YOGYAKARTA – Gagasan Abdurrahman Wahid mengenai pendidikan Islam yang beragam, inklusif, dan dekat dengan realitas kehidupan menjadi pokok bahasan dalam diskusi Cangkrukan Pemikiran Gus Dur, seri “Gus Dur dan Pendidikan” yang digelar pada 15 Mei 2026 di Griya Gusdurian, Yogyakarta.
Diskusi ini menghadirkan penulis dan pegiat literasi, Muyassaroh sebagai pemantik, dengan dipandu moderator Naufal Muzakki. Belasan peserta hadir dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa lintas universitas, pekerja muda, hingga penggerak komunitas GUSDURian Yogyakarta. Forum juga berlangsung inklusif dengan kehadiran peserta lintas agama yang turut berbagi pengalaman dan pandangan mengenai pendidikan dalam tradisi masing-masing.
Dalam forum tersebut, peserta mengulas tulisan Gus Dur berjudul “Pendidikan Islam Harus Beragam”, yang pertama kali dipublikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat pada 21 Desember 2002 dan kembali dimuat dalam buku Islamku Islam Anda Islam Kita (2006). Tulisan itu membahas pentingnya memahami pendidikan Islam secara luas, tidak terbatas pada institusi formal seperti sekolah atau madrasah.
Muyassaroh menjelaskan bahwa dalam pandangan Gus Dur, pendidikan merupakan sebuah ekosistem yang hidup di tengah masyarakat. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui tradisi, percakapan sehari-hari, dan aktivitas sosial masyarakat.
“Bagi Gus Dur, pendidikan itu ekosistem. Jadi bukan sekadar institusi formal. Ada diba’an, selawatan, percakapan sehari-hari, itu juga ruang pendidikan,” ujar Muyassaroh.
Ia menambahkan, pendidikan Islam menurut Gus Dur tidak bisa dipahami secara sempit. Kehidupan masyarakat sehari-hari justru menjadi ruang penting dalam proses belajar, terutama dalam menanamkan nilai kemanusiaan, toleransi, dan kebersamaan.
Selain menyoroti pendidikan sebagai ekosistem, Muyassaroh juga menekankan pentingnya agama berdialog dengan kenyataan hidup. Menurutnya, gagasan keagamaan akan lebih mudah dipahami ketika diterjemahkan dalam pengalaman konkret masyarakat.
“Ketika agama hanya bicara soal langit, masyarakat akan sulit merasakannya. Tapi ketika agama hadir dalam kehidupan sehari-hari, orang jadi lebih mudah memahami maknanya,” katanya.
Ia juga mengaitkan gagasan tersebut dengan pentingnya pendidikan agama yang mampu menjawab persoalan sosial. Dalam pandangan Gus Dur, pendidikan agama tidak cukup hanya mengajarkan simbol dan formalitas keagamaan, tetapi juga harus melahirkan kepedulian terhadap sesama manusia.
“Buat apa marah ketika agama dihina, tetapi membiarkan tetangga kelaparan? Bagi Gus Dur, pendidikan harus memanusiakan manusia,” ujarnya.
Suasana diskusi berlangsung cair dan partisipatif. Moderator Naufal Muzakki membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi peserta untuk menanggapi tulisan maupun pemaparan pemantik. Ia menegaskan bahwa pembahasan pendidikan ala Gus Dur tidak terbatas hanya pada perspektif Islam semata.
Peserta dari latar belakang agama lain, seperti Katolik dan Protestan, dipersilakan membagikan pengalaman pendidikan agama dalam tradisi masing-masing. Ajakan itu disambut hangat oleh peserta yang kemudian saling bertukar cerita mengenai pengalaman belajar di komunitas, ruang keagamaan, hingga kehidupan sehari-hari.
Beberapa peserta menceritakan bagaimana nilai-nilai pendidikan justru banyak diperoleh melalui interaksi sosial, kegiatan komunitas, dan pengalaman lintas budaya. Diskusi pun berkembang menjadi ruang refleksi bersama mengenai pendidikan yang tidak eksklusif, melainkan terbuka terhadap keberagaman pengalaman hidup.
Dalam tulisan Pendidikan Islam Harus Beragam, Gus Dur memang menegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki banyak bentuk, baik formal maupun nonformal. Ia menyebut pengajian, arisan, tradisi selawatan, hingga kehidupan sosial masyarakat sebagai bagian penting dari pendidikan Islam yang tidak dapat diabaikan.
Gus Dur juga mengingatkan bahwa keberagaman model pendidikan merupakan kenyataan sosial yang harus diterima. Menurutnya, memaksakan satu model pendidikan yang seragam justru akan mempersempit cara pandang terhadap pendidikan Islam itu sendiri. (SDH)