PKB di Antara Gus Dur dan Rhoma Irama

Saat beberapa partai politik lain sedang menjadi sumber pemberitaan miring di media karena korupsi para kadernya, PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sedang "menikmati" posisinya sebagai news-maker karena langkah-langkah politiknya. Isu pencapresan Rhoma Irama telah menempatkan partai ini menjadi salah satu berita menarik yang diangkat di berbagai media selama berminggu-minggu. Terlepas kontroversi yang mengiringinya, para petinggi PKB mengisyaratkan adanya keuntungan politik dengan menggandeng si Raja Dangdut tersebut. Sampai-sampai, beberapa petinggi partai bersikap legowo ketika kepanjangan PKB diparodikan menjadi Partai Kesatria Bergitar.

Belum usai berita pencapresan Bang Haji--begitu biasa Rhoma Irama dipanggil--kini berita tentang PKB kembali menghiasi halaman-halaman media. Kali ini, beritanya adalah penggunaan gambar Gus Dur--sebutan populer K.H. Abdurrahman Wahid--oleh para caleg PKB. Di berbagai daerah, baliho para caleg PKB menggunakan foto Gus Dur dengan tag line "Pelanjut Perjuangan Gus Dur" terlihat jelas terpampang jalan-jalan dan kaca belakang angkutan umum, dua tempat favorit para caleg mengiklankan dirinya.

Berbagai respons bermunculan. Para pendukung Gus Dur marah. Ancaman somasi hingga sweeping mulai terdengar semakin keras. Bahkan, banyak baliho caleg PKB yang menggunakan simbol-simbol Gus Dur dirusak. Tidak ketinggalan, keluarga Gus Dur juga menyuarakan keberatannya. Yenny Wahid, putri Gus Dur yang pernah ditunjuk Gus Dur menjadi Sekjen PKB saat dia berseteru dengan Muhaimin, menilai apa yang dilakukan PKB pimpinan Muhaimin itu adalah sebuah kemunafikan. Tidak ketinggalan, istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid, dengan penuh emosional menyatakan bahwa pemasangan foto Gus Dur itu adalah sebuah tindakan pencurian.

Sementara, kubu PKB pimpinan Muhaimin menanggapi berbagai keberatan itu dengan argumen bahwa Gus Dur adalah milik bangsa. Keberatan pihak keluarga tidak bisa menghalangi siapa pun untuk menjadikan Gus Dur sebagai pujaannya, termasuk para caleg PKB. Apalagi, fakta sejarah tidak bisa disangkal bahwa Gus Dur-lah deklarator partai berbasis nahdliyyin ini.

Sesungguhnya, argumen ini dengan mudah bisa disangkal, juga berdasarkan fakta sejarah. PKB yang saat ini dinahkodai Muhaimin adalah PKB yang berseberangan dengan Gus Dur ketika terjadi perselisihan di tahun 2008 yang membelah PKB menjadi dua: versi Gus Dur dan Muhaimin. Kedua kubu menggelar muktamar sendiri-sendiri. Tidak ada islah (perdamaian) yang tercapai hingga konflik diselesaikan melalui jalur hukum, hingga akhirnya PKB yang dinahkodai Gus Dur diputus peradilan sebagai tidak sah. Kondisi ini diiringi dengan eksodus dan pembersihan para loyalis Gus Dur di tubuh partai.

Imbas dari perseteruan ini adalah hancurnya suara PKB pada Pemilu 2009. Jawa Timur yang dianggap sebagai lumbung suara PKB, dari pemilih sebesar 29.245.722 orang, PKB hanya memperoleh 1.996.129 suara. Jumlah ini sangat rendah jika dibanding perolehan suara PKB di Jawa Timur pada Pemilu 2004. Saat itu, pemilih PKB di Jawa Timur mencapai 5.566.245 suara.

Para elit PKB tentu tidak bodoh untuk melihat faktor Gus Dur sebagai penentu perolehan suara PKB ini. Selama ini, Gus Dur-lah yang menentukan bagaimana wajah PKB. Orang memandang, menilai, dan memutuskan untuk memilih atau tidak memilih karena faktor Gus Dur. Bahkan, jika ada yang memilih PKB karena faktor ke-NU-annya pun, figur Gus Dur tidak bisa dilepaskan sebagai tokoh NU yang mengarahkan suara nahdliyyin pada partai berlambang jagad dan bintang sembilan ini.

Jadi, inti persoalannya adalah suara. Pertanyaan apakah PKB pimpinan Muhaimin melanjutkan perjuangan Gus Dur atau tidak menjadi tidak penting karena baik mencapreskan Rhoma Irama maupun memasang foto Gus Dur adalah bagian dari iklan politik untuk mendulang suara menjelang Pemilu 2014. Orang bisa berdebat tetang di mana suara PKB dalam kasus Century, atau sikap PKB dalam kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, atau isu-isu lain yang diusung Gus Dur selama hidupnya, seperti, pluralisme, HAM, perlindungan kelompok minoritas, dll. Orang juga bisa secara kritis mempertanyakan apakah pandangan dan sikap politik Rhoma Irama sebangun dengan nilai-nilai yang diperjuangan Gus Dur ketika dia menyerang pasangan Jokowi-Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta 2012 dengan isu-isu agama dan etnis.

Keberatan para pecinta dan keluarga Gus Dur atas pemasangan foto Gus Dur oleh para caleg PKB sepenuhnya bisa dipahami. Sebagaimana, cibiran berbagai kalangan atas manuver PKB dalam menggadang-gadang Rhoma Irama sebagai calon presidennya. Namun, inilah politik. Pada akhirnya, jumlah kursi ditentukan oleh jumlah suara. Jika Rhoma Irama dengan dangdutnya bisa dijual untuk menggaet massa, maka jual saja Rhoma. Jika Gus Dur bisa dimanfaatkan untuk mendulang suara, Gus Dur pun bisa dimanfaatkan. Tentang alasan, mudah untuk dicarikan.


(Artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos 30 Desember 2013)

Bagikan tulisan ini: