Ketika seseorang haus akan ilmu pengetahuan, yang muncul di pikirannya bukan sekadar keinginan untuk tahu, tapi rasa penasaran yang luas tapi kadang sampai bikin kepala berisik sendiri. Dalam ruang diskusi yang hidup, orang-orang bisa saling bertukar ide, curhat keresahan, bahkan berdebat dengan nada yang kadang lebih panas dari kopi yang mereka teguk. Dari sana muncul banyak pertanyaan tentang situasi akhir-akhir ini, termasuk satu pertanyaan kawan yang membuat saya berpikir agak lama: “Kenapa kita perlu membaca sejarah? Kenapa nggak baca ilmu pengetahuan saja?”
Pertanyaan itu tampak sederhana, tapi seperti biji kecil yang tumbuh menjadi pohon pikiran besar. Sebab, di zaman di mana orang bisa mengakses segala jenis ilmu hanya dengan ponsel, sejarah sering kali dianggap tak penting. Masa lalu, katanya, sudah lewat, yang penting itu masa depan. Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah masa depan yang kita hadapi sekarang adalah hasil dari keputusan masa lalu juga?
Coba kita lihat perdebatan soal pemberian gelar pahlawan untuk Soeharto yang kembali mencuat. Ada yang bilang Soeharto berjasa membangun ekonomi dan infrastruktur. Tapi banyak juga yang bertanya: bagaimana mungkin seseorang yang meninggalkan jejak panjang pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial bisa disebut pahlawan? Kalau kita tidak membaca sejarah dengan jernih, kita akan dengan mudah menelan narasi tunggal: bahwa pembangunan itu selalu baik, bahwa stabilitas itu harus dibayar dengan pembungkaman. Padahal, sejarah Orde Baru menunjukkan sebaliknya (kontradiktif) bahwa atas nama pembangunan, banyak hal dikorbankan: hutan, kebebasan, bahkan suara perempuan.
Ilmu pengetahuan memang amat sangat penting. Ia membuat kita memahami cara kerja alam semesta, merancang teknologi, bahkan menyembuhkan penyakit. Tapi tanpa membaca sejarah, kita tak punya konteks untuk menilai ke mana ilmu itu diarahkan. Apa gunanya kemajuan kalau tak diiringi kesadaran atas jejak masa lalu? Bukankah ilmu tanpa sejarah bisa berubah menjadi senjata yang melukai manusia dan bumi itu sendiri? Lihat saja bagaimana kebijakan pembangunan di masa lalu yang disebut “modernisasi” justru membuka jalan bagi eksploitasi alam besar-besaran, menyingkirkan masyarakat adat, dan mengabaikan peran perempuan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan serta pembungkaman para aktivis.
Membaca sejarah adalah belajar untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan bertanya: siapa yang selama ini dikorbankan oleh kata “kemajuan”? Dalam setiap bab sejarah, selalu ada yang tak ditulis. Mereka yang melawan, yang dibungkam, yang dihapus dari buku pelajaran. Sejarah bukan hanya milik pemenang, tapi juga milik mereka yang kalah dan di situlah sisi kemanusiaannya berada.
Sayangnya, banyak dari kita lebih suka membaca kisah sukses dibanding kisah luka. Kita mengidolakan masa lalu yang tampak megah di brosur pembangunan, tapi enggan membuka catatan tentang hutan yang gundul, tanah yang dirampas, atau perempuan yang suaranya dibisukan. Membaca sejarah artinya juga melawan amnesia berjamaah, penyakit yang membuat kita mudah terpesona oleh pencitraan, lupa bahwa kemajuan tanpa keadilan hanyalah pengulangan tragedi dalam bentuk yang lebih halus.
Ilmu pengetahuan mengajarkan kita cara membuat pesawat, tapi sejarah mengingatkan bagaimana pesawat itu dulu juga pernah menjatuhkan bom di tanah sendiri. Ilmu pengetahuan bisa menemukan obat, tapi sejarah mengajarkan bahwa “penyembuhan” tak pernah netral, kadang ia digunakan untuk mensterilkan yang berbeda. Maka, keduanya harus saling menyeimbangkan: pengetahuan untuk masa depan, sejarah untuk menjaga arah moralnya.
Saya percaya, orang yang membaca sejarah bukan berarti ingin hidup di masa lalu. Justru sebaliknya, ia ingin memastikan masa depan tidak diulang dengan kebodohan yang sama. Karena tanpa sejarah, kita mudah percaya bahwa segalanya baru, padahal itu cuma pola lama yang berganti baju. Sama seperti wacana “pahlawan Soeharto” yang bisa saja diterima tanpa banyak tanya, kalau kita membiarkan ingatan nasional ini direvisi oleh mereka yang dulu pernah menindas.
Akhirnya, membaca sejarah adalah cara kita bertahan agar tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa. Ia membuat kita sadar bahwa ilmu pengetahuan tanpa kesadaran sejarah hanya akan menciptakan manusia yang pintar tapi tak bijak, mereka yang tahu cara membangun, tapi lupa apa yang seharusnya dijaga.
Karena di ujungnya, haus akan ilmu pengetahuan memang penting. Tapi lebih penting lagi untuk tak kehausan akan ingatan. Sebab bangsa yang lupa sejarahnya, akan dengan mudah mencintai kembali yang dulu pernah menyakitinya. Dan untuk itu, saya ingin berterima kasih kepada kawanku yang pernah bertanya sederhana, tapi memantik perenungan panjang ini.









