Peristiwa

Kenalkan Ember Tumpuk hingga Losida, Hendrikus Latih Pengelolaan Sampah Organik di Festival Jagat

Jombang – Setelah melewati sesi istirahat, Kelas Mengelola Sampah Pesantren, Sekolah, dan Rumah Ibadah dilanjutkan ke sesi kedua. Kelas kemudian dipandu sepenuhnya oleh Hendrikus Hari Wantoro, dan asisten sementaranya, Bahrul Ulum dari Gusdurian Yogyakarta.

Bertempat di stage utama Festival Jagat yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Minggu (30/8/2026), sesi pertama yang dibawakan oleh Gus Sholahuddin Wahid atau biasa dikenal sebagai Ra Mamak dan juga Gus Fardan, pengasuh Pesantren Khoiriyah Seblak, telah banyak mengeksplorasi dan membahas nilai-nilai spiritual keagamaan serta hubungannya dengan upaya pelestarian lingkungan.

Sementara dasar ideal telah ditetapkan, sesi kedua digunakan Hendrikus untuk melengkapi rangkaian acara dengan memberikan contoh praktis tata cara penanggulangan sampah organik menggunakan berbagai media dan alat yang mudah diakses. Terlihat Hendrikus telah membawa beberapa alat peraga yang diperlihatkan langsung kepada para peserta.

Forum dimulai dengan memperkenalkan tiga jenis sampah organik yang masing-masing memiliki karakteristik dan cara penanggulangan berbeda, yaitu sampah organik basah, lunak, dan keras. Menurut Hendrikus, hal ini penting untuk dipahami sebab dalam proses mengompos ketiganya memiliki treatment-nya sendiri.

Selanjutnya, Hendrikus memperkenalkan alat-alat komposter melalui media yang sudah dibawa maupun dari PowerPoint (PPT) yang sudah disiapkan, seperti penggunaan Ember Tumpuk, Losida (Lodong Sisa Dapur), biopori, banana circle, serta pemanfaatan ayam dan maggot.

Sembari menjelaskan prinsip-prinsip yang harus ada dalam pengomposan, yaitu unsur hijau, unsur cokelat, mikroba, dan air, Hendrikus juga berpesan bahwa alam telah memiliki cara penanggulangan untuk segala yang diproduksi oleh alam. Selama dikelola dengan baik, sampah tidak akan pernah menimbulkan masalah. Maka tantangannya adalah sampah yang dihasilkan oleh manusia, sampah-sampah plastik dan sampah-sampah yang tidak mudah diuraikan lainnya.

Hendrikus kemudian menutup sesinya dengan mengingatkan bahwa apa yang sudah ia jelaskan boleh diduplikasi oleh peserta, bahkan model alat yang ia bawa bisa ditiru dan dikembangkan sendiri, baik untuk keperluan rumahan maupun keperluan untuk diperjualbelikan.

”Iya, menarik. Jadi ini banyak teman-teman aktivis yang sudah melakukan, lalu praktik-praktik itu bisa mereka sharing-kan. Untuk yang belum mungkin masih memperhatikan, tapi semoga ini menyebar, bisa ditirukan dan bermanfaat,” ucap Hendrikus kepada tim Kampung Gusdurian.

Berakhirnya sesi ini kemudian menandakan pula berakhirnya susunan Kelas Ekologi dalam rangkaian Festival Jagat. Dengan ini, diharapkan semua ilmu yang dibagikan dapat dipraktikkan dan membawa manfaat bagi masyarakat dan ekosistem lingkungan. (SDH)

Kautsar M. Ilahy

Penggerak Komunitas GUSDURian Jogja