Libatkan 28 Komunitas di Sumenep, GUSDURian Peringati Hari Toleransi Internasional

GUSDURian Sumenep bersama dua puluh delapan komunitas dan organisasi se-Kabupaten Sumenep peringati Hari Toleransi Internasional di Warung Kopi Cuan, Jl. Adirasa, Kothe, Kolor, Kota Sumenep pada Minggu (28/11/2021).

Kegiatan yang diisi dengan nonton bareng film Liyan dan Selaras tersebut berlangsung dengan penuh khidmah dan meriah meski hujan deras melanda saat acara berlangsung.

Pasalnya, teman-teman GUSDURian Sumenep juga mendatangkan performance music show dari Komunitas Kesenian Global (King) serta dua pemateri yang memantik diskusi dua film tentang toleransi tersebut.

Seperti yang diungkapkan Koordinator GUSDURian Sumenep dalam sambutannya, "Mengapa kami mengajak 28 komunitas untuk terlibat dalam Peringatan Hari Toleransi ini? Tentu sebagai simbol bahwa tugas menjaga kerukunan dalam keberagaman ini menjadi tanggung jawab bersama" ungkapnya.

"Kami menganggap nobar dan diskusi film ini merupakan salah satu metode kampanye toleransi paling ampuh, terutama bagi kalangan milenial. Maka dari itu kami memilih cafe sebagai lokai acara juga sebagai bagian dari upaya GUSDURian menjadi wadah inklusif bagi semua kalangan" imbuh Wakil Ketua PW IPNU Jawa Timur ini.

Nunung Fitriyana, pemateri yang mengulas film tersebut menegaskan jika dalam diri kita terbesit perasaan merasa risih dengan pendapat orang lain karena tidak sama dengan pendapatnya, maka hal tersebut merupakan salah satu cikal bakal bibit intoleransi yang akan berkembang dalam diri seseorang.

"Merasakan perbedaan di lingkungan pedesaan sungguh sulit. Karena kita tidak pernah mengalami toleransi, berinteraksi dengan orang-orang di luar agama kita, apalagi di Madura," kata aktivis perempuan Sumenep tersebut.

Ia menambahkan, bahwa masyarakat tidak perlu takut untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda dengan dirinya. Sebab, menurutnya, terkadang orang terlalu khawatir dengan keimanan ketika berkomunikasi dengan orang di luar agamanya.

"Tantangan bagi kita di kalangan wilayah Madura adalah bagaimana perbedaan ini menjadi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari," lanjutnya.

Sementara itu, Mas Faiz, pemateri yang diminta untuk mengulas dua film tersebut mengatakan bahwa film yang diputar pada acara tersebut merupakan film reportase. Sebab, menurutnya, film dokumenter adalah film yang diproduksi untuk merespons isu tertentu.

"Film ini menurut saya adalah film reportase. Saya melihat memang ada toleransi yang sangat minim di Indonesia," pungkas sutradara film Basiyat ini.

Author

Bagikan tulisan ini: