Sastra

Gereja di Halaman Rumah Kiai

Suara itu bertebaran ke segala penjuru, seperti tak memberi pilihan, suka atau tidak harus bisa menerimanya. Suara itu keluar dari pengeras suara masjid yang ada di tengah desa, tempat segala gema dikumpulkan dan dilepas begitu saja. Suara ibu-ibu yang melantunkan selawat dengan nada kadang rendah, kadang tinggi, kadang pecah dan kadang serak. Atau suara anak-anak yang berebut menyanyikan lagu religi yang terdengar menjadi teriakan. Riuh dan polos dan entah kenapa justru terasa jujur.

Ada yang mengeluh, tentu saja. Tentu saja yang mengeluh satu agama. Kalau beda agama bisa jadi urusannya dianggap bukan keluhan tapi penghinaan dan itu berbahaya buat stabilitas nasional. Tapi untunglah di desa ini agamanya sama walau kadang beda hari saat merayakan lebaran dan beda tingkatan ketakwaannya kalau diukur dari kelakuannya, ada yang rajin sholat ke masjid, ada juga yang suka main judi, ada yang jadi petani, guru dan buruh pabrik, ada juga yang jadi anggota LSM yang kerjanya narik upeti kayak kompeni.

“Berisik banget tuh ibu-ibu!” ujar seseorang di warung kopi.

“Duh anak-anak teriak-teriak pakai toa lagi!” kata yang lain.

Keluhan-keluhan itu bukanya tidak sampai ke telinga Kiai Sobary, tapi dia memilih membiarkan semuanya berjalan seperti sedia kala.

“Biarkan saja, mencintai Allah kan nggak harus indah, mampunya segitu ya maklumi saja, yang denger juga harus ikhlas, anggap saja itu ujian dari Allah!” Kiai langsung terkekeh dan yang dengar pun ikutan tertawa. “Kita juga nggak suka lapar, tapi ikhlas lapar kalau lagi puasa, nah, hasil puasa itu harus dipraktekan dalam kehidupan, biar nggak sekedar dapat lapar dan hausnya saja!” lanjut Kiai sambil mengusap hidungnya yang berdengus.

***

Hingga pada suatu ketika, desa itu kedatangan tamu dari kota, kulitnya bersih, suaranya lembut dan matanya yang sipit ditutup kaca mata minus. Dia terlihat canggung ketika orang-orang bertanya soal agama. Dan kehadirannya pun sampai juga ke telinga Kiai Sobary, lalu Kiai langsung meminta semua kegiatan Masjid menggunakan speaker dalam, tidak boleh menggunakan pengeras suara luar, kecuali kalau adzan harus tetap berkumandang sebagaimana waktunya.

Desa pun terasa lebih sunyi dan orang-orang rindu pada suara bising yang tak berirama itu.

“Kenapa harus dibungkam suara kami Kiai?” tanya seorang ibu.

“Ya, tidak dibungkam Tetap boleh. Tapi kita sedang ada tamu, dan tamu itu harus kita hormati!”

“Loh, tapi ini kan kampung kita sendiri! Seharusnya di mana kaki berpijak di situ langit dijunjung!” timpal ibu-ibu yang lainnya.

Kiai hanya tersenyum tipis. ”Kebenaran tak memandang kaki berpijak di mana, tetap harus dijalankan meskipun terasa berat, kalau kita memaksa orang yang berbeda untuk mengikuti maunya kita, itu bukan kebenaran namanya tapi merasa paling benar!”

Ibu-ibu tak melanjutkan perdebatan, bukan karena menerima tapi tak bisa memahami jalan pikiran Kiai, meski begitu tak ada yang berani membantah, mereka memilih diam dan suara-suara mereka hanya berputar-putar dalam ruangan dan membikin dadanya sesak juga.

***

Kemudian tamu itu ternyata bukan sekedar singgah, dia mengerjakan beberapa proyek pembangunan desa. Didampingi aparat desa dan beberapa warga yang dipekerjakan. Dia membangun jembatan, membersihkan sungai, membuat perpustakaan hingga tempat mandi dan mencuci. Desa itu mulai terbiasa dengan kehadirannya, setidaknya mereka yang dipekerjakan atau warung-warung yang kebagian jadi tempat ngopi. 

Tapi ada juga merasa tidak nyaman akan kehadirannya, mereka kelompok LSM yang biasanya minta jatah uang koordinasi bila ada pembangunan di desanya. Baik itu proyek pembangunan jalan, pengerukan sungai, pembangunan puskesmas, pembangunan sekolah hingga pesantren, mereka selalu hadir sebagai penarik upeti sebagai yang punya wilayah.

Tapi untuk pembangunan yang dilakukan tamu ini, tak ada sepeserpun uang koordinasi buat mereka, aparat desa sudah menjelaskan kesepakatan itu walau para preman (LSM) yang mengaku setia pada negara kesatuan ini tidak mau terima. Tapi tamu itu nggak peduli dan aparat desa pun sudah lelah menanggapi.

Hingga pada akhirnya, tamu itu mengutarakan ingin membangun Gereja. Warga desa langsung menentangnya dan preman-preman LSM itu berdiri paling depan menolaknya. Bagai tersulut api, orang-orang pun melakukan penentangan dan menuntut tamu dari kota itu untuk segera hengkang.

Walaupun tamu dari kota itu sudah menjelaskan, kalau Gereja yang dibangunnya hanya akan digunakan untuk beberapa orang dari kota yang ingin beribadah dan sambil berlibur ke desa dan itu hanya sebatas rencana, bila tidak diijinkan pun tidak apa-apa. Tapi bagi para penentang, itu tetap dianggap lancang, ancaman yang pelan-pelan bisa mengubah desa mereka. Karena itu, mereka terus mendesak aparat desa dan Pak Lurah untuk mengusir tamu tersebut. Sementara Pak Lurah sendiri mulai kewalahan menghadapi tekanan warganya.

Namun dengan santainya Kiai Sobary meminta tamu itu membangun tempat ibadah di samping rumahnya. Orang-orang desa pun bingung, ada yang memilih diam, ada juga yang tetap melakukan perlawanan. Mereka langsung berdatangan dengan kepalan tangan, rahang mengeras dan nafas menderu.

“Ini keterlaluan Kiai!” seru tokoh LSM.

“Ini desa penghuninya semua muslim!” sahut yang lain

“Kiai, jangan bersekongkol untuk menjerumuskan anak-anak kami!”

“Ini Penghinaan!”

Kiai Sobary hanya terdiam menyimak, wajahnya tetap tenang sambil manggut-manggut, tidak menyela, apa lagi marah.

“Ini kan tanah saya, mau saya gunakan buat nanam cabai, bikin warung kopi, tempat main judi atau tempat ibadah ya terserah saya, kan!”

“Jangan menghina, Kiai!”

“Menghina bagaimana? Lah, membangun tempat ibadah hinanya di mana?”

“Kami memang suka mabok, tapi kalau agama kami dihina, kami siap melawan!” suara tokoh LSM itu menggelegar dan tubuhnya sedikit sempoyongan.

Kiai hanya membiarkan dan memilih pergi ke Masjid untuk sholat Dzuhur, sementara orang-orang yang terbakar amarahnya, silih berganti orasi memuntahkan kekesalannya.

***

Tapi Kiai tetap menjalankan rencananya, tempat ibadah itu dibangun di samping rumahnya, orang-orang yang jadi pekerja mulanya ragu, karena bayangan ancaman para preman dan warga yang menentang membuat nyalinya ciut. Tapi Kiai menjaganya, dia menunggu para pekerja merampungkan pekerjaannya, membuat para preman itu nggak punya nyali untuk berhadapan.

Hingga pembangunan tempat ibadah itu hampir rampung. Pada malam yang masih awal, api menjalar membakar kayu-kayu yang menyebarkan aroma bensin, tak ada yang tahu siapa yang menyulut dan tak ada yang berani untuk mengusut, tak ada satu pun warga yang menyebarkan vidio kebakarannya di media sosial. Semua memilih bungkam, diam, membiarkan api membakar kayu hingga jadi abu dan bau bensin tetap menyengat.

Sampai pagi, aroma itu masih ada, berdatangan orang-orang untuk melihat. Kiai Sobary pun datang untuk melihat-lihat, dia berdiri di tumpukan debu dan bata yang menghitam.

Seseorang ada yang melangkah mendekat, “Kami hanya ingin menjaga desa ini, Kiai!” ujarnya pelan.

Kiai hanya tersenyum dan mengangguk. “Saya tahu. Sekarang kalian kembali seperti semula, gunakan toa masjid seperti sedia kala!”

Orang-orang nampak menghela napas dan beberapa mengusap wajahnya sambil mengucap “Alhamdulillah”.

Lalu Kiai itu memilih memasuki rumahnya dan orang-orang pun satu persatu memilih meninggalkan lokasi, tanpa peduli asap masih mengepul dari kayu yang belum sempurna menjadi abu.

***

Desa itu kembali berisik, tidak hanya oleh suara-suara dari toa masjid tapi juga suara-suara dari speaker-speaker yang ada di warung kopi yang dibiarkan bersuara hingga larut malam, bahkan saat bulan ramadhan, speaker-speaker itu dibawa keliling dengan roda untuk membangunkan sahur dengan lagu dangdut.

Kiai Sobary tidak ada, tamu dari kota itu pun tidak ada. Tak ada yang tahu kemana perginya Kiai Sobary, ada yang merasa kehilangan, ada juga menganggapnya tidak terlalu penting. Hidup memang terus berjalan, walaupun terasa seperti jaman kompeni. Mau hajatan, jualan atau renovasi rumah, preman-preman LSM datang minta upeti dengan dalih uang koordinasi.

Aparat desa diam, begitu juga Pak Lurah. Diam mereka bekerja, seperti tidak tahu apa-apa, padahal karena tahu, mereka memilih diam. Sedangkan orang-orang masjid tetap khusyuk beribadah, seakan hal yang tak mengganggu kekhusukan ibadahnya tak perlu dipersoalkan. Lalu, suara ibu-ibu pengajian dan anak-anak berebut bernyanyi lagu religi masih nyaring terdengar, berputar-putar di langit desa, seperti tak bisa menemukan jalan pulang. 

Semua orang sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang sibuk mengejar surga, dengan keyakinan yang tak sempat dipertanyakan. Ada yang sibuk memungut upeti, dengan bangga, dengan rasa paling berjasa, seolah negara berdiri di atas pundak mereka. Di rompi yang mereka kenakan, tertulis kalimat yang tak pernah mereka ragukan: “NKRI Harga Mati”, sebuah keyakinan yang diucapkan keras-keras, mungkin agar tak terdengar keraguan di dalamnya.

Asep Wahyudin, seorang penulis yang menjadi guru SD.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian