Gus Dur, Sang Pendekar Rakyat dalam Nada dan Ingatan

Enam belas tahun telah berlalu sejak Abdurrahman Wahid—Gus Dur—meninggalkan dunia. Namun namanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, bukan hanya dalam buku sejarah, tetapi dalam ingatan kolektif bangsa: dalam kutipan yang terus beredar, dalam perbincangan lintas generasi, dan dalam praktik nilai yang berusaha dirawat oleh mereka yang percaya bahwa politik seharusnya berangkat dari kemanusiaan.

Ingatan itu tidak hadir dengan sendirinya. Ia dirawat. Salah satu upaya merawatnya dilakukan oleh Komunitas GUSDURian, yang lahir dari inisiatif keluarga dan anak-anak ideologis Gus Dur. Melalui haul (peringatan wafat) tahunan, diskusi, dan kerja-kerja kebudayaan, nilai-nilai Gus Dur terus dipertautkan dengan persoalan kontemporer. Haul bukan sekadar seremoni, melainkan ruang refleksi kolektif—tempat Gus Dur dibaca bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kompas moral hari ini.

Namun ingatan tentang Gus Dur tidak hanya hidup dalam forum-forum diskusi atau buku akademik. Ia juga hadir dalam medium yang lebih membumi, yakni sebuah lagu. Salah satunya adalah tembang berjudul Gus Dur (Pendekar Rakyat) ciptaan Dhalang Poer, yang dinyanyikan dengan suara khas Eny Sagita.

Lagu ini belakangan ramai digunakan sebagai latar konten di media sosial, terutama dengan penggalan lirik “Agomo ngayomi jagad royo”. Di balik popularitas itu, lagu ini menyimpan muatan elegi politik, kritik kekuasaan, sekaligus penghormatan mendalam kepada sosok Gus Dur.

Lirik pembuka lagu ini langsung membawa pendengar pada luka sejarah:

Ora ono rong tahun
Nggonmu dadi presiden
Dipekso mudun parlemen

Belum genap dua tahun menjabat sebagai Presiden Keempat Republik Indonesia, Gus Dur dilengserkan melalui proses politik yang sarat intrik. Tuduhan Bruneigate dan Buloggate dijadikan alasan, meski hingga kini tak pernah terbukti secara hukum. Sejarah mencatat, pelengseran itu lebih mencerminkan pertarungan kepentingan elite ketimbang penegakan keadilan. Lagu ini menangkap luka itu secara jujur, bahkan getir, sebagaimana ditegaskan dalam lirik berikutnya:

Jarene kasus ngono
Jarene kasus ngene
Neng ra ono nyatane

Hukum, dalam konteks ini, tampil sebagai alat kekuasaan. Ia lentur di hadapan kepentingan politik. Gus Dur, yang sejak Orde Baru dikenal kritis terhadap otoritarianisme, justru menjadi korban reformasi yang kehilangan arah. Reformasi yang semestinya membebaskan, malah menjegal mereka yang berani menjaga nurani.

Namun lagu ini tidak berhenti pada tragedi politik. Ia masuk lebih dalam, menyentuh dimensi batin Gus Dur:

Nadyan cacat netramu
Nanging ngerti batinmu
Ngendi kucing, ngendi asu

Meski penglihatan fisiknya terbatas, Gus Dur justru memiliki kejernihan batin. Ia mampu membedakan mana yang tulus dan mana yang berpura-pura, mana yang membela rakyat dan mana yang sekadar memanfaatkan mereka. Metafora ini sekaligus menjadi kritik tajam terhadap politik prosedural yang tampak rapi di permukaan, tetapi keropos secara moral.

Bangsa ini, sesungguhnya, tidak kekurangan orang pintar. Yang langka adalah kejujuran. Gus Dur adalah contoh bagaimana kejujuran dalam politik justru menjadi beban. Ia tidak pandai berkompromi dengan kebusukan, dan karena itulah ia disingkirkan. Negara ini berkali-kali gagal melindungi orang-orang jujur, lalu heran mengapa kepercayaan publik terus runtuh.

Prinsip Gus Dur tergambar jelas dalam lirik berikut:

LSM opo partai
Ormas opo mung RT
Sing penting tumindake

Bagi Gus Dur, identitas organisasi, partai, atau jabatan bukanlah yang utama. Yang paling penting adalah tindakan nyata. Prinsip ini menjelaskan mengapa ia mampu melampaui sekat ideologi dan identitas. Gus Dur berpihak bukan karena kesamaan label, tetapi karena kesamaan nilai kemanusiaan—terutama kepada mereka yang lemah, minoritas, dan kerap disingkirkan.

Puncak pesan moral lagu ini terangkum dalam bait yang kini menjadi ikonik:

Kelingan welingmu sing prasojo
Agomo ngayomi jagad royo

Bagi Gus Dur, agama bukan alat pembenaran kekuasaan, apalagi penindasan. Agama seharusnya mengayomi semesta. Prinsip ini sejalan dengan gagasan rahmatan lil ‘alamin, yang oleh Gus Dur tidak berhenti sebagai konsep teologis, tetapi diterjemahkan dalam tindakan nyata—dari pembelaan terhadap minoritas hingga keberanian melawan politik identitas.

Bagian akhir lagu ini terdengar seperti ratapan kolektif:

Sak lungamu akeh sing rumongso kelangan
Pendekar rakyat sing wis lilo dadi korban

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009. Kepergiannya meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam, terutama bagi mereka yang selama ini merasa ditemani dan dibela. Ia dijegal karena konsistensinya memihak rakyat kecil—mereka yang dianggap tidak penting dan mudah dikorbankan. Ironisnya, justru karena keberpihakan itulah Gus Dur dicintai rakyat, meski tidak selalu dikehendaki elite.

Lagu ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah memiliki pemimpin yang berani kalah demi kebenaran. Pertanyaannya kini: apakah keberanian moral semacam itu masih kita rawat, atau justru kita anggap terlalu mahal untuk diperjuangkan?

Mengenang Gus Dur berarti merawat nilai-nilainya. Julukan “Pendekar Rakyat” bukan romantisasi, melainkan penegasan atas sikap hidupnya yang bersedia menjadi korban demi keadilan. Selama ketidakadilan masih ada, selama politik masih kehilangan nurani, ingatan tentang Gus Dur akan terus hidup—dalam nada, dalam cerita, dan dalam keberanian mereka yang memilih tetap berpihak pada kemanusiaan.

Penggerak Komunitas GUSDURian Surakarta, Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *