Pesan Natal dari Sigi: Sebuah Perjalanan (Bag. 1)

[Catatan Perjalanan Relawan GUSDURian Peduli ke Lemban Tongoa, Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah]

Pada pagi Kamis 17 Desember yang cerah, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu, Sulawesi Tengah. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Pulau Selebes di tahun 2020. Akibat pandemi Covid-19, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah beserta keluarga.

Sesampainya di gedung bandara, saya melihat layar ponsel. Jam menunjukkan waktu pukul 10.30 WITA. Saya langsung mengajak kawan perjalan saya bernama Yuska Harimurti untuk menuju kantor Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah. Di sana kami akan rehat sembari menyusun rencana untuk menuju ke Sigi, tujuan utama kami.

Kantor Komnas HAM Sulteng adalah lokasi yang cukup akrab bagi saya. Sewaktu bencana tsunami dan likuifaksi 2018 lalu, kantor ini menjadi basecamp relawan GUSDURian yang bekerja untuk membantu korban tsunami di Pasigala (Palu, Sigi, Donggala). Saya pun menghubungi beberapa rekan yang dulu pernah bekerja sama untuk kemanusiaan di Pasigala.

Saya dan rekan disambut dengan sangat hangat meski tidak bisa berpelukan. Kami langsung menuju ke pohon jambu yang berada di halaman belakang. Di bawah pohon jambu ini, kami menyeduh kopi dan memulai obrolan tentang tujuan kami datang ke Sulawesi Tengah ini. Kami butuh informasi awal tentang apa yang sebenarnya terjadi di Lemban Tongoa bersama Ketua Komnas HAM perwakilan Sulawesi Tengah, Dedi Askary dan aktivis senior Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Iwan Lapasere.

Kedua rekan tersebut memiliki banyak informasi karena terjun langsung ke desa itu. Cerita dari keduanya bisa kami jadikan untuk menetapkan rencana. Sekaligus kami meminta masukan untuk mencari rute dan kendaraan, serta orang-orang yang bisa diajak untuk bertamu ke desa Lemban Tongoa.

Malam harinya setelah maghrib, kami dijemput oleh Indra Kusuma, warga Desa Sidera, Biromaru, Sigi, untuk diajak ke Desa Sidera. Di desa tersebut kami pernah mendirikan Kampung GUSDURian pasca likuifaksi di Jono Oge 2018. Indra cerita banyak, bahwa pasca tsunami, warga di Sidera makin kompak berkegiatan. Mereka membuat rumah baca di samping masjid, beternak puyuh, dan setiap malam Jumat mengadakan yasinan dan tahlil. Kebetulan kami datang di saat warga tengah mengadakan kegiatan rutinan itu. Kami secara khusus diminta untuk bicara atas nama GUSDURian di acara yasinan dan tahlil tersebut atas permintaan beberapa sesepuh desa yang sudah lama tidak bertemu.

Di acara yasinan itu, kami bertemu dengan warga yang dulu menjadi penghuni Kampung GUSDURian di Sidera. Mereka menyambut kami dengan hangat. Mengucapkan terima kasih dan menyuguhi kami makan malam bersama. Setelah acara yasinan, kami menyempatkan ke Rumah Baca yang gedungnya dibantu oleh timnya Eko Teguh Paripurno, Ketua Pembina GUSDURian Peduli. Rumah Baca yang sangat nyaman, meskipun koleksi bukunya masih belum terlalu banyak.

***

Kami langsung bergerak menuju Lemban Tongoa pada Jumat siang. Dedy Askary menyarankan kami untuk menggunakan mobil double gardan karena medannya cukup ekstrim. Menggunakan mobil SUV kecil sangat rentan mengingat kondisi jalan dari Desa Tongoa ke Desa Lemban Tongoa banyak yang rusak dan longsong di beberapa titik. Akhirnya kami bisa mendapatkan pinjaman mobil Mitsubishi Pajero milik salah satu kawan akrab aktivis kemanusiaan Sulawesi Tengah ini. Kami bergerak tepat pukul 13.30 WITA setelah santap siang dengan menu Woku dan Konro.

Jarak dari kota Palu ke Desa Tongoa di Kecamatan Palolo kurang lebih 65 kilometer. Dengan kecepatan sedang, jarak tempuh sekitar dua jam. Namun karena di beberapa titik jalan poros Palu-Palolo yang berkelok-kelok ini ada bagian tebing longsor yang sedang diperbaiki, kami baru bisa tiba di Desa Tongoa sekitar jam 16.30.

Dalam perjalanan ini kami didampingi langsung oleh wartawan senior di Palu, Iwan Lapasere. Ia bahkan menjadi juru kemudi kami. Dia sangat hapal setiap kelokan di sepanjang jalan, sehingga tekukan setirnya akurat dan stabil. Jika saya menyetir sendiri dengan medan seperti ini, pasti saya tidak akan berani menginjak gas lebih dari 50 km/jam. Apalagi jurang menganga menjadi tantangan sendiri bagi pengendara yang tidak mengenal medan.

Di Desa Tongoa, kami menemui Hadi, seorang petani muda yang sedang getol ingin memajukan desanya bersama beberapa pemuda di desa tersebut. Mereka menanam kakao, mengelola sungai untuk wisata tubbing, dan sedang merintis untuk mengembangkan sayur mayur serta palawija.

Menurut Hadi kami tidak mungkin naik ke Desa Lemban Tongoa saat hari sudah gelap. Jarak dari Desa Tongoa ke Dusun Lewono di Desa Lemban Tongoa sebenarnya hanya sekitar 16 kilometer saja. Namun risikonya sangat besar apabila kami langsung menuju ke sana. Kondisi jalan yang rusak, resiko tebing longsor jika terjadi hujan, serta ancaman keamanan para teroris yang masih mungkin berkeliaran di kawasan tersebut, membuat kami akhirnya memilih menginap dulu di Desa Tongoa.

Karena di desa tersebut tidak ada penginapan, Hadi menawarkan kami untuk menginap di rumahnya. Rumah sederhana dari papan kayu yang dipenuhi dengan bunga dan tanaman sayur mayur di polybag membuat rumah ini terkesan asri.

Malam itu kami terus berdiskusi dengan Iwan Lapasere, Hadi, dan Andi, seorang pemuda di desa tersebut. Kami mendapatkan satu informasi penting, bahwa di Dusun Lewono, tempat dibunuhnya empat orang warga oleh kelompok Ali Kalora ini sama sekali tidak ada sinyal seluler. Jika ingin mendapatkan sinyal harus menuju ibu kota Desa Lemban Tongoa. Itu pun hanya bisa untuk menelpon. Tidak bisa untuk mengakses internet. Kondisi inilah yang menyebabkan informasi peristiwa pembunuhan tersebut lambat sekali sampai ke aparat keamanan. Warga yang selamat dari pembunuhan berlari menembus hutan, mengitari areal “punggung kuda” di pegunungan setempat untuk sampai di ibu kota Desa Lemban Tongoa guna menginformasikan kejadian di dusun paling atas tersebut.

Kami pun berpikir bahwa bantuan dari warga melalui GUSDURian Peduli ini akan dialokasikan untuk menyediakan sarana prasarana komunikasi. Kami mencari informasi tentang alat komunikasi yang paling memungkinkan untuk disediakan di desa tersebut. Beberapa opsi mulai dari telepon satelit, handy talky, hingga antena V-Sat coba kami bicarakan dengan para ahli dan praktisi yang kami kenal.

Beberapa kawan yang ahli di bidang teknologi informasi menyarankan bahwa antena V-Sat adalah solusi yang paling masuk akal untuk diaplikasikan di Desa Lemban Tongoa khususnya di Dusun Lewono dan Dusun Tokelemo untuk saat ini. Namun demikian kami masih akan berkonsultasi lagi setelah kami tahu kondisi geografis di Desa Lemban Tongoa nantinya secara langsung.

Malam sebelum beranjak tidur, Iwan menginfokan bahwa besok pagi akan ada seorang kawan lagi yang akan ikut menemani kita ke Desa Lemban Tongoa. Dia seorang Intel Komando Resor Militer (Korem) yang memang ditugaskan di kawasan tersebut sejak sebelum kejadian pembunuhan ini. Namanya Patriot, nama yang sungguh sangat heroik. Prajurit muda ini konon mengenal baik banyak warga di Desa Lemban Tongoa. Bahkan Patriot sudah menyiapkan rumah milik kawannya di Lemban Tongoa jika kami memutuskan menginap di desa tersebut. Alhamdulillah, lengkap sudah tim ini. Ada wartawan, ada penduduk lokal, ada pula tentara yang membuat saya merasa lebih aman apabila kami menemui kendala keamanan di tengah perjalanan.

Selanjutnya: Pesan Natal dari Sigi: Menuju Lemban Tongoa (Bag. 2)

Author

Bagikan tulisan ini: