Santri dan Tradisi: Potret Keberagamaan Otentik di Indonesia

Momentum peringatan hari santri di tahun ini agaknya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi yang tak berkesudahan membuat banyak pihak kebingungan, tak terkecuali pesantren dengan segala pranata sosialnya. Meskipun sebagian besar pesantren telah kembali melangsungkan kegiatannya, akan tetapi tetap ada kekhawatiran mengenai potensi penyebaran virus covid-19 di kalangan santri yang dalam kegiatan sehari-harinya terjadi banyak kontak dan interaksi sosial di dalamnya. 

Berbicara mengenai santri rasanya tidak elok jika melepaskannya dari tradisi-tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan santri di pesantren. Cara belajar dengan model sorogan atau bandongan, kebiasaan makan bersama di satu nampan besar, hingga sikap ta'dzim terhadap kiai dalam segala keadaan merupakan beberapa kearifan lokal (baca: tradisi) yang mewarnai kehidupan santri. 

Dalam wacana keilmuan, tradisi memang mendapat reaksi ganda, sambutan positif dan reaksi negatif. Mereka yang mengkritik tradisi berpandangan bahwa hal itu bisa mengakibatkan kejumudan dalam pribadi seorang santri. Sementara itu, pihak satunya berpandangan bahwa tradisi berperan penting dalam membentuk karakter khas lokal yang berlandaskan nilai-nilai universal dalam diri seseorang. 

Pandangan mengenai pentingnya tradisi dikemukakan oleh Victor Danner dalam tulisannya yang berjudul Religion and Tradition. Ia menulis bahwa agama mengandung dua sisi, yakni wahyu yang melandasi agama dan tradisi sebagai pengejawantahan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata. Lebih lanjut, ia juga mengemukakan bahwa wahyu mengandung doktrin ritual, sedangkan tradisi berisi aturan-aturan moral dan seni. Dari sini bisa disimpulkan bahwa tradisi menjadi hal yang menentukan corak keagamaan dalam sebuah masyarakat beragama. 

Gus Dur sendiri seakan memahami betapa penting peran tradisi dalam kehidupan kelompok beragama, tak terkecuali bagi santri dan pesantren. Dari pemahaman ini pulalah gagasan Gus Dur soal pribumisasi Islam mendapatkan landasan epistemologinya. Bahwa tradisi yang aplikasinya berbentuk moralitas dan akhlak harus menjadi titik tekan dalam diri setiap manusia, khususnya mereka yang mengaku orang beragama. Melalui tradisi jugalah nilai-nilai keagamaan memperoleh aktualisasinya dalam kehidupan nyata. 

Dalam satu tulisannya di buku Menggerakkan Tradisi, Gus Dur juga menulis soal asal-usul tradisi keilmuan di pesantren. Beliau menjelaskan bagaimana corak keilmuan yang berkembang di pesantren-pesantren Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dibanding dengan yang termanifestasi dalam belahan dunia atau negara lain.

Salah satu yang khas ialah soal kecenderungan para kiai di pesantren untuk mengombinasikan antara ajaran fikih dengan tasawuf. Hal ini sangat berpengaruh dalam corak pengajaran kiai pada santri-santrinya sehingga output yang dihasilkan ialah karakter santri yang toleran dan menghargai orang lain, bukan mereka yang berpandangan sempit dan mudah menghakimi pihak lain. 

Fenomena ini tercermin dalam diri banyak kiai-kiai terdahulu, seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Mahfudz Tremas. Atau dalam kasus yang lebih kontemporer bisa terlihat pada Kiai Ahmad Mustofa Bisri dan Kiai Maimoen Zubair untuk menyebut dua dari sekian banyak nama lain yang memiliki karakter serupa sebagaimana diceritakan oleh Gus Dur dalam tulisannya.  

Oleh karena itu, kombinasi antara santri dan tradisi merupakan potret keberagamaan otentik yang terjadi di bilik-bilik pesantren Indonesia. Mengingat tradisi adalah unsur integral dalam agama dan agama tidak dapat bertahan tanpanya, maka tradisi menduduki posisi yang tak kalah penting dengan agama (baca: wahyu). Tak heran, Gus Dur selalu menekankan agar para santri dan manusia Indonesia pada umumnya tidak tercerabut dari akar-akar tradisinya.

Bagikan tulisan ini: