Dari Wisuda ke Kesadaran Ekologis: Catatan GUSDURian atas Inisiatif UNU Pasuruan

Bagi GUSDURian Pasuruan, persoalan lingkungan bukan sekadar urusan teknis pengelolaan sampah, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan. Kerusakan alam selalu berdampak pada kelompok paling rentan—masyarakat kecil, warga bantaran sungai, dan generasi yang akan datang. Karena itu, setiap ikhtiar kecil yang berpihak pada keberlanjutan layak dirawat dan diperkuat.

Pernyataan ini disampaikan GUSDURian Pasuruan sebagai respons atas inisiatif Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan yang membagikan kotak makan ramah lingkungan kepada para wisudawan pada momentum wisuda 29 November 2025. Langkah tersebut bukan sekadar inovasi acara, tetapi bagian dari pendidikan etika ekologis yang relevan dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Koordinator Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) GUSDURian Pasuruan, Nur Rizky Amania, menilai kebijakan tersebut sebagai titik awal pembiasaan budaya hidup minim sampah (zero waste) di ruang akademik.

“Kotak makan ini adalah langkah awal yang baik untuk membiasakan budaya zero waste. Memang belum bisa langsung mengubah semuanya, tetapi keputusan memberi souvenir yang bisa dipakai berulang kali menunjukkan keseriusan kampus dalam mengurangi sampah,” ujarnya.

Menurut alumnus Universitas Yudharta Pasuruan itu, perubahan besar selalu berangkat dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dalam perspektif GUSDURian, etika lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung erat dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.

“Hal sederhana seperti membawa kotak makan sendiri bisa menjadi kebiasaan baik saat nanti bekerja, melanjutkan kuliah, atau menjalani aktivitas harian. Ini kecil, tapi arahnya sudah benar,” tambah mantan Ketua Umum PC PMII Pasuruan tersebut.

Realitas lingkungan di Kabupaten Pasuruan memang masih menyisakan pekerjaan besar. Di sejumlah aliran sungai, lahan kosong, hingga badan sungai, sampah menumpuk tanpa pengelolaan memadai—mulai dari plastik, sisa makanan, hingga popok sekali pakai dan limbah pabrik. Kondisi ini bukan sekadar soal estetika, tetapi menyangkut hak hidup layak dan keberlanjutan ekosistem.

Data Capaian Kinerja Pengelolaan Sampah Tahun 2024 mencatat, secara nasional timbulan sampah mencapai 38,24 juta ton per tahun, dengan 66,23 persen belum terkelola. Di Kabupaten Pasuruan, dari 245.057,20 ton sampah per tahun, hanya sekitar 20.081,83 ton yang berhasil dikelola. Artinya, lebih dari 224 ribu ton sampah masih menjadi beban lingkungan dan sosial.

Dalam situasi seperti ini, inisiatif kampus menjadi penting sebagai ruang pembentukan kesadaran. Pada wisuda UNU Pasuruan, para lulusan menerima kotak makan ramah lingkungan yang langsung digunakan sebagai wadah makan siang. Souvenir ini mengirim pesan sederhana: perubahan gaya hidup bisa dimulai dari diri sendiri.

Pesan moral akan kesadaran ekologis telah dirasakan oleh para wisudawan. Bagi Fatmatul Jannah, wisudawan yang juga Kader Pemuda Pelopor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan Tahun 2024, pengalaman tersebut terasa unik dan bermakna.

“Saya belum pernah tahu wisuda dapat souvenir kotak makan berisi makan siangnya. Tapi bagus dan bisa terpakai. Dapat mengurangi sampah bungkus makanan,” ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Samrotud Dawaiyah, lulusan Program Studi Pendidikan Biologi. Ia menilai kotak makan tersebut tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar membantu aktivitas harian.

“Desainnya bersekat dan memudahkan saya membawa makanan tanpa perlu banyak wadah tambahan,” tuturnya.

Mahasiswa yang pernah lolos Program Kampus Mengajar Kemendikbudristek itu juga menekankan dampak ekologis dari kebiasaan kecil tersebut.

“Saya merasa puas karena tidak lagi menyumbang sampah kemasan makanan setiap kali makan. Ini solusi kecil, tapi berdampak,” imbuhnya.

Sementara itu, Siti Zulaikha, wisudawan Program Studi Teknologi Hasil Pertanian sekaligus Ketua PC IPPNU Kabupaten Pasuruan, melihat souvenir ini sebagai sarana pendidikan moral.

“Wadah ini tidak hanya mengurangi sampah sekali pakai, tetapi juga memberi manfaat jangka panjang karena dapat digunakan kembali,” ujarnya.

Ia menambahkan, hadiah sederhana ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab menjaga bumi, dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

“Saya mengapresiasi panitia yang tidak sekadar memberi souvenir, tetapi juga mengajak kami lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkasnya.

Dari perspektif Nahdlatul Ulama, kepedulian terhadap lingkungan sejalan dengan etika Islam yang memandang manusia sebagai khalifah di bumi. Hal ini juga ditegaskan Mukhamad Yahya, Ketua Media Center MWCNU Rejoso.

“Penggunaan wadah makan yang dapat dipakai berulang merupakan langkah kecil namun signifikan dalam mengurangi sampah plastik atau barang sekali pakai,” ujarnya.

Diketahui, UNU Pasuruan juga mengintegrasikan isu pengelolaan sampah dan kepedulian lingkungan dalam pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Upaya ini memperkuat peran kampus sebagai ruang pembentukan kesadaran ekologis dan sosial.

Bagi GUSDURian Pasuruan, pertanyaannya bukan semata apakah langkah ini sudah cukup, melainkan apakah ikhtiar-ikhtiar kecil ini terus dirawat dan diperluas. Sebab, merawat bumi bukan pilihan, melainkan tanggung jawab moral, kepada sesama manusia, kepada alam, dan kepada generasi yang akan datang.

Penggerak Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) GUSDURian Pasuruan. Dosen UNU Pasuruan. Ketua LTNNU PCNU Kabupaten Pasuruan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *