Oleh: Mukhitul Azam
LANGIT Kalisalak turun bersama dingin gunung. Tak jauh dari jalan provinsi, kendaraan melintas menyapu aspal basah sisa hujan sore. Sesekali, klakson bus menghentak tiba-tiba, membuat tanah bergetar, gelas berdenting, dan warga tersentak sejenak sebelum terpejam lagi. Namun, tiap hentakan datang, ada satu detik ketika segalanya berhenti. Dan semua menoleh.
Di sana berdiri Masjid Nurul Hikmah. Dinding biru-hijau bergaris emasnya mencolok namun bersahaja, bagai orang berpakaian rapi di kampung sederhana yang tidak sombong.
Bagi warga, ia jauh lebih tua dari tampilannya, menyimpan memori bata merah yang sempat telanjang saat renovasi, wajah lama sebelum semua ini.
Lantainya berganti dari tanah yang diambil dari lahan warga. Lantai yang silih berganti hidup dalam cerita, tegel, keramik, hingga granit krem mengkilap bagai kolam tenang. Dulu, kolam wudhu dengan dua belas anak tangga ada di belakang, tempat air dibagi adil tanpa aturan tertulis. Kini diganti keran praktis, namun hilangnya tangga itu baru terasa saat jamaah terlanjur lupa kapan terakhir menginjaknya.
Di dalam, detak jam digital menjadi satu-satunya yang bergerak di ruangan diam. Di sudut kompleks, bedug kayu modern menggantikan drum bekas. Keberadaannya bukanlah perkara kecil. Masjid ini adalah cara Kalisalak mengingat dirinya, bahwa Tuhan hadir di tanah yang dipadatkan tangan tetangga tanpa upah. Sesuatu yang tak tergantikan meski lantai berganti empat kali.
Malam itu, masjid lebih ramai. Malam Nisfu Sya’ban.
Di dalam, ibu-ibu duduk melingkar di atas karpet merah. Mukena warna-warni menyatu tanpa ketua, tanpa ada yang paling depan. Suara mereka lirih teratur bagai air parit, tidak deras, tapi tak pernah berhenti. Beberapa membawa Yasin lusuh, sisanya mengikuti lewat hafalan tanpa ingin pamer.
Pilar kuning berdiri bagai tiang yang tak pernah absen. Tradisi hidup, masjid berdiri, segalanya terjaga. Tapi entah kenapa, tidak semua terasa hidup.
Aku duduk di serambi, di antara lengkungan biru dan hijau yang dulunya berwarna kuning kucat. Garis emas langit- langit memantulkan kilatan bersahaja di bawah lampu redup, cahaya yang menyuruhmu mempertimbangkan ulang.
Rebana mendekam di tanganku, belum berbunyi. Di belakangku, Bowo mengetukkan jari karena gugup, sementara Rian meniup telapak tangan menatap halaman sepi.
“Masjid ini bukan untuk itu.”
Aku tak perlu menoleh. Pak Kiai Sirojudin berdiri di ambang pintu, siluetnya terpotong cahaya ruang utama. Pecinya selalu miring ke kiri. Wajahnya tenang dengan cara orang yang sudah selesai memikirkan terlalu banyak hal.
“Bukan hiburan, Pak,” kataku.
“Semua yang melalaikan bisa jadi hiburan.”
Bowo menghela napas.
“Tapi masjid juga bukan untuk menakuti orang datang, Pak.”
Kalimat itu keluar tanpa rencana, seperti sesuatu yang terlalu lama di ujung lidah dan akhirnya jatuh sendiri. Di dalam, suara mikrofon baru mengisi sudut-sudut yang dulu tak terjangkau suara azan lama. Pak Kiai tidak marah.
“Yang muda sering merasa tahu segalanya.”
“Yang tua juga kadang terlalu yakin,” balas Rian.
Sunyi setelah itu terasa lebih berat dan penuh.
“Kalau begitu, cari tempat lain.”
Tidak keras, tapi tak butuh diulang. Kami pergi.
Kami pergi, pindah ke rumah Rian yang sempit. Di sela
bising suara sinetron, kami memukul rebana bebas dari rasa bersalah. Di sana aku belajar, bahwa keberanian bukan hanya soal melawan. Kadang tentang bertahan menggenggam keyakinan meski tanpa penonton. Bowo dan Rian melakukannya tanpa kata-kata besar, duduk di lantai tak rata lalu memulai lagi.
Namun, tiap kali melewati kemegahan masjid, langkahku melambat. Ketidakhadiran kami justru terasa makin nyata. Aku bertanya dalam diam, mengapa tempat yang dulu dibangun dari tanah gotong royong warga, kini diklaim lebih berhak oleh sebagian orang? Pertanyaan itu mengalir pelan di bawah permukaan, bagai air tak terlihat yang menggerus tanah diam- diam.
***
Suatu sore, ibuku menyuruhku mengantar petai dan cimplung ke rumah Pak Kiai.
Cimplung, singkong yang direbus dalam nira kelapa sebelum mengeras jadi gula jawa. Rasanya manis dengan cara yang sulit dijelaskan, ada rasa pohon yang tinggi dan proses yang tak bisa dipercepat. Manis bukan manis gula, gurih bukan gurih garam; ia punya rasanya sendiri tanpa padanan. Makanan sederhana yang lahir dari kesabaran memasak nira perlahan. Tak ada jalan pintas di sana.
Aku berjalan pelan. Sore itu, langit Kalisalak oranye kemerahan. Dari jalan provinsi, deru mesin dan klakson sesekali membelah udara tanpa peringatan. Rumah Pak Kiai sudah berdinding tembok, pagarnya sederhana tanpa ornamen berlebihan. Bersih. Langsung. Seperti orangnya.
Di ruang tamu, foto besar hampir setengah meter tergantung di dinding. Wajah di foto itu tersenyum dengan ketenangan aneh, senyum orang yang telah berdamai dengan kesusahannya. Kacamata bulat. Peci hitam. Baju putih sederhana. Wajah yang sama, yang jamak ditemukan di pedukuhan ini.
Pak Kiai sedang membaca kitab kekuningan bersampul coklat tua. Saat aku datang, ia menoleh namun tidak segera menutupnya, menyelesaikan satu baris terlebih dahulu sebelum meletakkan telapak tangannya di atas halaman.
“Panjenengan sering melihat beliau?” tanyaku, lebih kepada diri sendiri.
“Setiap hari.”
“Panjenengan setuju dengan beliau?”
Pak Kiai tersenyum tipis. Senyum yang tidak menjawab langsung, tetapi membuat pertanyaanku terasa lebih serius dari yang kukira.
“Tidak selalu.”
“Lalu, kenapa dipasang?”
Pak kiai menutup kitabnya. Pelan, tanpa terburu-buru. “Karena aku ingin belajar, meskipun sering kali tidak mampu.”
Aku diam. Di luar, klakson dari jalan provinsi memecah sore sebentar. Tanah di bawah kaki kami bergetar tipis, lalu berhenti.
“Beliau mengajarkan satu hal yang paling sulit,” lanjutnya, “memanusiakan manusia, tanpa memilih.”
Aku menunduk.
“Itu artinya, semua orang punya hak yang sama untuk diperlakukan sebagai manusia. Tidak ada yang lebih layak dari yang lain hanya karena lebih lama di sini, lebih fasih, atau lebih tua. Semua. Tanpa terkecuali.”
Pak Kiai berhenti sebentar, lalu melanjutkan lebih pelan. “Dan itu bukan hanya soal bersikap baik. Itu soal keadilan yang paling mendasar, bahwa setiap orang berhak atas ruang untuk tumbuh, untuk mencoba, untuk ada.”
Ruangan terasa berubah ukuran tanpa ada yang bergerak. Di luar, klakson bus memecah sore, menggetarkan tanah sebelum kembali hening. Sunyi sesudahnya kini terasa lebih luas dan dalam, seolah ruangan ini tiba-tiba menyadari dirinya jauh lebih besar dari yang dikira.
Malam itu aku kembali ke masjid sendirian, tanpa rencana. Hanya kaki yang menghafal jalan lebih baik dari kepalaku. Aku duduk di serambi yang sama. Lengkungan yang sama. Lantai granit memantulkan cahaya hangat dari dalam. Di luar, klakson bus sesekali membelah malam sebelum lenyap, meninggalkan kesunyian yang lebih pekat.
Aku memegang rebana. Lama.
Di tanganku, ia terasa lebih berat. Bukan karena bobotnya berubah, melainkan karena aku menyadari apa yang selama ini kubawa bersamanya. Bukan hanya musik, melainkan keyakinan bahwa seni bisa menjadi cara mendekati Yang Maha Agung. Bahwa suara yang lahir dari niat jujur juga merupakan bagian dari doa. Rebana ini tidak bertentangan dengan masjid, ia adalah jalan berbeda untuk menuju tempat yang sama.
Lalu, aku mulai memukulnya pelan.
Dum-tak-dum
Hampir seperti bisikan berirama untuk telingaku sendiri. Sebuah langkah mendekat. Aku berhenti.
“Kenapa di sini, Le?”
Kali ini tak ada ketegangan. Hanya pertanyaan yang sungguh-sungguh ingin tahu jawabannya.
“Karena ini milik kita, Pak. Semua orang.”
Pak Kiai berdiri di ambang pintu. Di sudut kompleks, bedug itu berdiri di tempatnya. Bukan lagi drum merah bekas yang darurat, tapi kayu sungguhan hasil renovasi. Namun, ia tetap ada di sana. Di tempat yang bisa dilihat. Di kompleks yang sama.
“Kalau semua bebas, masjid bisa kehilangan arah.”
“Kalau tidak diberi ruang, masjid bisa kehilangan manusia.”
Pak Kiai menatapku lama.
“Dulu,” katanya pelan, “aku pernah melihat masjid ditinggalkan. Bukan karena rusak. Bukan karena jauh. Melainkan karena orang-orangnya satu per satu merasa tidak ada tempat bagi mereka di sana.”
Beliau berhenti. “Itu lebih menyakitkan dari apa pun.” Tanganku menggenggam erat rebana.
“Berarti yang kita jaga sama, Pak. Supaya masjid tetap jadi tempat semua orang.”
Sunyi. Namun lapang kali ini, seolah ruangan dibuka jendelanya dan angin masuk dari arah tak terduga. Pak Kiai Sirojudin melangkah keluar, lalu duduk di sampingku.
Berjarak dua jengkal, namun pilihan untuk duduk di sana telah mengatakan segalanya tanpa perlu diucapkan.
“Coba lagi.”
Aku memukulnya lagi.
Dum-tak-dum
Kali ini, tabuhan itu tidak terasa seperti kesalahan. Suara
itu mengisi serambi dengan pas, bagai sesuatu yang akhirnya menemukan rumah setelah lama mencari. Kami sama-sama membisu. Hanya ada suara rebana, udara dingin, dan jalan provinsi yang sesekali mengirimkan suaranya dari kejauhan. Untuk beberapa saat, itu cukup.
Perubahan sesudahnya datang tanpa tanggal resmi, bergerak serupa pergeseran musim yang baru disadari saat kita sudah di tengahnya. Latihan tetap di serambi, sebuah batas tak tertulis, namun kami tak lagi diusir.
Anak-anak kecil mulai duduk di tangga dengan rasa ingin tahu, kadang ikut menepuk lantai dengan pola kacau tanpa ada yang menegur. Mereka datang karena suara itu terasa seperti milik mereka juga, seperti bahasa yang tak pernah dipelajari namun langsung dimengerti.
Beberapa bapak berdiri di halaman dengan rokok di jemari, tidak bergabung tapi tidak juga pergi. Ibu-ibu selesai pengajian melirik sebelum pulang, sebagian tersenyum, sebagian datar, namun tak ada yang mempercepat langkah tanda keberatan.
Tidak semua setuju. Tidak semua suka. Namun, mereka tidak lagi menolak. Ditolak berarti menutup pintu, tidak setuju hanya berarti pintunya masih bisa dibuka dari dalam, jika kamu mau repot-repot mengetuknya dengan cara yang benar.
Malam terakhir yang kuingat, aku duduk sendirian di serambi setelah semua orang pulang. Hanya belum ingin pergi.
Kulihat ke dalam melalui pintu yang renggang. Dua pilar kuning berdiri tenang. Mihrab hijau-emas menghadap barat, dan jam digital di atasnya terus berdetak, satu-satunya hal yang bergerak di ruangan yang diam. Lantai granit memantulkan segalanya. Di luar, klakson kendaraan sesekali menggetarkan tanah sebelum malam menelan semuanya kembali. Ada yang berubah dalam caraku melihat masjid ini.
Bukan fisiknya, menara, kubah, dan lantai granitnya tetap sama. Yang berubah adalah rasanya, ia tidak lagi terasa jauh.
Aku teringat kata Pak Kiai tentang memanusiakan manusia tanpa memilih. Kalimat sederhana yang terus bergerak di bawah permukaan seperti air nira sebelum jadi gula jawa, berproses bersama waktu yang tidak bisa dipercepat.
Aku juga teringat kolam itu, dua belas anak tangga yang dulu harus dituruni untuk sampai ke air wudhu. Tak ada paksaan untuk bergegas, turunan satu demi satu undakan. Mungkin begini cara hubungan yang baik terjalin, bukan lewat keputusan besar, tapi langkah-langkah kecil yang diambil sesudahnya, sampai tak ingat lagi berapa tangga yang sudah terlampaui.
Yang sulit bukanlah mencintai seseorang yang layak dicintai. Yang sulit adalah memberi ruang agar orang lain juga bisa mencintai dengan caranya sendiri, dengan ritmenya sendiri, dengan rebananya yang masih belajar menemukan irama yang pas. Dan memberi ruang itu bukan berarti kamu sepakat dengan semuanya. Pak Kiai tidak pernah pura-pura setuju. Ia hanya memilih untuk duduk. Dan duduk itu sendiri sudah merupakan sebuah keberanian, keberanian untuk tidak terburu-buru memutuskan bahwa sesuatu yang asing pasti keliru.
Di rumah-rumah, foto itu masih tergantung. Wajah yang sama. Senyum yang sama. Di dinding berbeda, ia dihayati dengan cara berbeda. Ada yang mencintainya karena pesantren, karena humor, atau karena ia membela kelompok yang namanya membuat tak nyaman. Ada yang karena ia memilih berdiri di sisi sepi saat orang lain berebut ke sisi ramai.
Semuanya benar, bagian dari satu sosok yang jauh lebih besar dari cara mana pun untuk dipahami. Dan mungkin masjid ini tidak berbeda, ia lebih besar dari cara mana pun untuk menjaganya.
Malam kian dingin. Angin gunung melewati sawah menguning dan gesekan lembut daun, menyapu Kalisalak yang mulai mengantuk. Suara kendaraan jalan provinsi kian jarang, namun tak pernah benar-benar berhenti. Dunia luar terus bergerak, tak peduli apakah serambi ini sedang menemukan sesuatu atau tidak. Tapi di sini, waktu punya caranya sendiri.
Suara rebana masih terdengar. Pelan.
Dum-tak-dum
Masih dari serambi. Belum masuk ke dalam.
Namun, tidak lagi terasa di luar.
Di antara keduanya, ada tempat tanpa nama, saat sesuatu yang belum selesai sedang belajar menjadi utuh. Serambi dengan pilar lengkungnya, langit-langit bergaris emas redup, lantai granit bersih, dan suara jalan besar yang sesekali mengingatkan bahwa ada banyak hal di luar sana yang tidak akan menunggu.
Dan untuk pertama kalinya, Masjid Jami Nurul Hikmah Kalisalak terasa tidak sendiri. Bukan hanya ramai oleh doa yang sudah menghafal jalannya, tapi ramai pula oleh sesuatu yang lebih muda, lebih tidak yakin, lebih sering keliru namun tetap datang mencoba menemukan celah di antara hal-hal yang sudah tahu caranya.
Rebana di tanganku masih berbunyi.
Pelan. Sabar. Setia.
Seperti sesuatu yang tahu bahwa waktu akan mengatur sisanya.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.