Sejumlah elemen masyarakat di Surabaya menggelar aksi refleksi bertajuk “Solidaritas Surabaya Inklusif” di GKI Diponegoro, Rabu (13/5). Ratusan warga berkumpul untuk memperingati sewindu tragedi bom bunuh diri di tiga gereja pada 2018 silam. Bukan dengan kesedihan berlarut, tapi seni dan literasi sebagai simbol perlawanan terhadap radikalisme.
Immanuel Erlangga selaku Ketua Pemuda Katolik Surabaya memaparkan peringatan ini pada dasarnya bukan untuk membuka luka lama. Tidak melulu bicara tentang bom. Tapi bagaimana peringatan 13 Mei menjadi peringatan persaudaraan dan membuka ruang temu utamanya bagi kalangan muda.
Konsep musikalisasi puisi, lapak baca dan poster gambar, berita kejadian 13 Mei sengaja untuk menggugah rasa dan menarik minat anak-anak muda. Selain itu, juga membuka sebanyak mungkin komunitas untuk bergabung dan berkontribusi.
“Jadi, acara ini tidak cuman dimiliki oleh ayah-ayah kita. Tapi, kita anak muda bisa ikut dan merefleksikan terhadap kondisi kita saat ini,” papar Angga.

Rissa selaku perwakilan dari anak muda menyampaikan, sebagai anak muda yang memiliki cukup banyak kawan dan kelompok, jangan hanya bersolidaritas melawan terorisme, radikalisme, fanatisme. Tapi diluar sana masih banyak kelompok-kelompok marjinal yang perlu dirangkul.
Menurutnya tantangan selanjutnya adalah bagaimana bisa kembali hidup berdampingan bersama orang lain dengan lebih banyak perbedaan. Di mana pun dan kapanpun obrolan cinta dan kasih harus terus berlanjut tidak selesai disini.
“Semoga kitab bisa saling merangkul, Surabaya bisa ramah suku, gender dan disabilitas,” ujar Rissa.
Yaseya Bayang, salah satu penyintas korban bom 13 Mei di GKI Diponegoro mengapresiasi pelaksanaan acara ini utamanya jika ditujukan untuk kalangan muda. Maka, untuk menarik minat konsep kegiatan perlu dibuat menarik dan bermakna.
Ia berpesan jangan sampai acara ini malah membuka luka lama para korban. Selain itu, berikan kesempatan kepada para penyintas untuk menyampaikan aspirasi, keinginan dan keadaannya.
“Mau menyampaikan kemana lagi? Kalau tidak di acara peringatan ini,” tegas Yaseya.
Pendeta Andri Purnawan dalam khotbahnya menuturkan sejak 2018 Suroboyo Guyub hadir bukan hanya menjadi sebuah deklarasi, tapi sebuah komitmen
bersama. Setiap tahun anak muda terlibat dalam peringatan 13 Mei, bukan untuk membangun kisah-kisah sentimentil tetapi sarana membangun komunitas yang saling mencintai.
“Anak-anak muda ikut memikirkan, mengupayakan peringatan 13 Mei,” ujar Pendeta Andri.
Agung Mulyadi Koesnanto Ketua Majelis GKI Diponegoro menyampaikan terror yang telah terjadi tidak boleh meruntuhkan nilai kesatuan dan nilai kemanusiaan. Maka, peringatan ini menjadi pengingat untuk merawat perdamaian dan ruang kebersamaan ditengah perbedaan.
Ia berharap pada peringatan tragedi 13 Mei tidak hanya seremoni tahunan, tetapi menjadi komitmen bersama untuk melawan intoleransi dan kekerasan dimanapun dan kapanpun.
“Terus tumbuhkan cinta kasih antar sesama, khususnya bagi warga kota Surabaya,” pungkas Agung Mulyadi.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, komunitas lintas iman, jurnalis, penyintas dan warga sipil. Peserta juga turut menuliskan doa dan harapan untuk kota Surabaya.
Peringatan tahunan ini merupakan kolaborasi dari beberapa elemen lintas komunitas diantaranya Gusdurian Surabaya, LPM Forma, Idenera, Pemuda Katolik Surabaya, PMKRI Surabaya, EPIC Indonesia. (SDH)