasi.
  • Hal yang kurang lebih sama pada keberadaan musik dangdut, atau satu gaya tertentu dalam tampilan dangdut, yang tak meniadakan musik jenis lain dan atau pilihan cengkok yang berbeda. Juga film, atau novel, atau lukisan, atau tarian, atau acara atau program.
  • Telah terbukti dan teruji ketika Sardono W. Kusuma menciptakan koreografi baru untuk tari Jawa, atau Bali yang mencengangkan dunia, tidak menghilangkan tari klasik atau semi klasik. Juga ketika Butet Kertarajasa bermonolog dan menciptakan pencarian baru, atau Sudjiwo Tejo yang mendalang dengan wayang atau orang, tidak menggusur tokoh atau garapan yang ada. Bisa terus disusun daftar aktor Reza Rahardian di dunia film, atau juga Cak Lontong di dunia komedi, Dee Lestari sebagai penulis perempuan, atau puisi-puisi. Khrisna Pabichara lewat @a1bichara yang dalam disiplin masing-masing tetap hadir dan terus berkarya, tanpa meniada yang ada. Justru kehadirannya memperkaya bentuk, memperluas jangkauan garapan sebelumnya.
  • Begitulah proses dinamis dalam budaya yang tak mengenal close caption, tafsiran yang tertutup. Tak ada tafsiran tunggal, tak ada monopoli kebenaran. Proses kreatif bukan berhenti pada seniman, melainkan proses terus berlangsung di tengah masyarakat, atau di antaranya.

Unsur keempat, adalah daya berkarya. Jalan Budaya dibuktikan dengan karya, bukan rencana, bukan hanya wacana. Daya berkarya, need for achievement, adalah dorongan untuk membuat sesuatu tanpa disuruh, tanpa diminta atau diiming-imingi. Dorongan untuk berbuat yang akhirnya melahirkan suatu karya, suatu bentuk jadi.

Sesekali bolehlah contohnya karya saya sendiri, seperti Keluarga Cemara, misalnya. Ketika menuliskan saya tidak menerima honor khusus, gaji juga tidak naik karenanya. Daya berkarya membuahkan hasil ketika akhirnya cerita pendek itu dikumpulkan, dibukukan dan diterbitkan, kemudian diproduksi sebagai sinetron seri. Sebetulnya masih ada beberapa contoh lain, tapi cukup satu itu saja.

Daya berkarya, atau dorongan berbuat sesuatu inilah atau “semangat pembebasan“ ini bisa diteruskan. Gethok tular di antara para murid—langsung atau tidak, para santri, para cantrik, atau mereka yang terinspirasi, terpesona oleh Gus Dur, melakukan secara bersama atau sendiri-sendiri. Akan menjadi luar biasa dalam arti sebenarnya, karena boleh dikatakan beberapa generasi adalah murid—kalau boleh menyebut diri sebagai murid, Gus Dur. Wilayah dan ruang keberadaan Gus Dur meliputi dunia sebagai  intelektual, politikus, budayawan, presiden, penulis, kiai, sang zahid, pemimpin, “dewa yang menyamar sebagai kiai”, yang mengilhami tiada henti. Sampai detik ini.

Sedemikian luas ruang-ruang yang terciptakan sehingga merupakan perwujudan berbagai disiplin yang lintas batas, melalalui sekat. Para murid ini menjadi bagian yang bukan hanya belajar bersama, melainkan juga berani bertindak, berani meneladani.

Unsur kelima, silahkan diisi sendiri. Apakah soal religiusitas atau mungkin soal humor.

Dengan demikian Jalan Budaya barang kali bisa melengkapi pendekatan yang selama ini lebih dikenal yaitu Jalan Politik, Jalan Hukum, Jalan Keamanan, Jalan Ekonomi, Jalan Pembangunan….. Barangkali Jalan Budaya memungkinkan penyampaian kebenaran, juga kebebasan lebih beragam…

Barangkali kita perlu jeda sejenak….

Pada awal mula komunikasi dimulai dari atas, dari kejauhan, dari langit. Dari sanalah segalanya bermula. Dari langitlah bermula ilham, inspirasi, perintah, gaib, misterius kepada orang-orang tertentu, yang terpilih. Komunikasi berlangsung searah, “dari atas ke bawah”, dan susah dibantah. Begitulah para raja, para pendeta, para penafsir mimpi, para peramal memegang monopoli kuasa menerjemahkan. Komunikasi model wangsit, turun langsung dari langit, menentukan nasib atau kehidupan seseorang atau beberapa orang.

Pada masa kini, komunikasi masih sama. Langit tetap memegang peran penting dan menentukan. Namun bukan lagi jenis wangsit, melainkan dengan sistem satelit. Langit pun berubah. Kini langit tak memilih orang-orang tertentu, melainkan berkomunikasi dengan siapa saja yang memiliki akses dengan satelit. Dan ini semua dimungkinkan karena kemudahan yang diberikan teknologi komunikasi secara massa, secara ketika yang sama. Dan puncak dari semua itu adalah apa yang kita kenal sebagai media sosial, atau media daring. Dengan bentuknya seperti Twitter, Facebook, Instagram, WA, dengan beberapa varian yang sifatnya pribadi atau dalam grup yang makin canggih menyebar.

Dalam kondisi ini teori komunikasi yang baru tak bisa menerangkan bagaimana seseorang bisa menjadi penyampai berita—apa saja, dan memberi komentar—apa saja, dan atau menyatakan suka atau meneruskan. Dengan begitu banyak idiom-idiom yang baru, istilah-istilah baru, yang kesemuanya berarti pengertian yang baru.

Langit yang sama itu adalah langit yang berubah jauh. Langit yang memberikan kebebasan sebebas-bebasnya dalam menerabas batas-batas yang selama ini ada. Dengan kata yang berbeda : kebenaran atau bukan kebenaran, disampaikan dengan cara yang kurang lebih sama, juga ketika menyangkalnya. Tak ada garis pemisah, pun andai itu fitnah yang ingkar pada data dan fakta dengan yang bukan fitnah. Tumpang tindih mengajarkan untuk bisa memilih, untuk menjadi cerdas.

Unsur-unsur yang ada dalam Jalan Budaya bisa dipakai sebagai pendekatan dalam mencoba memahami keberadaan media sosial. Bahwa selalu diperlukan adanya ruang kreatif untuk memberi tafsir baru pada peristiwa, atau fakta yang dimunculkan. Ruang dinamis ini diperlukan mana kala, misalnya kita membaca apa yang ada di media sosial. Misalnya:

  • Karena di daerah terjadi ketidakadilan dalam menyaksikan Gerhana Matahari Total 2016, mohon kiranya gerhana tersebut diulang. Atau:
  • Zaman Presiden Soeharto ada Gerhana Matahari Total. Juga di era Presiden Jokowi. Lalu presiden-presiden yang lain ngapain selama ini? Atau:
  • Haji Lulung ingin naik kereta api, gerbong yang menjemput ke rumahnya. Atau:
  • Menteri Susi banyak berkoar menenggelamkan kapal asing. Ical tanpa banyak ngomong menenggelamkan banyak desa dengan lumpur Lapindo. Atau: Kisah-kisah yang berkaitan dengan Monas, di mana ada yang akan gantung diri, atau melompat terjun dari atas, atau lari telanjang. Atau, tak ada hubungannya dengan Monas tapi soal potong kelelakian atau potong kuping.
  • Atau berbagai kisah dan cerita yang bisa diingkari, dihindari, dieliminasi sendiri, ditolak walau diomongi sendiri. Semuanya memungkinkan menyampaikan kebenaran—dan atau penyangkalan. Semuanya menambah ketidakjelasan mana yang palsu dan mana yang perlu.

Atau sebuah keberuntungan bagi generasi ini karena jauh hari sudah dikenalkan komentar seperti meme atau sejenisnya ini, 15 tahun lalu. Ketika itu Gus Dur menyamakan atau melihat tak ada perbedaan jelas antara para wakil rakyat, anggota DPR dengan anak-anak di Taman Kanak-Kanak. Komentar menjadi klasik yang membuat murka para wakil rakyat karena merasa direndahkan. Meskipun menurut Jaya Suprana seharusnya yang tersinggung  justru anak-anak TK. Komentar itu klasik dan abadi, dan secara tema masuk aktual sampai saat ini. Tidak berlebihan jika para murid merasakan daya ramal yang menembus waktu. Aktualitas itu juga berlanjut dengan komentar berikutnya yang mengatakan anggota DPR sudah turun menjadi playgroup. Termasuk komentar bahwa gelar prof para wakil rakyat itu sebenarnya singkatan dari provokator.

Dan sesungguhnyalah komentar “Taman Kanak-Kanak” bisa menjadi serial yang luar biasa panjang untuk dikaji, untuk digali, untuk ditemukan relevansinya saat itu. Juga komentar yang lain tentang suku dan agama dalam pemahaman baru yang masih akan dilihat ketika persoalan-persoalan SARA masih menghantu di negeri ini, ketika toleransi dilanggar, ketika nasionalisme tak menemukan “nasi”nya lagi.

Barangkali juga pendekatan humor merupakan andalan untuk menyikapi langit yang berubah. Humor, atau lelucon kata Gus Dur,” dengannya kita melupakan kesulitan hidup, walau sejenak”. Tapi lebih dari itu, “dengan humor pikiran jadi sehat.”

Dengan dan dalam semangat “tetap waras” inilah kita berkumpul di sini, berorasi, berkesenian, membebaskan diri kita dari belenggu yang menghancurkan, menistakan, dan mengerdilkan martabat kemanusiaan.

Dalam kaitan ini, dalam kondisi “langit yang sepenuhnya telah berubah”, kondisi komunikasi yang tak jelas siapa bicara apa dengan siapa, dalam situasi sangat bebas—termasuk untuk memaki, akan lebih tepat bila semangat Gus Dur tidak menjadi luntur karenanya. Tetap bisa jernih berpikir, fasih mengutarakan, sehingga semua bersih adanya. Bahkan saya ingin mengajak justru melalui media sosial kita mampu menyebarkan kabar pesona segala hal yang baik. Baik kata-kata mutiara, atau kisah-kisah inspiratif yang baik dan benar adanya.

Saya mengalami suatu ketika pergi bersama Gus Dur dalam mobilnya yang kecil, pergi diskusi di daerah Puncak, Bogor. Ketika itulah beliau mengutarakan gagasannya  bahwa pengguna jalan tol yang membayar mestinya mendapat diskon. Terutama karena dalam sehari kendaraan bisa beberapa kali melewati jalan tol. Gagasan sederhana terlontar, dan terwujud. Ada suatu ketika pengguna jalan tol mendapatkan keringanan. Kisah ini, barang kali saja tak banyak didengar, tapi pasti inilah kisah yang pantas didengarkan, ditularkan. Karena membawa kebaikan tanpa merugikan salah satu pihak. Yang menerima kebaikan bisa saja tak mengenal Gus Dur, namun merasakan manfaatnya.

Saya pernah mengikuti pendekatan ini dengan menuliskan mengenai jembatan penyeberangan orang yang dibangun. Kenapalah dari awal tidak didesain dan dibangun sekaligus untuk kegiatan olah raga, jalan kaki misalnya. Misalnya saja  anak tangga bukan asal-asalan, ada perhitungan kira-kira menghabiskan berapa kalori. Tulisan jadi, tapi pembangunan jembatan penyeberangan orang yang baru tak peduli.

Ada peristiwa lain, kali ini judulnya Tukang Bubur Baik Hati. Ada tukang bubur, masih muda dan laris manis di pangkalan jual, dekat-dekat penjual lain. Sedemikian larisnya sehingga pembeli harus antri pada jam-jam tertentu. Menariknya penjual bubur ini suka mendadak libur. Tanpa pemberitahuan, tahu-tahu libur. Bisa sehari, bisa seminggu, bisa lebih. Alasannya tidak meyakinkan: nengok ponakan. Menurut penjual lain di sekitar tempat itu, kang bubur ini memakai ilmu pesugihan—ilmu bikin kaya, sugih, atau disebut penglarisan, cara bikin laris dan masuk ilmu hitam.

Kecurigaan yang beralasan, karena penjual bubur ini tak pernah menjawab apakah ia memakai cara-cara terselubung atau tidak. Pernah juga para pedagang sekitarnya, termasuk penjual bubur ayam yang lain, marah besar dan berniat menghancurkan dagangannya. Saya termasuk pelanggan, dan tidak tahu soal pesugihan itu benar atau tidak—meskipun sering mendengar juga pada penjual lain di jalan yang tak terlalu jauh dengan cara tiba-tiba tidak berjualan. Bahkan dulu ada warung bernama “Byar Pet”, karena sering sengaja gagal jual. Saya mencoba menyampaikan gagasan bahwa pesugihan bisa ada, bisa tidak. Tapi pesugihan ini jenis yang baik. Pemberi pemerataan kepada penjual yang lain. Bukankah kalau ia mendadak tutup, pembeli dan pelanggan akan mencari tukang bubur yang lain? Mungkin ini kebijakan nenek moyang kita yang juga memikirkan kepentingan orang lain. Sampai sekarang para tukang bubur ayam itu tidak saling bermusuhan.

Berita semacam ini perlu dimedia-sosialkan lebih banyak lagi. Juga berita-berita yang lain, sehingga warna langit tak selalu muram. Kita bebas melakukan itu atau tidak melakukan “ajakan menjadi sehat.”

Kalau boleh mengaku sebagai murid—merasa berhubungan erat , merasa dibimbing secara rohani, saya menangkap pembebasan yang dicontohkan Gus Dur terutama sekali adalah pembebasan dari  hanya mikir sendiri, dari egoisme pribadi. Bahkan lebih dramatis lagi kebebasan dari belenggu prasangka hanya memikirkan agamanya, sukunya, asal usulnya. Kebebasan yang diwahyukan Gus Dur adalah kebebasan untuk berbuat baik kepada orang lain.

Kita dibahagiakan dengan dan dalam pencerahan ini.


(Tulisan ini adalah pidato beliau dalam Orasi Budaya Forum Jumat GUSDURian, 6 Mei 2016 di Griya Gus Dur, Jakarta. Tulisan ini juga dimuat di islami.co)


Author

Bagikan tulisan ini: