Pengalamanku Melebur dalam Kegiatan Filantropi selama Pandemi

Pandemi memukul banyak orang. Banyak sekali. Instansi negara nyaris di seluruh dunia gelagapan menghadapi Covid-19 ini. Bahkan Vietnam dan Selandia Baru yang belum lama berselebrasi atas prestasi nol kasusnya, tiba-tiba dikagetkan dengan warganya yang terinfeksi. Serangan ini adalah sesuatu yang benar-benar baru.

Di Indonesia, pukulan pandemi telah mengguncang tatanan sosial, politik, budaya, dan khususnya ekonomi. Sejak pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mencegah penularan virus Corona, warga tidak mampu yang mayoritas berprofesi sebagai pekerja informal adalah salah satu barisan yang pertama tercekik akibat dampak ekonomi ini.

Bagaimana tidak? Orang-orang yang menggantungkan pendapatannya dari kerja harian seperti tukang sayur, sopir angkot, pedagang pasar, pekerja pariwisata, hingga tukang pijat keliling kehilangan pemasukan mendadak karena aktivitas di luar ruangan dibatasi. Belum lagi kelompok ekonomi yang berprofesi sebagai buruh atau karyawan swasta yang tersapu gelombang PHK.

Namun di sisi lain, akibat pandemi kita juga bisa melihat semangat membantu masyarakat yang sangat besar. Berbagai gerakan filantropi, baik diinisiasi oleh individu atau digawangi oleh lembaga, mulai bertebaran di seantero negeri. Mereka adalah orang-orang yang rela menyisihkan pendapatan, meluangkan waktu, dan mendonasikan tenaga untuk membantu para warga yang membutuhkan.

Beruntung, selama pandemi saya belajar banyak pada kelompok-kelompok ini. Setidaknya ada dua tempat di mana saya menghabiskan banyak waktu untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan: posko Gusdurian Peduli dan kebun.

Terhitung sejak pertengahan Maret, Gusdurian Peduli, sayap gerakan kemanusiaan Jaringan Gusdurian, mulai aktif menggalang dana dan mendirikan posko di beberapa kota untuk pendistribusian bantuan. Sasarannya adalah warga tidak mampu dan kelompok marjinal yang terdampak Covid-19. Di Jogja, saya bergabung dengan posko ini sebagai relawan.

Salah satu gerakan penggalangan dana dan penyaluran bantuan yang diinisiasi oleh Alissa Wahid (melalui Gusdurian Peduli) bersama Haidar Bagir (melalui Gerakan Islam Cinta) dan kitabisa.com adalah Gerakan #SalingJaga. Gerakan ini melibatkan kurang lebih 200 penggalang dana (fundraiser) seperti Lukman Hakim Saifuddin, Ernest Prakasa, Sujiwo Tejo, Rara Sekar, Gita Savitri, hingga Glenn Fredly yang berpulang pada saat gerakan ini masih berjalan.

Melalui bantuan 37.494 donatur di platform kitabisa.com, Gerakan #SalingJaga telah mengumpulkan donasi sebanyak 5,8 miliar rupiah. Donasi tersebut kemudian diubah menjadi paket sembako, paket bersih-sehat, dan paket informasi (edukasi) yang disalurkan oleh lebih 900 relawan melalui 68 posko Gusdurian Peduli dan 33 posko Gerakan Islam Cinta yang tersebar di banyak kota di Indonesia dan satu kota di Malaysia.

Gerakan #SalingJaga hanyalah satu dari beberapa program penggalangan dana dan penyaluran bantuan yang dilakukan oleh Gusdurian Peduli. Masih banyak kerja-kerja lapangan Gusdurian Peduli untuk menyalurkan paket bantuan dari berbagai organisasi, lembaga, hingga perusahaan. Seperti penyaluran 50.000 masker dari Gajah Tunggal Group; 1.000 paket sembako dari iForte; 3.500 paket sembako dan alat kebersihan dari OVO, Grab, dan Tokopedia; Alat Pelindung Diri (APD) dari Media Group untuk tenaga medis; 4.000 paket sembako dan paket bersih-sehat dari Sido Muncul; dan masih banyak lagi.

Di Jogja, saya bersama para relawan lain harus belanja sembako, mengepak paket, mencetak pamflet, mengumpulkan data warga yang membutuhkan, mendokumentasikan kegiatan sebagai pertanggungjawaban pada donatur, dan sesekali memasak untuk makan para relawan. Sedangkan pada bagian pendistribusian, kami menggandeng tukang ojek daring yang kala itu juga terdampak, untuk mengirimkan paket-paket yang siap disalurkan.

Karena bertugas sebagai juru foto, saya banyak terlibat dalam berbagai kegiatan posko untuk pendokumentasian. Mulai dari belanja sembako hingga ikut para tukang ojek daring mengantarkan paket bantuan ke rumah para penerima manfaat. Tidak hanya warga yang membutuhkan, sasaran manfaat juga ditujukan kepada panti asuhan, pesantren, rumah sakit, komunitas seniman, komunitas waria, dan mahasiswa indekos yang tak bisa pulang kampung.

Selain Jogja, bantuan-bantuan Gusdurian Peduli juga disalurkan ke berbagai kota besar maupun kecil lain, mulai dari buruh migran di Kuala Lumpur yang kesulitan mencari bahan pokok hingga warga Wamena yang tak kunjung mendapat bantuan dari pemerintah.

Bagi saya, pekerjaan seperti ini tidak melulu menjadi aksi kemanusiaan, tapi juga pengalaman spiritual. Di lapangan, saya banyak melihat dan mendengar cerita haru, juga terlibat obrolan-obrolan membahagiakan. Kisah-kisah para penerima manfaat yang saya temui di lapangan atau sekadar saya dengar dari kawan-kawan ojek daring yang mengantar bantuan, membuat saya merasa kecil ketika mengira selama ini telah mendapat cobaan besar.

Mereka adalah seorang ibu yang tidak bekerja dan berjuang membesarkan anak-anaknya di tengah kondisi trauma setelah mengalami kekerasan rumah tangga, pasangan disabilitas yang kehilangan pekerjaan bersamaan saat pandemi datang, seorang bapak yang baru saja menjadi korban PHK dan harus menanggung semua kebutuhan keluarga, sepasang lansia yang tiba-tiba mencium tangan tukang ojek daring karena membawa bantuan sembako yang dibutuhkan, dan kisah-kisah lainnya.

Memasuki bulan Mei, bersamaan dengan jalannya pendistribusian bantuan, beberapa kawan dari Solidaritas Pangan Jogja (SPJ) mengajak saya untuk membuat kebun di tanah kosong belakang posko. SPJ adalah gerakan kolektif untuk menanggulangi krisis pangan selama pandemi, terutama di wilayah Jogja. Rencananya, hasil panen kebun nantinya akan dikirim ke beberapa dapur umum milik SPJ untuk diolah dan dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Saya pun mengiyakan.

Setelah mendapat izin dari Mbak Alissa, pada pertengahan Mei tanah kosong di belakang posko itu mulai kami olah. Kami membalik tanah, menaburi pupuk, menanam bibit, menyebar benih, juga menyiraminya tiap pagi dan sore. Semua kebutuhan kebun di awal penanaman dibantu oleh teman-teman WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) Jogja. Sedangkan untuk perawatan, kami semua turun tangan: kawan-kawan Gusdurian Jogja, WALHI Jogja, SPJ, dan Warga Berdaya.

Kami menanam sawi, terong, kangkung, bayam, cabai, tomat, kacang panjang, ubi, singkong, pisang, pepaya, dan beberapa jenis bunga untuk mengalihkan hama. Beruntung, beberapa kawan di kebun memiliki latar belakang pertanian, ahli penanggulangan hama, dan pengalaman menanam sebelumnya. Kabar baik lainnya adalah semua hasil panen di kebun kami 100% organik, sehingga warga bisa menikmati sayuran sehat tanpa harus membelinya mahal di pasaran.

Kami juga membuat serial diskusi daring bertajuk “Senja di Kebun” setiap Jumat sore. Diskusi tersebut bertujuan untuk mengajak banyak orang agar terlibat pada kegiatan berkebun selama pandemi dan mengupayakan kedaulatan pangan bagi setiap individu. “Senja di Kebun” menghadirkan para pemantik dari praktisi kebun, penggerak komunitas filantropi, hingga pengamat kedaulatan pangan dan lingkungan.

Sampai hari ini, kebun telah panen lebih dari sembilan kali. Hasil panen, tentu saja, dikirim ke dapur-dapur umum Solidaritas Pangan Jogja untuk diolah dan didonasikan seperti rencana semula. Namun seiring berjalannya waktu, hasil panen juga dibagikan langsung kepada warga atau komunitas yang ingin memasaknya sendiri, serta sesekali kami juga memanennya untuk makan malam bersama di kebun.

Hari ini, setelah kebijakan normal baru (new normal) dijalankan, berbagai aktivitas mulai kembali seperti semula, meski tidak bisa benar-benar bisa kembali. Namun yang perlu diingat, Covid-19 tidak berarti hilang: ia ada dan terus mengintai setiap korban. Apresisasi setinggi-tingginya serta duka sedalam-dalamnya untuk para tenaga medis yang terus berjuang dan banyak yang berguguran selama pandemi ini.

Hari ini, Gusdurian Peduli masih terus bekerja menggalang dan membagikan donasi gawai untuk sarana belajar anak-anak sekolah yang belum mempunyainya. Kegiatan di kebun juga tetap berlanjut meski Solidaritas Pangan Jogja masih menyisakan satu dapur umum yang bertahan. Aktivitas filantropi tak akan pernah mati, ia hidup di mana pun dan dihidupi oleh siapa pun, karena kemanusiaan tak pernah mengenal sekat dan batas waktu. Semoga ke depan semua akan segera membaik!

Sumber: islami.co

Bagikan tulisan ini: