Sastra

Satu Liter Bensin

Suhu udara siang itu cukup panas. Membuat dahi penuh peluh. Tapi aku harus menerjangnya. Siang itu aku pulang ke rumah. Selesai belanja snack kesukaan Istri aku langsung menuju kamar. Panasnya matahari itu bukan satu-satunya cerita yang kubawa untuknya. Satu cerita, yang agak memilukan juga kubawa masuk ke rumah saat itu. 

“Tadi aku kan pergi belanja, nih,” timpalku sekonyong-konyong sembari menaruh plastik berisi makanan ringan itu di atas meja kerja. Meja yang membantu kami saat membawa pulang kerjaan belum kelar dari kantor ke rumah. 

“Terus?” Jawab Istriku agak acuh, dengan pandangan fokus ke laptop, mengetik kerjaannya. 

“Aku sempat kaget saat beli bensin di depot yang … di dekat rumah kita ini. Di sana, tuh,” telunjukku mengarah ke barat. Dia menoleh melihat arah yang kutunjuk. Lalu kembali menghadap laptop. 

“Yang mana sih itu?” tanyanya singkat. Tombol keyboard laptop berketukan dengan jarinya menimbulkan nada yang saling berirama. 

“Di depot sana, seorang pria tua dengan jalannya agak pincang yang jualan,” aku mengambil posisi untuk duduk di pinggir kasur. Meja kerja itu sengaja ditaruh dalam kamar, biar gampang kerja lalu tidur. Letaknya berdekatan dengan kasur. Selangkah saja langsung sampai. 

“Oh, iya. Itu Aba Busi. Masih jadi keluarganya Papa,” jawabnya sambil memutar kursi kerja menghadapku yang ada di belakangnya. 

“Namanya lucu ya. Seperti nama komponen di motor,“ kujawab dengan tertawa kecil. 

“Tapi tidak begitu lucu dengan kondisinya sekarang. Beberapa tahun lalu ia terkena stroke, yang buatnya agak sulit mengucap dan jalan jadi pincang,” air mukanya sedih mengucapkan itu. Aku pun terdiam. Menyesali tawa yang terlepas tadi. 

“Maaf. Aku tidak tahu kalau dia jadi begitu karena kena stroke,” gumamku pelan. 

“Terus, ada apa dengan Aba Busi?” tanyanya dengan nada serius. 

“Oh iya. Aku hampir lupa soal yang itu. Begini ceritanya. Tadi aku mau isi bensin. karena dekat dengan rumah, jadi aku singgah beli di situ. Tapi tiba-tiba Aba Busi bertanya ke aku. ‘Bukan kamu yang tidak bayar bensin tadi?’ begitu dia bilang. Lantas aku kaget. Kok, aku yang dituduh begitu. Padahal ini kali pertama aku mengisi bensin di tempatnya itu,” 

“Terus kamu bilang apa?” tanyanya sembari kembali pada kerjaannya. Jarinya kembali menari di atas keyboard

“Tentu saja aku bilang kalau aku baru sampai di depotnya. Terus aku bilang kalau rumah kita dekat dengan depotnya jualan, dan aku juga adalah suamimu. Untungnya,  ia langsung mengenalimu. Terus dia bilang, tadi ada yang isi bensin di depot, tapi saat ia masuk ke warung, mengambil uang kembalian pria itu sudah hilang. Pergi tanpa membayar,” nada suaraku menelan di akhir cerita itu. Aku duduk menunduk di pinggiran kasur yang menenggelamkan bokong. Keheningan menjeda kami. 

“Ya Allah. Kasihan Aba Busi. Siapa orang yang tega melakukan hal itu,” suaranya sedikit gemetar. Ada rasa bersalah yang menghantam dalam hatiku. Mengapa tidak memberikannya uang dua belas ribu, ongkos kerugian seliter bensin, gumamku dalam batin. 

*** 

“Aba Busi itu tinggal bersama anak dan cucunya,” tutur Ibu Mertua mengisahkan hidup pria itu. 

“Waktu muda dulu, ia sangat baik dengan orang-orang. Tanpa pamrih ia membantu yang kesulitan. Beberapa kali ia membantu ketika Papanya Putri panen padi. Dia pasti ikut turun ke sawah bersama para buruh tani yang kami sewa,” sambungnya mengenang masa lalu. 

“Sayang, Papanya Putri sudah meninggal. Sawah juga sudah tiada. Kalau masih hidup pasti mereka akan saling bantu. Sebab mereka itu adalah keluarga, sepupuan. Apalagi melihat kondisi Aba Busi sekarang. Memprihatinkan,” suaranya lirih. 

“Satu-satunya yang ia bisa kerjakan sekarang yaitu jaga depot bensin eceran. Keluarganya memodali semua peralatannya.” 

“Tapi, kasihan melihat orang tua kerja begitu. Apalagi dengan kondisi yang sulit berjalan. Orang jadi menunggu lama untuk dilayani saat beli bensin,” timpalku mendadak. 

“Memang kasihan melihat orang tua bekerja dengan kondisi begitu. Tapi, apa boleh buat? Keluarga mereka serba kekurangan. Dia sendiri pernah bilang ingin membantu keluarga dengan cara apa pun. Karena menurutnya, ia masih kepala keluarga,” sambung Ibu Mertua menyahut pertanyaanku. 

“Tapi bagaimana bisa ya, ada orang yang berbuat begitu. Apa dia tidak kasihan melihat Aba Busi saat beli bensin, kemudian membuatnya jadi rugi begitu,” ternyata Istriku ikut mendengarkan cerita Aba Busi yang bekerja dengan kondisi setelah stroke itu. Menurutnya, pria yang tidak membayar yang salah. Tidak punya nurani dan moralnya rendah. 

Mungkin Istriku ada benarnya. Tapi menurutku ia tidak sepenuhnya benar. Di tengah kondisi ekonomi yang lesu ini semua hal bisa terjadi. Orang kaya menghisap orang miskin. Orang miskin saling menipu. Anak memanfaatkan orang tua. Masih banyak lagi kemerosotan moral yang bisa terjadi sebab ekonomi. 

Bahkan beberapa waktu lalu, di Provinsi Gorontalo—yang kerap disebut “Serambi Madinah”—terjadi peningkatan kasus bunuh diri. Dari berita kala itu, sebagian besar kasus bunuh diri itu karena faktor ekonomi. Ada yang penyebabnya kecanduan judi online, di akhir hayatnya terlilit utang sehingga memilih jalan menghabisi hidupnya. Tapi pikiran ini kusimpan sendiri. Aku tidak mau cerita melebar dan membuat momen makan siang ini jadi rusak. Sebab, menurutku makan siang adalah waktu kita untuk istirahat dari dunia yang penuh hiruk pikuk ini. Siapa pun itu, juga merasa seperti itu. Dunia serasa berhenti kala makan siang. 

Aku menyantap dengan lahap ikan goreng garo rica yang dihidangkan siang itu. Cerita tadi membuat perutku lapar. Istri dan Ibu Mertua juga makan bersama-sama. Kami duduk dengan khusyuk menikmati rezeki Tuhan hari itu. 

“Alhamdulillah, kita masih bisa makan enak hari ini,” ucap Ibu Mertua dengan nada riang, sembari mengusap wajah dengan kedua tangan. Ia mengangkat piring bekas makannya dan mengantarkan ke tempat piring kotor. 

Aku dan Istri juga selesai makan. Piring-piring kotor itu aku antar menumpuk bersama teman-temannya. Kami masuk kembali ke kamar. Istri melanjutkan kerjaannya. Aku karena senggang, kuambil sebuah buku di pinggir kasur dan membaca beberapa halaman. Siang hari di akhir pekan itu berjalan dengan normal hingga malam tiba. 

*** 

Paginya, sebelum berangkat kerja aku singgah di depot bensin ecer Aba Busi. Yang jaga bukan Aba Busi, tapi orang lain. Aku mengisi motor yang aku kendarai dengan satu liter bensin. Kusodorkan lembaran dua belas ribu. Katanya, bensin sudah naik jadi tiga belas ribu. 

“Wah, sudah naik harganya, ya?” ujarku agak kaget. 

“Iya. Soalnya kami tidak bisa lagi mengantri di pertamina membawa jerigen. Sudah ada larangannya. Jadi kami terpaksa titip bensin sama kenalan yang tangki motornya dimodifikasi,” sahutnya. 

“Waduh. Jadinya seperti beli bensin dari pihak ketiga begitu?” tanyaku dengan nada polos namun agak bercanda, dengan senyum tipis. 

“Bisa dibilang seperti itu. Kami terpaksa menaikkan harga bensin,” tangannya sibuk mengisi bensin lewat lubang tangki. 

“Oh iya, kalau begitu, pak. Aba Busi yang biasa jaga ke mana, ya?” tanyaku padanya. Sedari tadi pria itu tidak terlihat. Biasanya pagi-pagi sekali pukul setengah enam ia sudah duduk menunggu pembeli. 

“Dia lagi tidak sehat. Akhir-akhir ini semakin sulit jalan,” 

Aku terkejut mendengar kabar itu. Mendadak, terbesit niat untuk memberikan dua belas ribu kerugian bensin Aba Busi kemarin. Tapi aku membatin dengan logika tanggung jawab moral. Kenapa mesti aku yang membayar kesalahan orang lain. Bukankah dia yang harus menanggung kesalahannya sendiri. 

Sudahlah. Berikan saja,” suara dari batin terus menggoda. 

Oke. Akan kuberikan!” jawabku pada suara hati itu. 

“Ini, Pak,” tanganku menyodorkan lagi dua belas ribu. 

“Ini apa, ya, Pak ?” wajahnya heran. Ia mengernyitkan kening. Tapi tangannya sedikit menjulur hendak menerima uang itu. 

“Kemarin Aba Busi bilang ada orang yang beli bensin tapi tidak bayar. Dan saat itu, saya yang mendengar hal itu merasa iba, dan juga ada rasa bersalah. Kenapa tidak membantunya,” kutarik pelan tangannya dan menyelipkan uang itu. 

“Tapi bukan bapak yang salah. Kenapa kasih uang ini?” 

“Iya, tidak apa pak. Saya ikhlas. Terima saja, Pak.” 

“Oh iya, Pak. Makasih, ya.” 

“Sama-sama, Pak.” 

Setidaknya aku sudah melepaskan tekanan batin yang terus menggoda dari kemarin. Moral yang lahir dari berbagai buku yang kubaca ini harus kujaga. Aku tidak bisa membohongi diri bahwa aku tidak peduli. Memang benar yang beredar di internet. Warga memang harus bantu warga. Harapan terhadap pemerintah untuk memperdulikan hal kecil begini mustahil. Mereka sibuk mengurusi hal-hal besar. Peperangan antar negara, Kelangkaan BBM, Pengangguran yang makin banyak, dan banyak masalah sosial-ekonomi lagi yang mereka perlu urus. Biarlah kami saling peduli. 

Setidaknya, biar ada tabungan kecil pahala untuk dibawa nanti di akhirat dengan hal-hal sepele seperti ini,” bisikku dalam batin. 

Motor melesat di atas aspal. Aku berangkat ke kantor tanpa beban batin lagi, dan berharap agar Aba Busi bisa sehat kembali dan beraktivitas seperti biasa.

Kota Gorontalo, Mei 2026. 

Fadhil Hadju

Penggerak Komunitas GUSDURian Gorontalo.