Kabupaten Majalengka mencatat sejarah penting dalam gerakan nilai-nilai Gus Dur dengan terselenggaranya Kelas Penggerak GUSDURian, sebuah program pengkaderan yang bertujuan melahirkan penggerak perdamaian, toleransi, dan keadilan sosial di tingkat lokal.
Kegiatan ini menjadi istimewa karena Majalengka merupakan salah satu dari tiga daerah pertama di Indonesia yang dipercaya menyelenggarakan Kelas Penggerak GUSDURian, setelah Yogyakarta dan Makassar. Hal ini menunjukkan kepercayaan nasional terhadap kesiapan dan komitmen masyarakat Majalengka dalam menghidupkan nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan keberagaman.
Kelas Penggerak GUSDURian di Majalengka diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pendidik, aktivis sosial, pegiat komunitas, hingga generasi muda lintas iman. Mereka dibekali pemahaman tentang pemikiran Gus Dur, nilai toleransi, demokrasi, hak asasi manusia, serta kepedulian terhadap isu sosial dan ekologi.
Koordinator Komunitas GUSDURian Majalengka Intan Damayanti menyampaikan bahwa pelaksanaan kelas ini selama 3 hari dari tanggal 23-25 Januari diharapkan mampu melahirkan kader-kader penggerak yang tidak hanya memahami nilai Gus Dur secara teoretis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam aksi nyata di tengah masyarakat Majalengka yang majemuk.
“Majalengka memiliki potensi besar sebagai ruang tumbuh gerakan lintas iman dan lintas budaya. Kelas Penggerak GUSDURian ini menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi sosial yang inklusif,” ujarnya.
Acara ini di dukung penuh oleh pembina KGD Majalengka Kiai Abdul Rosyid dan Kiai H. Zaenal Muhyidin Ketua JATMA Kabupaten Majalengka.
Dengan terselenggaranya Kelas Penggerak GUSDURian, Ketua Pelaksana Kelas Penggerak GUSDURian Majalengka Moch Fuad Amin menegaskan posisinya sebagai daerah yang berkomitmen menjaga kerukunan, memperkuat solidaritas sosial, serta merawat nilai-nilai kebhinekaan sebagaimana diwariskan oleh Presiden ke-4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (SS)









