Delapan tahun pasca tragedi ledakan bom 13 Mei yang mengguncang kota pahlawan, antar elemen komunitas di Surabaya kembali menggelar aksi “Solidaritas Surabaya Inklusif” di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Rabu (13/5). Peringatan ini menyerukan bahwa saling menghargai bukan lagi sekedar pilihan, melainkan keharusan supaya cinta menjadi perdamaian.
Pendeta Andri Purnawan memaparkan, berkumpul, saling menghargai dan saling mencintai antar lintas iman adalah sebuah keharusan karena itu aspek paling basic. Sudah saatnya mulai memikirkan hal – hal yang melampaui basic supaya cinta menjadi perdamaian. Gejolak geopolitik, ekonomi-sosial yang akan meledak tidak hanya Surabaya bahkan Indonesia. Maka untuk menghadapi bersama satu-satunya jalan adalah solidaritas.
“Satu-satu jalan cinta adalah solidaritas. Saling menolong, saling mendukung dan saling berbagi” papar Pendeta Andri.
Pendeta Andri menambahkan bahwa tragedi bom 2018 silam tidak lahir dari ruang hampa tetapi hasil dari kebiasaan-kebiasaan berpuluh-puluh tahun. Apa yang didengar, dipikirkan dan dilakukan. Kemudian, lingkungan yang terus menduplikasi kebencian serta dukungan dari komunitas maka hasilnya melahirkan kebencian.
“Begitupun sebaliknya, Jika memiliki kebiasaan-kebiasaan baik. Lingkungan yang baik dan komunitas yang mendukung maka patut untuk diperjuangkan” tambahnya.
Nur Cholis perwakilan dari lazisnu menyampaikan bahwa peristiwa bom 13 Mei adalah teguran bagi kita semua untuk saling bergandengan tangan, rukun dan mengenal satu dengan yang lain. Ia juga mengajak masyarakat berhenti untuk menggunakan narasi mayoritas dan minoritas.
“Kita semua ber-KTP Suroboyo, salam satu nyali!,” ujar Nur Cholis.

Immanuel Erlangga selaku Ketua Pemuda Katolik menjelaskan tema inklusif diambil yang bermakna bahwa setiap manusia memiliki hak masing-masing dalam bernegara, budaya, agama dan kepercayaan. Maka, sebagai sesama warga harus Saling menghargai.
“Daerah juga berbeda-beda. Inilah yang mau kita bangun di Surabaya. Menjadi ruang temu dan kolaborasi,” papar Angga.
Dian Jenny salah satu peserta dari Perempuan Penghayat kembali teringat situasi 13 Mei 2018 silam. Ia menyampaikan ada perasaan ngeri, luka dan menusuk jantung dalam kehidupan beragama. Tempat ibadah yang seharusnya menjadi tempat yang disakralkan, disucikan, tetapi ternodai oleh sikap intoleran dan radikal.
“Jangan pernah ada lagi, jangan pernah ada lagi korban atas nama keyakinan,” ujar Dian.
Jose salah satu peserta dari Pemuda Katolik menuturkan tragedi 13 Mei 2018 silam adalah buah dari fanatisme dan kebencian yang salah. Kebencian tersebut membawa manusia dalam kehancuran kehidupan. Sebaliknya jika yang diajarkan adalah kebaikan yang dikeluarkan juga kebaikan. Siapapun kita, apapun latar belakangnya, sesama manusia kuncinya jangan membenci.
“Peristiwa ini mengajarkan tentang kemanusiaan dan cinta kasih yang harus kita kasih kepada sesama manusia,” pungkas Jose.
Peserta yang hadir diminta untuk menuliskan doa dan harapan untuk Kota Surabaya. Sebelum kegiatan berakhir, perwakilan dari lintas komunitas membaca ikrar bersama sebagai sebuah komitmen untuk terus merawat keberagaman. (SDH)