NU, Gus Dur, dan Modernitas

Pasca-komite Hijaz dibentuk untuk mengontranarasikan paham wahabi yang sedang merebak di Tanah Hijaz, serta kekalahan Turki Usmani pada saat Perang Dunia ke-II, para ulama, kiai, dan santri berkumpul untuk membentuk suatu jam’iyyah yang mengakomodir para kiai dan santri dalam skala besar.

Jam’iyyah itu bernama Nahdlatul Ulama. Berdirinya jam’iyyah Nahdlatul Ulama, sesungguhnya tidak lepas dari perkembangan di tanah air, terutama terkait dengan perlawanan terhadap para penjajah yang sudah tidak bisa berkooperasi lagi dengan masyarakat.

Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyah adalah wadah bagi para ulama dan pengikutnya yang didirikan pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M, bertujuan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan, dan mengamalkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, serta mempersatukan langkah para ulama dan pengikutnya dalam melakukan kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia (Parwoto, 2014:72)

Sebagai organisasi keislaman terbesar di Indonesia bahkan di dunia. NU sudah terbiasa mengalami gelombang perubahan zaman. Kesemuanya itu yang membuat kualitas dan kredibiltas Nahdlatul Ulama teruji. Dalam menghadapi berbagai macam perubahan zaman, Nahdaltul Ulama tetap santun dan santai, karena di nahkodai oleh kiai-kiai kharismatik, tatkala mengambil kebijakan tidak grusa-grusu.

Gerak NU sebagai jam’iyah untuk membendung polarisasi yang dilakukan oleh penjajah, pada awalnya bertahan dengan pola tradisionalnya. Pembentangan akidah Islam dengan cara NU nyatanya berhasil, ini terbukti disaat pasca-kemerdekaan banyak ulama-ulama dari kampung yang ikut andil dalam memerdekakan negaranya dari tangan penjajah. Walaupun seperti yang kita ketahui banyak intrik politik yang dilakukan oleh pihak penjajah untuk mengelabui warga NU. Namun, mereka tetap kokoh dengan pendirinya memperjuangkan negara dan jam’iyah-nya.

Di era kolonialisme misalnya, NU menghadapi para penjajah dengan cara-cara tradisional demi menyeimbangkan kabijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Namun keberhasilan NU dalam membendung penetrasi Belanda tidak diikuti dengan “penetrasi” terhadap kebudayaan modern Belanda (Bambang Pranowo, 2010;108). Sikap tradisioanlisme nampaknya menghambat masuknya “budaya modern” yang berdasarkan sains dan teknologi.

Ini sekiranya menjadi penting untuk dikemukakan karena misalnya kita mengambil contoh dari Jepang. Jepang yang masih menggunakan sistem kultural dalam keagamaan nenek moyangnya justru lebih bisa bersifat terbuka terhadap kebudayaan modern. Jepang bisa berdaya saing perihal teknologi dengan negara-negara adi kuasa seperti Amerika, artinya perilaku tradisional bangsa Jepang bisa beriringan dengan perilaku modernnya.

Di Indonesia dalam kasus NU, ternyata tidak. Penolakan terhadap pengaruh Belanda yang membuat NU tertinggal dari gegap-gembita kemajuan teknologi. Tetapi dipihak lain, karena massanya banyak, NU berhasil membendung penetrasi Belanda ke perkampungan Jawa. Tidak bisa dipungkiri cara-cara tradisonal NU membuat Belanda merasa jera dalam menerapkan kebijakannya mengenai sosial budaya atau mengenai kristenisasi di daerah perkampungan Jawa. Tidak sedikit mengenai kebijakan Belanda diurungkan akibat sistem yang dilakukan oleh NU dan itu membuat Belanda lebih memilih kooperatif dengan NU.

Seiring berjalannya waktu, muncul cendekiawan muda yang lahir dari rahim NU untuk membawa perubahan agar NU tidak sekaku dulu.

Kita ambil contoh K.H. Abdurrahman Wahid (1940-2009 M) misalnya atau yang sering akrab dipanggil Gus Dur. Di bawah Gus Dur, NU semakin genit, cantik, dan menarik. Sehingga membuat para peniliti Barat tertarik untuk meneliti NU di antaranya, Martin Van Bruinessen, Greg Barton, Gref Fealy, Benedict Anderson, dan Mitsio Nakamura. Mereka tertarik pada kultur NU dan tradisioanalisme yang dianggap eksotik.

Apa yang menarik dari NU, ternyata, tradisionalisme NU yang mampu bertahan dalam budaya modern. Tetapi, di sisi lain, tradisionalisme NU mampu mengarahkan warganya untuk bersifat toleran, terbuka, menghormati agama lain, tidak fanatisme terhadap alirannya dan militanisme Islam (Sobari, 2010:113). Di pihak lain tradisonalisme NU mulai bersentuhan dengan paham-paham keagamaan modern. Gus Dur mempelopori kajian Islam modern nonwahabi terhadap keislamawan. Suka tidak suka kenyelenehan dan kekontroversialan Gus Dur yang membuat NU semakin dikenal baik tingkat nasional maupun internasional.

Sebenaranya NU bisa menjadi ormas yang paling ditunggu-tunggu di panggung dunia karena pandangannya yang bersifat moderat mengenai keberagamaan. Tidak seperti ormas yang lain ketika menyelesaikan persoalan agama dengan cara hitam di atas putih ataupun besifat tekstualis. Ketika isu terorisme dinisbatkan kepada agama Islam, justru NU yang berperan sebagai penyelamat Islam di mata dunia perihal mengenai isu terorisme terhadap Islam tadi. Prinsip umum NU dalam sosial-politik dengan pola Sunni yakni tasamuh, tawazzun, dan tawassuth sangat penting dalam upaya membendung gerakan terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Dengan sikap ini, NU selalu bersifat akomodatif, toleran, dan selalu menghindari bersikap ekstrim ketika berhadapan dengan spektrum sosial-politik apa pun. Prinsip-prinsip ini yang harus dijaga dalam tubuh NU dan harus dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Sikap moderat ini yang harus dikembangkan dan diperjuangkan dalam tubuh NU. Moderatisme menjadi angin segar bagi anak-anak muda NU untuk berpikiran progresif dalam berbagi bidang terutama dalam bidang sains dan teknologi.

Menurut Martin Van Bruinessen pesantren sebagai wadah kader NU terbaik harus mengajarkan berbagai ketrampilan teknis sederhana dan kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah serta menghasilkan peningkatan pendapatan (Martin Van Bruinessen, 2009:220). Ini penting bagi generasi penerus di NU, para santri harus seimbang pengetahuannya antara ilmu yang berorientasikan kepada agama dan pengetahuan yang berorientasikan pada sains. Dengan memasuki era teknologi 4.0 para santri atau generasi muda NU dituntut untuk bisa menguasai teknologi. Maka bisa tidak bisa NU melalui pesantrennya harus bisa menyediakan program pendidikan yang berorientasikan pada ilmu agama dan sains.

Sumber: arrahim.id

Bagikan tulisan ini: