SUBANG – Jaringan Gusdurian menggelar pelatihan fasilitator komunitas untuk penguatan tenurial pada ekosistem mangrove. Pelatihan ini diikuti oleh 40 peserta dari empat desa pesisir yang ada di Kabupaten Subang, yaitu Desa Mayangan, Pangarengan, Legon Wetan, dan Tegalurung.
Kepala program Nur Solikhin menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan agenda bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Mangrove for Coastal Resilience Project. Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian anak muda terkait ekosistem mangrove yang terancam oleh berbagai hal, mulai aktivitas manusia, industri, hingga faktor alam.
“Di banyak pesisir, kami menjumpai bagaimana ekosistem mangrove mengalami situasi krisis. Padahal mangrove memiliki banyak manfaat,” ujar Nur Solikhin. Ia menguraikan beberapa manfaat di antara lain sebagai pencegah abrasi, penghasil oksigen, hingga tempat hidup keaneragaman hayati. Mangrove juga bisa diolah menjadi berbabagai produk olahan yang bernilai ekonomis.
Selama tiga hari, para peserta diajak untuk merefleksikan kondisi lingkungannya. Beberapa peserta menuliskan berbagai tantangan pelestarian mangrove, antara lain alihfungsi lahan, pencemaran lingkungan, hingga kurangnya kesdaran masyarakat.
Selain berdinamika di kelas, para peserta juga diajak untuk mengunjungi komunitas atau warga yang sudah melakukan aksi untuk pelestarian mangrove.
Melalui kegiatan ini, anak muda di Subang diharapkan mampu menjadi motor penggerak di lingkungan masing-masing. Fokus utamanya adalah menjaga kelestarian alam dengan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal serta nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat setempat.
Selain di Subang, agenda ini juga akan diadakan di Semarang pada 1-3 Mei 2026 mendatang.