Pesan Natal dari Sigi: Menuju Lemban Tongoa (Bag. 2)

Setelah menyantap sarapan, pagi 19 Desember kami langsung bertolak ke lokasi Desa Lemban Tongoa. Patriot mengawal kami bagai voojrijder di depan dengan mengendarai sepeda motor. Sedangkan saya, Yuska, Iwan, dan Hadi mengendarai mobil.

Jalur menuju Lemban Tongoa seratus persen hutan belantara. Jalan memang sudah dirabat, tapi kondisinya sudah banyak yang rusak dan perlu direnovasi karena faktor usia. Belum lagi banyak titik longsor di sepanjang jalan yang menyebabkan jalan rabat rusak total. Saya membayangkan jika terjadi longsor yang menutup badan jalan, maka warga di Desa Lemban Tongoa akan terisolir sebab jalan ini merupakan satu-satunya akses untuk masuk ke Desa Lemban Tongoa.

Gambar 1: Desa Lemban Tongoa, Kec. Palolo, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah

Setelah menyeberangi areal pemakaman warga dan sungai yang jernih, tibalah kami di pintu masuk Desa Lemban Tongoa. Desa yang subur dan romantis karena hawanya yang dingin khas ketinggian 1000 mdpl. Persawahan di kanan kiri jalan yang begitu indah membuat saya terpesona.

Di jalur yang kami lewati ada sungai kecil yang mengalirkan air jernih. Di lereng-lereng gunungnya terlihat tanaman kopi dan tanaman lainnya tumbuh dengan subur. Saya langsung jatuh cinta dengan desa ini. Namun mendadak saya sedih dan marah setiap kali mengingat peristiwa keji beberapa hari yang lalu. Kami memutuskan untuk menuju Dusun Lewono terlebih dahulu. Dusun ini letaknya di bagian atas di ujung desa. Konturnya berbukit-bukit. Sunyi dan sejuk. Kampung ini sangat terasa sebagai kampung yang tenang. Hanya kicau burung dan bunyi serangga bersahutan. Sesekali terdengar suara Anoa memekik dari kejauhan.

(Peringatan! Tiga paragraf selanjutnya memuat konten detail tentang aksi pembunuhan. Bagi yang memiliki trauma diharapkan langsung menuju ke paragraf selanjutnya yang diawali ‘total rumah yang dibakar oleh teroris…’)

Gambar 2: Rumah Almarhum Naka yang sudah dibangun ulang oleh Kapolda Sulteng. Di sinilah Naka dan Pedi di bunuh.

Kami memarkir kendaraan kami di depan sebuah rumah kayu bercat putih yang baru selesai dibuat. Menurut Patriot, rumah itu adalah rumah milik almarhum Naka. Di situlah Naka dan Pedi, anaknya dibantai pertama kali oleh para teroris. Setelah membantai penghuni rumah, mereka merampok semua barang dan membakar rumah tersebut. Mereka kemudian bergeser ke kiri sekitar 50 meter menuju rumah Yasa. Tanpa basa-basi para biadab ini langsung membunuh Yasa dan Pinu, menantunya, lalu merampok isi rumah tanpa membakarnya. Dengan keji mereka melemparkan kepala Yasa di jalan depan rumahnya bagaikan seonggok batu tak berharga. Warga yang melihat langsung kejadian lari ketakutan. Perempuan dan anak-anak bersembunyi di hutan. Beberapa lelakinya mencari bantuan ke dusun di bawahnya.

Tak cukup itu, mereka kemudian membakar rumah yang letaknya di depan rumah Yasa. Mungkin karena penghuninya sudah lari, mereka marah dan menghanguskan rumah tersebut. Api membesar akibat mesin chainsaw yang ikut terbakar di rumah tersebut, lalu api merembet ke Pos Pelayanan Ibadah yang berada tepat di sampingnya. Mereka juga membakar rumah di bawah Pos Pelayanan Ibadah tersebut, tapi hanya berhasil menghanguskan dapurnya saja. Mereka juga membakar rumah Ifan dan Odeng, dua warga muslim. Beruntung api tak membesar sehingga hanya sebagian kecil saja rumahnya yang terbakar. Rumah Ifan tersebut sementara ini dijadikan Pos Brimob untuk berjaga di kawasan tersebut karena letaknya yang strategis berada persis di tengah dusun dan posisi tanahnya tinggi. Total rumah yang dibakar oleh teroris di dusun tersebut sebanyak delapan unit. Dua di antaranya adalah milik muslim, dan satu rumah yang dibakar selama ini dijadikan pos pelayanan ibadah. Dari total delapan rumah yang dibakar, empat unit rata dengan tanah. Sementara yang lain hanya rusak sebagian saja.

Saat ini empat rumah yang ludes terbakar tersebut sudah dibangun ulang oleh Kapolda Sulawesi Tengah termasuk pos pelayanan ibadah. Namun demikian, warga belum berani kembali ke dusun tersebut karena masih mengalami trauma yang sangat serius. Bahkan kebun jagung yang sudah siap panen dibiarkan terbengkalai begitu saja. Beberapa ada yang berani untuk memanen tapi mereka minta ditemani anggota Brimob yang bertugas.

Gambar 3: Rumah Almarhum Yasa tidak dibakar oleh teroris, namun Yasa dan Pinu dibantai di halaman rumah ini

Setelah selesai melihat langsung rumah-rumah yang menjadi lokasi pembantaian tersebut, kami menuju Pos Brimob yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat kami memarkir mobil. Pos itu didirikan sebagai Pos Satgas Tinombala untuk menjaga keamanan pasca teror.

Setelah memperkenalkan diri, kami menggali banyak cerita dari para prajurit yang sudah berhari-hari tinggal di pos penjagaan tersebut. Mereka sangat menyayangkan informasi kejadian yang telat sampai ke mereka.

“Kalau saja kami segera tahu kejadian tersebut, mungkin kami masih bisa kejar teroris itu,” kata Juanda, pimpinan prajurit di pos tersebut.

Di lokasi itu satu-satunya alat komunikasi yang bisa digunakan adalah Handy Talky. Itu pun terbatas jangkauannya. Hanya bisa menghubungi kawan-kawannya yang berada di pusat Desa Lemban Tongoa. Dari sana informasi baru dilanjutkan ke Polsek, dari Polsek ke Polres, kemudian dari Polres ke Polda Sulawesi Tengah.

“Kalau mau kirim laporan tertulis, kami harus turun dulu ke bawah untuk mendapatkan sinyal internet,” imbuh Juanda. Keterbatasan alat komunikasi membuat saya mafhum mengapa kejadian ini baru ramai dibicarakan sehari setelah kejadian.

Gambar 4: Rumah dan Pos Pelayanan Ibadah yang sudah dibangun kembali



Sebelumnya: Pesan Natal dari Sigi: Sebuah Perjalanan (Bag. 1)

Selanjutnya: Pesan Natal dari Sigi: Bertemu Kepala Desa (Bag. 3 – Habis)

Bagikan tulisan ini: