Nimbrung Bareng GUSDURian Bone: Bahas Kearifan Tradisi dan Identitas Kebangsaan

Komunitas GUSDURian Bone kembali mengadakan diskusi rutin bertajuk Nimbrung Bareng GUSDURian. Kegiatan kali ini dilaksanakan di pelataran musala Kampus 1 IAIN Bone pada Jum’at lalu (28/10/2022). Tema diskusi yang diangkat adalah “Kearifan Tradisi dan Identitas Kebangsaan” yang dibawakan oleh pemateri dari komunitas Rumah Kreasi Budaya Bangsa (RKBB) Saoraja Bone yakni Saktiawan selaku DPO RKBB Saoraja Bone.

Jumadi selaku penggerak komunitas GUSDURian Bone bertugas sebagai pemandu diskusi. Para peserta didominasi oleh mahasiswa baru sekaligus juga sebagai langkah awal memperkenalkan komunitas GUSDURian di lingkup perguruan tinggi. Moderator mengawali diskusi dengan sedikit menyampaikan terkait eksistensi tradisi sebagai salah satu dasar dalam membentuk perilaku masyarakat yang berbudaya, dan yang terpenting adalah bagaimana bangsa itu ada karena budaya dan tradisi.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai kebudayaan dan keunikan tradisi masyarakatnya yang membuat orang-orang di luar sana mengenal Indonesia karena keberagamannya, tak terkecuali budayanya,” tutur moderator.

Senada dengan moderator, Saktiawan selaku pemateri kali ini menyampaikan bahwa keragaman budaya yang dimiliki Indonesia membuatnya dikenal masyarakat internasional secara luas.

“Ada hal yang menarik, yaitu bagaimana kemudian bangsa Indonesia sampai hari ini dikenal dunia bukan karena sebatas pernah dijajah imperialisme atau karena adanya Rafflesia Arnorldi, bunga terbesar di dunia, namun karena budaya kita yang begitu banyak dengan segala keunikannya tersendiri,” tambahnya.

Sebagai sebuah negara atau bangsa heterogen, tentu perbedaan dan keberagaman akan menjadi sebuah ancaman disintegrasi sekaligus menjadi tantangan untuk tetap menjaga benteng keutuhan negara Indonesia.

“Hari ini begitu banyak ancaman eksternal yang berusaha mengubah kondisi bangsa menjadi bangsa yang tidak yakin akan identitasnya, seperti berpakaian kearab-araban dan mengikuti tren budaya Barat yang berlebihan. Padahal justru karena keberagaman kita, khususnya dalam kebudayaan, menjadi benteng yang mengokohkan bangsa Indonesia sampai hari ini,” ungkap Saktiawan.

Pemateri juga sedikit menyampaikan terkait lokus kebudayaan masyarakat Bugis, khususnya pada beberapa tradisi masyarakat yang sering kali dianggap sebagai sebuah perbuatan yang tidak ada maknanya, atau dalam bahasa agama sering disebut dengan istilah syirik, sehingga kebiasaan dan tradisi itu perlahan mulai terkikis keberadaannya.

“Salah satu tradisi masyarakat Bone yang perlahan mulai hilang adalah tradisi mabbaca-baca dan mabbarazanji yang pada hari ini, khususnya di masyarakat kota, mulai hilang akibat adanya indoktrinasi beragama dari gerakan Islam sempalan. Pada akhirnya mereka gemar untuk menyalahkan orang lain, bahkan tidak segan untuk mengkafirkan,” pungkas Saktiawan.

Terakhir, Nimbrung Bareng GUSDURian kali ini ditutup dengan pepatah Bugis yang dikutip oleh Cornelis Speelman yang berbunyi “Poleka ri laleng winru tenreng ku tuju mata balinna sulassa”, yang memiliki arti “Saya sudah mengelilingi seluruh negeri tidak kujumpai negeri seperti Sulawesi (Bone)”. Tulisan Lontara Bugis tersebut terpampang nyata di Universitas Leiden, Belanda.

Author

Bagikan tulisan ini: