Kemacetan, Harapan, dan Realitas Pekerja Jalanan

Dalam hidup, kita pasti menginginkan yang terbaik. Soal apa pun itu. Keuangan, hubungan seksual, hingga spiritualitas. Sayangnya, hal-hal yang kita inginkan itu terkadang tak bisa kita raih, atau, kalau pun pernah mendapatkannya, tidak bisa kita nikmati seterusnya. Ada saja hambatan yang menyertai. Pendek kata, kehidupan tak selamanya mulus layaknya layar ponsel hape kita. Kadang macet, adakalanya juga lancar.

Bak seperti kehidupan, jalan pantura Pekalongan, khususnya daerah Tirto, akhir-akhir ini juga dihinggapi situasi macet-lancar. Ketika akan berangkat atau pulang kerja misalnya, saya tak jarang terjebak kemacetan lalu lintas.

Jika pada bulan Ramadan biasanya kemacetan terjadi karena padatnya arus masyarakat yang ingin pulang kampung. Pada bulan-bulan biasa kemacetan disebabkan salah satunya lagi ada perbaikan infrastruktur. Sebagai informasi, di Pekalongan sedang ada renovasi di salah satu sisi jalan yang memakan waktu berbulan-bulan, dan tentu saja menghabiskan anggaran yang tak sedikit.

Kemacetan adalah Anugrah

Di satu sisi, kemacetan tentu tak kita inginkan. Kita ingin perjalanan ke tempat kerja, sekolah, kampus, dan tempat-tempat lain yang menjadi sandaran kehidupan, lancar jaya aman sentosa. Namun, di sisi lain, kemacetan adalah anugerah bagi sebagian orang. Mengapa begitu? Sebab ada para pencari nafkah yang menjajakan dagangannya di tengah-tengah kemacetan. Mereka memanfaatkan momentum untuk mengais sedikit rezeki.

Di era di mana pekerjaan sulit didapat jika tak ada orang dalam, maka, salah satu jalan agar nafas tetap terkontrol dengan baik adalah berdagang. Jualan apapun itu. Asal halal dan tidak merugikan masyarakat. Dalam situasi kemacetan, saya dan tentu juga Anda, pasti tak asing dengan orang-orang yang berjualan. Di Pekalongan, yang kerap kali saya lihat adalah penjual air mineral, getuk lindri, dan siomay. Mereka berdiri di tengah-tengah antara jalur utara dan selatan. 

Oleh sebagian orang, macet lalu lintas adalah hal yang tidak disukai. Ada banyak faktornya. Seperti tak ingin telat masuk kantor, tak tahan dihajar sinar matahari,  hingga takut kehabisan bensin. Bagi pelaku usaha makro, kemacetan lalu lintas dapat berarti menjadi kerugian bagi perusahaan. Terutama di area strategis, seperti pelabuhan atau jalur distribusi utama, kemacetan dapat mengganggu kelancaran rantai pasokan. Keterlambatan pengiriman barang, itu artinya, dapat menyebabkan kerugian finansial dan kerusakan reputasi perusahaan dan lain sebagainya.

Kemacetan lalu lintas, apa pun penyebabnya, secara umum selalu jadi hambatan bagi mereka yang ingin terus meningkatkan produktivitasnya. Tapi, berbeda halnya bagi para pedagang dari kalangan masyarakat kelas bawah ini. Kemacetan adalah momen untuk menawarkan produk, menyasar para pengendara yang terjebak dalam antrean kendaraan. Ada harapan di tengah kemacetan. Kerasnya jalanan bukan soal, karena mereka sadar, ada istri yang menagih janji untuk dibelikan seblak, dan ada anak-anak yang merengek minta sepatu baru. 

Selain pedagang yang dugaan saya dari rakyat jelata, di tengah kemacetan, tak jarang pula saya menyaksikan anak-anak muda sedang menawarkan jasa bersihin kaca mobil. Jasa ini sering kita jumpai di jalan raya kota besar. Tidak hanya saat lalu lintas macet, para penyedia jasa ini biasanya juga bekerja saat lampu lalu lintas merah. 

Mereka akan membersihkan kaca mobil dengan sulak di lampu lalu lintas secara langsung, dan meminta imbalan jika sudah selesai melaksanakan tugasnya. Aktivitas seperti ini, oleh sebagian pengendara, dianggap sebagai hal yang meresahkan, terlebih jika anak-anak ini tidak meminta izin terlebih dulu untuk membersihkan kaca mobil.

Mengais Rezeki dari Jalanan

Tapi mari coba kita lihat pekerjaan bersih-bersih kaca mobil ini dari perspektif ekonomi. Bahwa anak-anak muda yang kerap kali kita lihat sedang menggantungkan hidupnya di tengah teriknya matahari, melawan asap kendaraan, menerjang debu-debu jalanan, bisa jadi adalah anak-anak muda Gen Z yang sedang dihimpit kesulitan finansial. Mungkin saja mereka tidak memiliki pekerjaan layak, atau sehabis kena PHK, atau bahkan sama sekali tidak punya akses ke tempat kerja yang diimpikannya.

Asumsi ini diperkuat dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Dari total jumlah pengangguran yang tercatat per Februari 2025 sebanyak 7,28 juta orang, mayoritas berusia 15-24 tahun alias Gen Z dengan jumlah mencapai 3,55 juta orang. Lalu, urutan kedua adalah berusia 25-34 tahun (Gen Millennial) dengan jumlah sebanyak 1,94 juta orang. Ini bukan sekadar angka. Tapi menjadi problem serius yang perlu segera dituntaskan oleh negara. 

Ketika negara abai terhadap persoalan kesejahteraan masyarakat misalnya, maka kita akan lebih sering melihat anak-anak muda yang menyandarkan hidupnya di jalanan kota dan kabupaten. Anak-anak muda ini terpaksa mencari sesuap nasi dari apa pun yang dianggapnya bisa memberikan keuntungan untuk beli jajan. Dari mulai mengamen, membersihkan kaca mobil, bahkan masih segar dalam ingatan kita maraknya manusia silver (silver man) di masa pandemi Covid. 

Tentang Manusia Silver

Menjadi manusia silver adalah salah satu pilihan yang digunakan orang-orang untuk bisa bertahan hidup agar dapat memenuhi kebutuhan mereka pada masa pandemi kala itu. Kini, pandemi telah berlalu, namun keberadaan manusia silver di beberapa traffic light Pekalongan masih sering saya lihat. Silver Man ini biasanya membawa kardus untuk menampung uang donasi dari para pengguna jalan.

Manusia silver yang kemunculan awalnya sebagai respons atas masalah ekonomi dan sosial akibat pandemi, kemudian menjadi profesi yang digeluti banyak orang hingga kini. Di Yogyakarta misalnya, dilansir Kompas.com (2024) menyebutkan bahwa penghasilan manusia silver bila dihitung-hitung dapat melebihi pendapatan ASN. Melihat realita ini, tentu mendorong lebih banyak orang lagi untuk menjadi manusia silver, khusus di Yogya, karena kedermawanan masyarakatnya.

Para “pekerja” seperti manusia silver, pengamen jalanan, hingga badut jalanan, ini jelas hanya berharap pada “sentuhan emas” masyarakat. Tugas mereka menghibur pengendara. Dikasih duit ya alhamdulillah. Tak dapat duit, ya, takdir. Yang jelas, ini merupakan ikhtiar mereka untuk terus menghidupi dirinya sendiri, atau jangan-jangan, juga menafkahi kedua orang tuanya. Hanya ini yang sementara bisa mereka lakukan.

Manusia silver, pedagang asongan, pembersih kaca mobil, penjual koran, badut jalanan, dan mereka-mereka yang banting tulang di sektor informal, khususnya di jalanan, seperti saat situasi kemacetan, atau traffic light, adalah sebaik-baiknya manusia. Ketimbang mereka-mereka yang punya kekuasaan, duduk di kursi empuk ruangan dingin, punya akses ke segala aspek, tapi yang ada di otaknya hanya mikirin isi perutnya sendiri dan kroni-kroninya.

Setidaknya, menjadi pedagang getuk lindri yang mengais asa saat terjadi kemacetan, atau menjual air mineral untuk para supir truk supaya tidak dehidrasi, lebih baik daripada pejabat yang terjerat kasus memperkaya diri sendiri, lalu meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Padahal, sudah berkali-kali melakukan hal yang sama.

Penggerak Komunitas GUSDURian Pekalongan, Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *