Antara Gus Dur dan Bunda Teresa: Semangat Kemanusiaan di Komunitas Sega Mubeng Kotabaru

Pagi itu, kami melawan rasa kantuk untuk berangkat ke Gedung Karya Sosial (GKS) Kotabaru, Yogyakarta. Kami, GUSDURian Yogyakarta, dijadwalkan mengikuti kegiatan Komunitas Sega Mubeng yang dilaksanakan hari Sabtu pukul 05.00 pagi. Komunitas Sega Mubeng Kotabaru merupakan komunitas berbagi kasih dengan membagikan nasi bungkus sebanyak 500 buah ke pemulung, tukang sapu jalan, buruh gendong, dan tukang becak. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun 2017 dan bertempat di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta. Selain Sabtu pagi, komunitas ini juga keliling setiap Rabu malam pukul 18.00. Khusus untuk Rabu malam yang dibagikan ialah roti dan minuman hangat seperti teh, wedang jahe, susu, dan kopi hitam.

Acara di pagi hari diawali dengan menerangkan mengenai target sasaran dari penerima nasi bungkus itu, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Setiap pengurus dan sukarelawan yang hadir dibagi ke dalam berbagai kelompok, di dalamnya terdapat juga kami dari penggerak GUSDURian Yogyakarta. Ada yang menggunakan kendaraan mobil dan motor untuk membagikan di rute-rute tertentu. Serta ada yang berjalan kaki di sekitar kawasan Kotabaru hingga lapangan Kridosono. 

Kami yang dibagi dalam berbagai kelompok memiliki pengalaman tersendiri. Saya dengan Nanik, salah satu kawan penggerak GUSDURian, mendapatkan rute 13 yang melalui Jalan A.M Sangaji hingga Monjali, kemudian dilanjutkan ke rumah singgah penderita kanker. Di jalan, kami sempat mendapatkan pengalaman yang rasanya mengiris hati. Kami membagikan nasi kepada lansia yang hanya tinggal di kios kecil berukuran dua kali tiga meter di depan Hotel Tentrem. Kemudian kami melanjutkan mengunjungi rumah singgah, melihat anak-anak kecil seumuran 7-10 tahun penderita kanker yang dirawat di RS Sardjito dan sebulan dua kali harus berkunjung ke Jogja untuk kontrol dan kemoterapi.

Berinteraksi dengan keluarga yang menunggu dan anak-anak penyintas kanker membuat kami memiliki pengalaman tersendiri. Mereka merupakan orang luar kota Jogja yang dirujuk ke RS Sardjito untuk mendapatkan penanganan medis yang optimal. Kami akhiri kunjungan ke rumah singgah dengan mendoakan anak yang sedang terbaring lemah, doa dipimpin oleh Nanik. Dari kunjungan ini kami bersyukur dapat dipertemukan dengan realita yang ada, mungkin belum tentu kami bisa berkunjung ke rumah singgah jika bukan karena Sega Mubeng.

Nilai yang diangkat oleh Komunitas Sega Mubeng ialah keteladanan dari Suster Teresa dalam pelayanannya di Kalkuta, India. Misinya melalui Kongregasi Cinta Kasih yakni untuk merawat “yang lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, semua orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan seluruh masyarakat, orang yang telah menjadi beban bagi masyarakat dan dihindari oleh semua orang.” Kongregasi ini dimulai dengan 13 orang anggota di Kalkuta, kini telah lebih dari 4.000 suster menjalankan panti asuhan, rumah bagi penderita AIDS, dan pusat amal di seluruh dunia, serta merawat para pengungsi, pecandu alkohol, orang buta, cacat, tua, orang miskin dan tunawisma, korban banjir, dan wabah kelaparan (Spink, 2007).

Keteladanan yang dilakukan oleh Bunda Teresa telah menginspirasi Komunitas Sega Mubeng Kotabaru untuk melakukan makna yang sama dengan cara yang berbeda. Nasi yang dibagikan bukan saja dimaknai sebuah makanan namun dapat dimengerti sebagai kasih yang dibagikan kepada sesama. Mereka berbagi kepada para tuna wisma di Kota Yogyakarta yang ada di emperan toko, orang-orang yang tidak beruntung memiliki rumah atau memiliki pekerjaan yang layak. Mereka bahkan berpindah-pindah tempat untuk bisa hidup dan terus bekerja mengais rupiah dengan mengumpulkan barang rongsok.

Bagi saya, ada refleksi yang terjadi ketika saya sebagai seorang penggerak GUSDURian bersinggungan dengan Komunitas Sega Mubeng. Nilai yang diangkat di sini ialah nilai yang sama, yakni nilai kemanusiaan. GUSDURian dengan semangat dari keteladanan Gus Dur dan Sega Mubeng dari spirit dari Bunda Teresa yang mereka sama-sama bergerak di dalam bidang kemanusiaan. Memang bidang dan apa yang mereka lakukan berbeda, Gus Dur sebagai aktivis yang melindungi hak-hak minoritas dengan jabatan dan kekuasaannya saat menjadi presiden Indonesia serta Bunda Teresa dengan gerakan kemanusiaannya menolong yang lapar, sakit, dan berbeban berat.

Meski demikian, mereka bergerak pada misi yang sama, yakni misi kemanusiaan, yang tanpa kita sadari gerakan kemanusiaan ini sudah jarang terjadi di Indonesia. Tentunya yang saya maksudkan ialah gerakan yang organik dan konsisten terus menerus seperti GUSDURian yang telah bergerak sejak 2011 dalam misi kemanusiaan melindungi hak-hak kelompok marjinal dan juga kerusakan lingkungan, serta Sega Mubeng yang sudah bergerak sejak 2017 yang masih konsisten untuk membagikan makanan kepada para warga yang kurang beruntung di Yogyakarta.

Semangat dan spirit inilah yang seharusnya kita hidupi bersama. Selagi kita bisa berbagi mengapa tidak kita lakukan? Jika kita bisa membela kelompok yang lemah mengapa tidak kita lakukan?

Mahasiswa CRCS UGM. Penggerak Komunitas GUSDURian Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *