Jaringan GUSDURian Kampanyekan Budaya Bersepeda melalui Mural

Sore itu, dua orang seniman sedang sibuk mengecat gambar Gus Dur dan Sukarno di tembok dekat Jembatan Kleringan. Sesekali kereta api lewat di atas mereka. Jembatan yang dekat dengan Stasiun Tugu dan Malioboro itu memang sering menjadi langganan mural atau gambar di tembok oleh para seniman Jogja. Kali ini, mural itu menampilkan potret Gus Dur dan Sukarno tengah bersepeda bersama, sambil diiringi tulisan “NGEPIT KE MANA AJA, KALAU DEKAT BERSEPEDA” di sebelahnya.

Kegiatan seni tersebut merupakan bagian dari kampanye bersepeda yang digagas oleh Jaringan GUSDURian dan Purpose Lab. Temanya menarik, “Jogja Bebas Polusi Udara dengan Jogja Lebih Bike”. Selain Jembatan Kleringan, aktivitas mural juga dilakukan di tiga daerah lain di Jogja, yaitu Tegalrejo, Mujamuju, dan Sorowajan.

Untuk merampungkan empat titik mural tersebut, Jaringan GUSDURian mengajak sembilan seniman dan dibantu oleh puluhan masyarakat sipil yang peduli dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Selain itu, kampanye ini juga melibatkan komunitas Jogja Lebih Bike untuk menyebarluaskan pesan yang diusung.

Aktivitas seni ini dimulai sejak Februari dan berakhir pada April 2021. Terkait tujuannya, kampanye ini dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat supaya mengurangi kendaraan bermotor.

“Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, terdapat 1.8 juta unit kendaraan bermotor di Jogja. Jumlah ini meningkat 200% setiap tahunnya,” ujar Sarjoko Wahid, salah satu penggagas kampanye dari Jaringan GUSDURian. “Padahal motor menyumbang 70% emisi karbonmonoksida di Jogja. Maka dari itu, kampanye ini mengajak masyarakat beralih ke sepeda agar bisa mengurangi percepatan polusi,” imbuhnya.

Kegiatan mural ini merupakan satu dari tiga medium yang dipakai Jaringan GUSDURian untuk mengarusutamakan budaya bersepeda. Di samping medium mural, kampanye lain juga dilakukan melalui riset bersama akademisi dan Litbang Kompas, kampanye di media sosial, serta kampanye tokoh agama melalui video dokumenter.

Sejak dulu Jogja dikenal sebagai kota yang ramah bersepeda. Ada banyak cara yang dilakukan, termasuk walikota sebelumnya yang membuat gerakan “Sego Segawe” atau “Sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe” (sepeda untuk sekolah dan bekerja) sejak 2008.

“Sebagai masyarakat sipil, GUSDURian berusaha menyemarakkan dengan membuat iklan masyarakat melalui mural. Tentu saja empat titik sangat kurang. Untuk itu kita perlu berkolaborasi dengan banyak pihak guna menggencarkan kampanye ini di masa mendatang agar Jogja benar-benar lebih bike,” pungkas Sarjoko.

Bagikan tulisan ini: