Sang Penakluk

Addakhil kebesaran yang luput dari seruan
Lakon perkara lengan patah
Terikat pada tonggak peraduan sangsaka
Semilir memaksa batas bergelagat
Adalah budak bengal hendak berakal

Addakhil seruan yang kering dalam kabar
Melancong dalam batin haluan roh filsuf
Manahbiskan egoistis terkebelakang kawan sekelas
Berjejak tanah lain buana
Memaut gubahan kebijaksanaan
Menaruh hati pada deretan aksara
Tak sekadar pujangga bersoal kedaulatan
Pun Tuhan dan anutan berteka-teki dia
Tandaskan kemahiran
Di celah canda lahir celoteh bertuah
Penyair tak terjamah luka oleh wanita
Bakal cacat tinta-tinta sajaknya

Addakhil kabar yang lenyap untuk kuping
Irian Jaya balik Papua
Tionghoa trenyuh seketika
Aceh harmoni senantiasa
Lamun terkatup konspirasi sinis kabilah populis
Pada zaman demokrasi tergugat proletar
Sang penakluk hidangkan pluralisme
Dan kita gelagapan lemah
Tatkala mazhab lama mengendap
Diangkatnya berkelana meraba politik merdeka
Namun kita menggigil lantas lari menjauh
Sekali lalu memekikkan dosa pada kebebasan

Addakhil kebesaran yang kini bulat sempurna sebagai arwah
Lambaikan senyum untuk gaduh nusantara
Terlelap khusyu' dalam pembaringan
Syahdu didekap malaikat
Manakala pembesar dan proletar
Sama bertanya perkara arah sejarah..

#GalangNadiNusantara

______________

Puisi ini ditampilkan dalam Peringatan Haul Gus Dur ke-12 di Totabuan, Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara pada 11 Januari 2022

Author

Bagikan tulisan ini: